• Tentang CPMH
  • Media
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Psikologi
Center for Public Mental Health
  • TENTANG KAMI
    • TENTANG CPMH
    • Visi dan Misi
    • LANGKAH GERAK
    • MITRA
    • Tim Kami
  • AKTIVITAS
    • Advokasi
    • Kuliah Online (Kulon)
    • Mindtenance
    • Mindspiration
    • LAIN-LAIN
  • SUMMER COURSE
    • 2026
    • 2025
    • 2024
    • 2023
    • 2017-2022
  • ARTIKEL PSIKOEDUKASI
  • E-LIBRARY
  • Beranda
  • Kegiatan Lain
  • Ngobrolin Daycare: CPMH Psikologi UGM Bahas Pengawasan Daycare dari Australia

Ngobrolin Daycare: CPMH Psikologi UGM Bahas Pengawasan Daycare dari Australia

  • Kegiatan Lain, Pengabdian Kepada Masyarakat, Rilis
  • 18 May 2026, 15.41
  • Oleh: admin
  • 0

Rabu, 13 Mei 2026, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Ngobrolin Daycare: Belajar Pengawasan Daycare dari Australia” secara daring melalui platform Zoom. Kegiatan yang berlangsung pukul 15.30–17.30 WIB ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari beragam latar belakang profesi dan berbagai wilayah di Indonesia, bahkan hingga luar negeri. Antusiasme tinggi ini menunjukkan bahwa isu daycare dan pengasuhan anak semakin menjadi perhatian penting di tengah perubahan sosial masyarakat modern.

Webinar ini menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi, yaitu Arif Nasiruddin, S.Psi., M.A., dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY; Dr. Mustikaningtyas, S.Psi., M.P.H., dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY; serta Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog dari Fakultas Psikologi UGM.

Dalam pemaparannya, Arif Nasiruddin menekankan bahwa meningkatnya keterlibatan perempuan di dunia kerja telah menjadikan daycare sebagai kebutuhan nyata bagi banyak keluarga Indonesia.

“Ketika perempuan masuk ke ranah publik dan harus bekerja, bahkan karena perubahan struktur masyarakat yang berdampak pada bagaimana keluarga memenuhi kebutuhannya, maka mau tidak mau perempuan banyak yang harus bekerja. Ketika dalam suatu keluarga suami dan istri sama-sama bekerja, daycare menjadi suatu kebutuhan. Kita harus pahami bahwa ini menjadi suatu kebutuhan,” jelas Arif.

Pernyataan ini menegaskan bahwa daycare bukan sekadar alternatif pengasuhan, melainkan bagian dari dukungan sosial yang perlu disiapkan untuk menjawab dinamika keluarga masa kini.

Mustikaningtyas turut menyoroti bahwa peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan membawa konsekuensi logis terhadap kebutuhan fasilitas pengasuhan anak yang aman dan berkualitas. “Memang ada tren partisipasi angkatan kerja perempuan itu meningkat, sehingga ada konsekuensi logis. Salah satunya adalah orang tua harus bekerja, dan juga harus menitipkan anaknya agar orang tua bisa bekerja dengan tenang dan anak juga dapat terjamin dalam pengasuhannya,” paparnya.

Ia juga menambahkan pentingnya meninjau regulasi yang sudah ada, termasuk Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sebagai dasar penyediaan fasilitas kesejahteraan pekerja, termasuk dukungan pengasuhan anak.

Sementara itu, Diana Setiyawati membagikan pengalaman praktik pengelolaan family daycare di Australia yang menekankan standar keamanan dan pengawasan ketat. “Kami menunggu lama untuk discan di seluruh dunia, apakah orang ini pernah melakukan child abuse. Kami juga perlu mengikuti first aid qualification training dan ini harus diperbarui setiap tahun,” ungkap Diana.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kualitas daycare memerlukan sistem seleksi, pengawasan, serta pembaruan kompetensi yang serius demi menjamin perlindungan optimal bagi anak.

Melalui webinar ini, CPMH menegaskan bahwa diskusi tentang daycare bukanlah upaya mencari siapa yang bersalah atas kasus-kasus viral yang belakangan terjadi, melainkan ajakan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, perusahaan, penyedia layanan, tenaga profesional, dan keluarga perlu berkolaborasi untuk menghadirkan fasilitas daycare yang aman, berkualitas, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, CPMH berharap masyarakat semakin memahami urgensi sistem daycare yang terstandar, terawasi, dan berpihak pada kesejahteraan anak serta keluarga Indonesia.

Penulis: Nurul Hidayati

Tags: CPMH Daycare kesehatan mental SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDGs

Berita Terbaru

  • Bersama Kemenkes dan UNICEF, CPMH Psikologi UGM Perkuat Peran Guru BK di NTT dalam Menangani Kesehatan Jiwa Remaja
  • CPMH UGM Gelar Workshop CBT untuk Berbagai Konteks, dari Keluarga hingga Dunia Kerja
  • Kesehatan Jiwa Anak Dimulai dari Keluarga, CPMH UGM Dorong Penguatan Kebijakan
  • Peran Mental Health Agent dalam Pencegahan Bunuh Diri dan Dukungan Kesehatan Mental Mahasiswa
  • Kesehatan Jiwa di Gunungkidul Jadi Perhatian, CPMH Fakultas Psikologi UGM Dorong Penguatan TPKJM
Universitas Gadjah Mada

Center for Public Mental Health
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Gedung D Lantai 6 Ruang D-603
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
Email: cpmh@ugm.ac.id
Telepon: +62 274 550435 ext. 145
WhatsApp/sms: +62 8132 739 5698

Media Sosial:
Instagram: @cpmhugm

X: @cpmhugm
Facebook: CPMH Psikologi UGM
Threads: @cpmhugm
LinkedIn: Center for Public Mental Health UGM
YouTube: CPMH Psi UGM

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY