Satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Temuan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 ini menunjukkan pentingnya penguatan upaya kesehatan jiwa sejak dini, termasuk melalui keluarga dan lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang. Upaya tersebut memerlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penanganan masalah, tetapi juga pada pencegahan dan penciptaan lingkungan yang mendukung kesejahteraan anak.
SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan 64 kasus bunuh diri dilaporkan di berbagai kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah pada Triwulan II 2024. Sementara itu, data bunuh diri di Indonesia secara umum masih menghadapi keterbatasan pencatatan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan upaya pencegahan bunuh diri, termasuk melalui dukungan kesehatan mental yang terintegrasi di lingkungan kampus.
Kesehatan jiwa menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Gunungkidul. Berdasarkan data Dinas Kesehatan DIY yang disampaikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), tercatat 28 kasus bunuh diri di Gunungkidul sepanjang 2025, meningkat dari 26 kasus pada 2024. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan upaya kesehatan jiwa yang melibatkan berbagai sektor, termasuk melalui koordinasi layanan dan dukungan berbasis masyarakat.
Akses terhadap layanan dukungan kesehatan mental masih menjadi tantangan bagi remaja di Indonesia. Hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa hanya 2,6% remaja berusia 10–17 tahun yang mengalami masalah kesehatan mental mengakses layanan dukungan atau konseling untuk masalah emosional dan perilaku dalam 12 bulan terakhir. Temuan ini menunjukkan pentingnya meningkatkan literasi kesehatan mental serta kemampuan masyarakat untuk mengenali tekanan psikologis dan memberikan dukungan awal kepada orang yang membutuhkan.
Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang memengaruhi suasana hati, energi, aktivitas, dan pola pikir seseorang. Kondisi ini ditandai dengan episode mania atau hipomania serta episode depresi yang dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), diperkirakan 36 juta orang atau 0,4% populasi dunia hidup dengan gangguan bipolar pada 2023, termasuk sekitar 3,3 juta remaja berusia 10–19 tahun. Selain memengaruhi aktivitas sehari-hari, gangguan bipolar dapat berdampak pada hubungan sosial, pendidikan, dan pekerjaan. Stigma serta diskriminasi juga menjadi tantangan yang dapat menghambat penyintas dalam menjalani kehidupan dan mengakses dukungan yang dibutuhkan.
Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia menaruh perhatian pada kasus perceraian di Indonesia. Nazaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia dalam National Symposium of Penghulu and Ulama di Pondok Buntet Pesantren (09/09) menyoroti tentang tingginya angka perceraian sepanjang 2026. Hingga bulan September, kasus perceraian sudah hampir menyentuh angka 6 juta.
Kesehatan mental anak perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya ketika anak sudah menunjukkan masalah. Data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining pada periode 2025–2026, hampir 10 persen menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa. Sebanyak 4,4 persen anak menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi.
Disclaimer: Istirahat sejenak jika muncul rasa tidak nyaman saat membaca artikel ini. Hubungi psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan terdekat jika Anda atau orang sekitar Anda memiliki pikiran mengakhiri hidup.
Kesehatan mental merupakan isu global yang membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada layanan klinis, tetapi juga mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan pengalaman hidup individu. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa pada 2023 hampir 1,2 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental, sementara sebagian besar belum memperoleh akses terhadap layanan yang efektif. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan sistem dukungan kesehatan mental yang dapat menjangkau kebutuhan individu dalam konteks kehidupan dan komunitasnya.
Tekanan untuk berhasil dapat menjadi bagian dari pengalaman tumbuh anak dan remaja. Survei UNICEF terhadap anak muda di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai anak-anak saat ini menghadapi tekanan untuk berhasil yang lebih besar dibandingkan generasi orang tua mereka ketika tumbuh dewasa. Survei yang sama juga menemukan bahwa 29 persen anak muda Indonesia mengatakan mereka sering merasa tertekan atau kehilangan minat untuk melakukan berbagai hal. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya lingkungan pengasuhan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk berkembang, mengenali potensinya, dan membangun ketangguhan.