Sekolah memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mental peserta didik karena menjadi lingkungan tempat mereka belajar, berkembang, dan berinteraksi setiap hari. UNESCO melalui Global Status Report on School Health and Nutrition 2025 menekankan bahwa sekolah perlu menjadi lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung kesejahteraan peserta didik melalui kolaborasi seluruh warga sekolah, keluarga, dan komunitas. Oleh karena itu, penguatan kapasitas tenaga pendidik, termasuk guru Bimbingan dan Konseling (BK), menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun sistem dukungan kesehatan mental di sekolah.
Pengabdian Kepada Masyarakat
Generasi Z kini menjadi kelompok usia yang mendominasi lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 27,94% penduduk Indonesia merupakan Generasi Z, yaitu mereka yang lahir pada periode 1997–2012. Sebagai generasi yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, mereka memiliki karakteristik, gaya belajar, serta pola komunikasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kondisi ini mendorong pendidik untuk terus mengembangkan strategi pembelajaran yang adaptif agar proses belajar tetap efektif sekaligus mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Hampir setiap orang yang mengalami situasi darurat atau krisis akan merasakan tekanan psikologis, meskipun sebagian besar dapat pulih seiring waktu apabila memperoleh dukungan yang tepat. Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan Psychological First Aid (PFA) sebagai bentuk dukungan awal yang bersifat manusiawi, suportif, dan praktis bagi individu yang sedang mengalami tekanan akibat peristiwa krisis. PFA tidak dimaksudkan sebagai terapi, melainkan pertolongan pertama psikologis yang membantu seseorang merasa lebih aman, tenang, serta terhubung dengan bantuan yang dibutuhkan.
Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas diri. UNICEF menekankan bahwa kesehatan mental yang baik membantu remaja belajar secara optimal, membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, serta mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Oleh karena itu, penguatan konsep diri dan ketahanan psikologis menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang remaja, terutama ketika memasuki lingkungan pendidikan yang baru dan menghadapi berbagai tantangan akademik maupun sosial.
Penggunaan gadget dan media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari remaja di seluruh dunia. Namun, laporan terbaru World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah pada remaja meningkat dari 7% pada tahun 2018 menjadi 11% pada tahun 2022. Laporan yang melibatkan hampir 280.000 remaja di 44 negara tersebut juga menemukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan menurunnya kesejahteraan mental dan sosial, serta meningkatnya risiko kecemasan, depresi, hingga penurunan prestasi akademik. Kondisi ini menunjukkan pentingnya meningkatkan literasi digital agar remaja mampu memanfaatkan teknologi secara sehat, kritis, dan bertanggung jawab.
Meningkatnya tuntutan akademik, sosial, dan ekspektasi terhadap diri sendiri menjadikan kesehatan mental remaja sebagai isu yang semakin penting untuk mendapat perhatian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun di dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Depresi dan gangguan kecemasan menjadi penyebab utama disabilitas pada kelompok usia tersebut. Sementara itu, Indonesia memiliki sekitar 46 juta penduduk usia remaja, dengan gangguan kecemasan menjadi salah satu penyebab utama hilangnya kualitas hidup pada kelompok ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang dialami remaja bukanlah persoalan yang dapat dianggap sepele, sehingga diperlukan berbagai upaya edukasi untuk meningkatkan literasi kesehatan mental.
Hampir seluruh individu yang terdampak situasi darurat atau bencana akan mengalami tekanan psikologis, meskipun sebagian besar mampu pulih secara alami seiring waktu. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan psikososial pada fase awal kedaruratan, salah satunya melalui Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama Psikologis. WHO juga menekankan bahwa orientasi PFA bagi para petugas dan relawan merupakan bagian penting dalam memperkuat respons kesehatan mental pada situasi krisis.
Budaya senioritas yang tidak sehat masih menjadi salah satu tantangan di lingkungan pendidikan berasrama. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berulang kali mengingatkan pentingnya mencegah segala bentuk kekerasan dan perundungan yang kerap berakar pada relasi senior-junior yang tidak setara. Oleh karena itu, penguatan keterampilan mengelola konflik dan berkomunikasi secara sehat menjadi salah satu upaya penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan peserta didik.
Kesehatan mental menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas kinerja di lingkungan kerja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahun sebanyak 12 miliar hari kerja hilang akibat depresi dan kecemasan, dengan kerugian ekonomi global mencapai US$1 triliun karena menurunnya produktivitas. WHO juga menegaskan bahwa lingkungan kerja yang sehat secara psikologis berperan penting dalam meningkatkan performa, mempertahankan produktivitas, serta mendukung kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Maraknya penggunaan media digital membuat anak dan remaja semakin rentan mengalami berbagai bentuk kekerasan di ruang siber, termasuk cyberbullying. UNICEF mencatat bahwa anak-anak Indonesia menghadapi berbagai risiko di dunia digital, termasuk perundungan siber, sementara masih banyak anak yang belum mendapatkan edukasi memadai terkait keamanan berinternet. Kondisi ini menunjukkan pentingnya literasi digital sejak usia sekolah agar anak mampu menggunakan teknologi secara aman, bertanggung jawab, dan saling menghargai. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP Tumbuh melalui seminar edukasi bertema Cyberbullying pada Jumat (10/7).