Cerebral palsy (CP) merupakan salah satu kondisi yang dapat memengaruhi perkembangan gerak, postur, komunikasi, hingga aktivitas sehari-hari anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan prevalensi cerebral palsy secara global berada pada kisaran 1,5 hingga lebih dari 4 kasus per 1.000 kelahiran hidup, dengan angka keseluruhan sekitar 2 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang pernah dilaporkan menunjukkan prevalensi cerebral palsy sebesar 0,09% pada anak usia 24–59 bulan. Meskipun demikian, data mengenai cerebral palsy di Indonesia masih terbatas sehingga dukungan yang melibatkan keluarga dan lingkungan sosial menjadi penting untuk membantu anak berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan pelatihan bagi volunteer program SHINE (Spirit of Hope, Inclusion, Nurturing Equality) sebagai bagian dari persiapan pendampingan keluarga dengan anak cerebral palsy. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 25 Juli 2026, pukul 13.00–16.30 WIB di Gedung Pusat Antar Universitas (PAU) UGM ini menjadi tahap awal sebelum para volunter terlibat secara langsung dalam proses pendampingan keluarga.
Program SHINE melibatkan siswa-siswi SMP dan SMA dari sekolah negeri maupun swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebanyak 48 volunteer akan terlibat dalam pendampingan terhadap 18 keluarga dengan anak cerebral palsy yang tergabung dalam Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP). Pelatihan dirancang untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dasar kepada volunter sebelum berinteraksi langsung dengan keluarga. Pembekalan tersebut penting karena setiap anak dengan cerebral palsy memiliki kondisi dan kebutuhan yang beragam. Di sisi lain, proses pengasuhan juga dapat menghadirkan berbagai tantangan bagi keluarga, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.
Kegiatan diawali dengan sesi berbagi pengalaman bersama keluarga dengan anak cerebral palsy. Melalui sesi ini, para volunter mendapatkan kesempatan untuk mendengar secara langsung pengalaman keluarga dalam menjalani keseharian, termasuk berbagai tantangan dalam merawat dan mendampingi anak. Sesi tersebut menjadi ruang belajar bagi volunter untuk memahami bahwa pencapaian yang terlihat sederhana bagi sebagian orang dapat menjadi proses yang panjang dan bermakna bagi anak dan keluarganya.
“Impian itu bertahap,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan oleh Ashari, orang tua dari anak berusia 17 tahun dengan cerebral palsy, dalam sesi berbagi pengalaman. Pesan tersebut menggambarkan pentingnya melihat perkembangan anak secara bertahap dan menghargai setiap kemajuan yang dicapai, sekecil apa pun.
Setelah sesi berbagi pengalaman, pelatihan dilanjutkan dengan materi mengenai Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) dan teknik komunikasi dengan keluarga yang disampaikan oleh Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus Direktur Center for Public Mental Health (CPMH).

Melalui materi tersebut, volunteer dibekali pemahaman mengenai cara memberikan respons awal ketika menemukan keluarga yang sedang menghadapi tekanan emosional, sekaligus memahami batasan peran mereka dalam memberikan dukungan. Volunter juga belajar membangun komunikasi yang empatik agar kehadiran mereka dapat menjadi ruang yang aman bagi keluarga untuk berbagi.
“Volunteer tidak harus datang untuk menyelesaikan semua kesulitan keluarga dengan anak CP. Kehadiran mereka diharapkan dapat membantu meringankan dan menumbuhkan harapan bagi keluarga yang dikunjungi,” ujar Diana Setiyawati.
Pembekalan tidak berhenti pada penguatan keterampilan individu. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan team bonding bersama kelompok masing-masing. Para volunter berkumpul dengan anggota tim untuk saling mengenal, membangun kedekatan, serta menyusun identitas kelompok melalui pembuatan nama tim dan jargon. Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan agar para volunteer dapat bekerja secara kolaboratif selama proses pendampingan keluarga.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari penerjunan kedua program SHINE dalam memberikan pendampingan kepada anak dengan cerebral palsy. Pada penerjunan kali ini, sebanyak 48 siswa-siswi remaja akan terlibat dalam rangkaian pendampingan selama tujuh kali pertemuan. Dalam proses tersebut, para volunter akan melakukan observasi dan wawancara bersama keluarga untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan anak sebagai dasar dalam memberikan stimulasi yang sesuai, khususnya pada aspek literasi, numerasi, dan bahasa.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, volunteer SHINE diharapkan tidak hanya memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga kesiapan untuk hadir sebagai bagian dari jejaring dukungan bagi keluarga. Bagi keluarga dengan anak cerebral palsy, dukungan tidak hanya diperlukan dalam bentuk intervensi, tetapi juga melalui lingkungan yang mampu memahami kebutuhan, menghargai setiap proses perkembangan, dan menumbuhkan harapan.
Pada akhirnya, semangat “impian itu bertahap” yang disampaikan dalam sesi berbagi pengalaman menjadi salah satu landasan penting dalam perjalanan SHINE. Setiap anak memiliki proses perkembangan yang berbeda, dan setiap kemajuan layak dihargai. Melalui keterlibatan para volunter, SHINE berupaya menghadirkan ruang pendampingan yang tidak hanya membantu anak mengembangkan potensinya, tetapi juga menguatkan keluarga agar tidak menjalani proses tersebut sendirian.
Penulis: Lu’luul Jannah
Editor: Nurul Hidayati