Keluarga idealnya menjadi ruang yang memberikan rasa aman bagi setiap anggotanya untuk bertumbuh, beristirahat, dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi tekanan. Namun, keluarga juga dapat menjadi ruang terjadinya kekerasan apabila relasi di dalamnya tidak dibangun dengan aman. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat 1.152 korban kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani jejaring layanan sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, 43% merupakan kasus kekerasan dalam rumah tangga, dengan kekerasan terhadap istri menjadi jenis kekerasan yang paling banyak tercatat, yaitu 421 korban.
Kegiatan Lain
Kesehatan mental merupakan isu global yang membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada layanan klinis, tetapi juga mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan pengalaman hidup individu. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa pada 2023 hampir 1,2 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental, sementara sebagian besar belum memperoleh akses terhadap layanan yang efektif. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan sistem dukungan kesehatan mental yang dapat menjangkau kebutuhan individu dalam konteks kehidupan dan komunitasnya.
Kelompok usia 15–24 tahun menjadi kelompok dengan prevalensi depresi tertinggi di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, yaitu sebesar 2 persen. Pada kelompok yang berstatus sebagai mahasiswa, proporsi depresi tercatat sebesar 2,1 persen. Data tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental pada masa transisi menuju dan selama menjalani pendidikan tinggi.
Kemampuan menulis merupakan salah satu keterampilan yang penting bagi mahasiswa, terutama dalam mendukung kegiatan akademik. Selama menjalani perkuliahan, menulis menjadi bagian dari keseharian mahasiswa, baik dalam mengerjakan tugas akademik maupun menyampaikan gagasan secara tertulis.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut intervensi psikologis berbasis bukti sebagai bagian penting dari layanan kesehatan, sosial, perlindungan, dan pendidikan. WHO juga mencatat bahwa banyak intervensi psikologis telah memiliki bukti efektivitas pada berbagai konteks dan populasi. Sementara itu, American Psychological Association (APA) menempatkan evidence-based practice in psychology sebagai integrasi antara bukti penelitian terbaik yang tersedia, keahlian klinis, serta karakteristik, budaya, dan preferensi individu yang menerima layanan.
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membawa perubahan pada cara anak belajar, berinteraksi, dan memperoleh informasi. UNICEF menyoroti bahwa perkembangan AI menghadirkan peluang sekaligus risiko baru bagi anak, termasuk dalam proses belajar dan kehidupan sosial mereka. Karena itu, pemanfaatan AI dalam pendidikan perlu disertai pendampingan agar teknologi tetap mendukung perkembangan anak secara utuh.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi di Indonesia tercatat sebesar 1,4%, dengan prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok usia muda 15–24 tahun, yaitu sebesar 2%. Data tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap lingkungan terdekat anak dan remaja, termasuk keluarga, dalam mendukung kesehatan mental serta kemampuan mereka menghadapi berbagai tekanan selama masa perkembangan.
Indonesia memiliki sekitar 46 juta remaja atau sekitar 17% dari total populasi. Dalam laporan WHO tahun 2024, gangguan kecemasan termasuk salah satu penyebab utama disability-adjusted life years (DALYs) pada remaja di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan yang dapat membantu remaja menghadapi berbagai tekanan selama masa perkembangannya, termasuk dukungan yang hadir dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.
Sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian, dengan angka yang lebih tinggi pada kelompok anak muda, yaitu sekitar satu dari lima orang. World Health Organization (WHO) menekankan bahwa keterhubungan sosial memiliki peran penting bagi kesehatan dan kesejahteraan, sementara kesepian dan keterasingan sosial dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk depresi dan kecemasan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya keberadaan lingkungan dan jejaring dukungan yang mampu membuat seseorang merasa didengar, terhubung, dan tidak menghadapi masalah seorang diri.
Perkembangan teknologi digital telah menjadi bagian yang semakin tidak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Di Indonesia, hampir seluruh anak telah terhubung dengan internet. Data UNICEF menunjukkan bahwa 99,4 persen anak di Indonesia menggunakan internet, dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai 5,4 jam per hari. Di sisi lain, pemanfaatan ruang digital juga menghadirkan sejumlah tantangan. Kajian UNICEF terhadap anak dan orang tua di Indonesia menemukan bahwa 42 persen anak pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman daring, sementara hanya 37,5 persen anak yang pernah memperoleh informasi mengenai cara menjaga keamanan saat menggunakan internet.