Di balik dinding rumah yang tampak hangat, krisis kesehatan mental dapat menjadi beban tak kasatmata yang dirasakan bersama oleh anak, remaja, hingga orang tua. Laporan The State of the World’s Children 2021: On My Mind yang diterbitkan UNICEF pada 2021 menunjukkan bahwa satu dari tujuh remaja di dunia hidup dengan gangguan emosional. Pada usia tersebut, sebagian besar remaja masih tinggal bersama keluarga, yang idealnya menjadi tempat aman untuk pulang, bertumbuh, dan memperoleh dukungan. Karena itu, keluarga sebagai kelompok sosial pertama tempat individu bernaung memiliki peran penting dalam membentuk dan menjaga kesehatan mental setiap anggotanya.
Berita CPMH
Hampir setiap orang yang mengalami situasi darurat atau krisis akan merasakan tekanan psikologis, meskipun sebagian besar dapat pulih seiring waktu apabila memperoleh dukungan yang tepat. Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan Psychological First Aid (PFA) sebagai bentuk dukungan awal yang bersifat manusiawi, suportif, dan praktis bagi individu yang sedang mengalami tekanan akibat peristiwa krisis. PFA tidak dimaksudkan sebagai terapi, melainkan pertolongan pertama psikologis yang membantu seseorang merasa lebih aman, tenang, serta terhubung dengan bantuan yang dibutuhkan.
Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas diri. UNICEF menekankan bahwa kesehatan mental yang baik membantu remaja belajar secara optimal, membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, serta mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Oleh karena itu, penguatan konsep diri dan ketahanan psikologis menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang remaja, terutama ketika memasuki lingkungan pendidikan yang baru dan menghadapi berbagai tantangan akademik maupun sosial.
Penggunaan gadget dan media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari remaja di seluruh dunia. Namun, laporan terbaru World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah pada remaja meningkat dari 7% pada tahun 2018 menjadi 11% pada tahun 2022. Laporan yang melibatkan hampir 280.000 remaja di 44 negara tersebut juga menemukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan menurunnya kesejahteraan mental dan sosial, serta meningkatnya risiko kecemasan, depresi, hingga penurunan prestasi akademik. Kondisi ini menunjukkan pentingnya meningkatkan literasi digital agar remaja mampu memanfaatkan teknologi secara sehat, kritis, dan bertanggung jawab.
Budaya senioritas yang tidak sehat masih menjadi salah satu tantangan di lingkungan pendidikan berasrama. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berulang kali mengingatkan pentingnya mencegah segala bentuk kekerasan dan perundungan yang kerap berakar pada relasi senior-junior yang tidak setara. Oleh karena itu, penguatan keterampilan mengelola konflik dan berkomunikasi secara sehat menjadi salah satu upaya penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan peserta didik.
Sebagai moderator acara yaitu Direktur CPMH Ibu Dr. Diana Setiyawati, sukses memandu acara dari awal hingga akhir sesi pertama diikuti kurang lebih 400 peserta secara daring melalui WEBEX. Peserta The Online Summer Lecture Series memiliki latar belakang yang beragam seperti mahasiswa, dosen, psikolog, karyawan, hingga ibu rumah tangga. Acara ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga siapapun bisa mengikuti kegiatan ini.
Sesi pertama dari The Online Summer Lecture Series tanggal 20 Juli 2020, diisi oleh Ruth Wraith. Wraith adalah Dosen di University Of Melbourne, Australia dan juga seorang ahli dalam bidang anak-anak, keluarga, dan trauma anak-anak dalam pemulihan bencana. Selain itu, ia juga salah satu pelapor dan pelatih internasional mengenai masalah pemulihan pasca bencana. Pada saat bencana Tsunami Aceh tahun 2004 Wraith pernah menjadi penasihat kesehatan mental. Materi yang disampaikan adalah
Understanding COVID-19 as a disaster: reframing pandemics to gain strength
Day 1
Saturday, 23 September 2017
| Time | Agenda | Speakers |
| 08.30-09.00 | Welcome and Introduction to the Workshop | Chair: Dr. Rahmat Hidayat
|
| 09.00- 09.30 | Riskesdas Pasung Data |
|
| 09.30-10.00 | Pasung data from provincial IBP programs |
|
| 10.00-10.30 | Morning Break | |
| 10.30-11.15 | The Ministry of Health Indonesia Bebas Pasung program |
|
| 11.15-12.00 | The Ministry of Social Affairs Gerakan Stop Pemasungan program |
|
| 12.00-13.00 | Lunch Break | |
| 13.00-15.00 | Panel Discussion
|
Moderator: Dr. Rahmat Hidayat
|
| 15.00-15.30 | Afternoon Break | |
| 15.30-17.00 | Panel Discussion Lessons learned from the Yogyakarta Bebas Pasung policy and program |
Moderator: Dr. Diana Setiyawati
|
| 17.00-18.00 | Breaking the Chains: documentary movie for free pasung advocacy |
|
| 18.00-18.30 | Break | |
| 18.30-19.00 | Breaking the Chains: documentary movie for free pasung advocacy (cont.) |
|
Day 2
Sunday, 24 September 2017
| Time | Agenda | Speakers |
| 08.30-09.45 | Good health and social policy – implementation challenges and opportunities |
|
| 09.45-10.30 | Technical workshop / Small group discussions Policy and Program Successes
|
Facilitators
|
| 10.30–11.00 | Break | |
| 11.00-12.30 | Technical workshop / Small group discussions Policy and Program Challenges and Failures
|
Facilitators
|
| 12.30-13.30 | Lunch Break | |
| 13.30-15.00 | Technical workshop / Small group discussions What needs to be done to accelerate implementation, at national and provincial levels, of Indonesia Bebas Pasung, Gerakan Stop Pemasungan, and Provincial Bebas Pasung programs in the following areas?
|
Facilitators
|
| 15.00-15.30 | Afternoon Break | |
| 15.30-16.30 | Presentations by small groups of discussions and conclusions | Facilitators
|
| 16.30-17.00 | General discussion | |
| 17.00 | Workshop Close and Farewell | Dr. Rahmat Hidayat |

Mental health disorders have become a world-wide problem as a result of its contribution to the current and predicted global burden in the future. However, huge treatment gap in most countries, especially lower-middle-income countries, is still evident, reflecting the poor concern of the government in regards to the issue. Many countries world-wide take mental health issues as a non-priority, which leaves advocacy in mental health system development to walk a long journey ahead.
International Short Course on Advocacy Skills in Mental Health System Development: from Research to Policy is a 2 weeks course designed to answer the need for advocacy skill training in developing mental health system.
This course is intended for students (undergraduate, post-graduate, doctoral), researchers, mental health professionals (psychiatrist, psychologist, mental health nurse, GP, and other clinicians) as well as policy makers from any countries world-wide who have concern in the development of mental health system.
This course materials will be delivered by experienced experts in the area of mental health system advocacy. It will also include small group works, discussions, as well as field trip to local community-based mental health rehabilitation facility.
Education – Indonesia
Hans is currently engaged in a research project on the history of medicine in the Dutch East Indies and Indonesia. He currently focuses on the roles Indonesian physicians have played in the social, cultural, and political movements in the Dutch East Indies and Indonesia in the 1950s. He is also researching the nature of Indonesian herbal medicine or jamu and the way it relates to modern medicine.
http://sydney.edu.au/science/people/hans.pols.php



