Pentingnya pengasuhan yang baik tercermin dalam data UNICEF yang menunjukkan bahwa sekitar empat dari sepuluh anak usia 2–4 tahun di dunia belum mendapatkan interaksi responsif atau stimulasi yang cukup di rumah. Selain itu, lebih dari 80 juta anak usia 2–4 tahun, atau sekitar satu dari lima anak secara global, tidak bermain bersama pengasuhnya di rumah. Padahal, interaksi melalui bermain, berkomunikasi, dan memberikan respons terhadap kebutuhan anak merupakan bagian penting dalam mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Hal ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang menekankan pentingnya responsive caregiving, yaitu kemampuan orang tua atau pengasuh untuk memahami dan merespons kebutuhan anak secara tepat.
orang tua
Melihat data diatas, beberapa penelitian juga menunjukkan hasil serupa yang mengindikasikan bahwa stres merupakan salah satu gangguan jiwa yang paling umum bahkan dapat dirasakan siapa saja (Banerjee & Chatterjee, 2016), tanpa memperhatikan jenis kelamin, umur, maupun perkembangan individu tersebut. Stres dan gangguan mental lainnya juga dapat dirasakan oleh siswa yang masih duduk di bangku sekolah, apabila beban yang mereka bawa lebih besar dibanding kapasitas mereka untuk menopang beban tersebut. Berbagai kasus di lapangan menunjukkan bahwa beban akademik telah terbukti menjadi salah satu faktor yang berpotensi untuk mengganggu kesehatan mental siswa sekolah. Untuk itu, sangat penting agar sekolah dapat menerapkan kebijakan yang menjaga tidak hanya kesejahteraan lahir dan batin para siswa, namun juga komponen-komponen pendidikan lainnya.
Mengenal Sekolah Sejahtera
School-based mental health services