Keluarga idealnya menjadi ruang yang memberikan rasa aman bagi setiap anggotanya untuk bertumbuh, beristirahat, dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi tekanan. Namun, keluarga juga dapat menjadi ruang terjadinya kekerasan apabila relasi di dalamnya tidak dibangun dengan aman. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat 1.152 korban kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani jejaring layanan sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, 43% merupakan kasus kekerasan dalam rumah tangga, dengan kekerasan terhadap istri menjadi jenis kekerasan yang paling banyak tercatat, yaitu 421 korban.
Dalam konteks tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan (BKPP) menyelenggarakan sosialisasi bertema “Membangun Keluarga Tangguh bagi ASN Guru” pada Jumat, 25 September 2026. Kegiatan yang diikuti oleh 54 kepala sekolah SMP tersebut menghadirkan Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog, dari Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM sebagai narasumber.
Dalam sesi tersebut, Nurul menekankan bahwa ketangguhan keluarga tidak hanya ditentukan oleh pembagian peran, tetapi juga oleh kemampuan anggota keluarga menciptakan ruang yang aman secara fisik, psikologis, dan emosional. “Ruang terbaik bagi sebuah hubungan adalah tempat di mana masing-masing boleh lelah, boleh salah, boleh kalah, lalu dimengerti, dibantu, serta didampingi untuk perlahan bangkit kembali,” tutur Nurul.
Menurut Nurul, pasangan dapat menjadi safe haven, yaitu tempat yang memberikan rasa aman ketika individu menghadapi tekanan maupun kesulitan. Relasi yang aman memungkinkan pasangan untuk saling memberikan dukungan tanpa menghilangkan ruang bagi masing-masing individu untuk bertumbuh.
Ketangguhan keluarga juga perlu dibangun melalui berbagai faktor protektif. Nurul membagikan sejumlah hal yang dapat dilakukan keluarga, antara lain menunjukkan apresiasi dan kasih sayang, membangun komunikasi positif, menjaga komitmen terhadap keluarga, menyediakan waktu berkualitas bersama, mengembangkan kesejahteraan spiritual dan nilai-nilai positif, mempelajari pengelolaan stres dan krisis, serta membangun keterhubungan sosial dengan lingkungan.
Dengan demikian, membangun keluarga tangguh tidak berhenti pada upaya mempertahankan keutuhan keluarga, tetapi juga memastikan bahwa relasi di dalamnya menjadi sumber rasa aman dan dukungan. Pasangan dan anggota keluarga diharapkan dapat saling menjadi tempat untuk pulang, sekaligus menciptakan ruang yang memungkinkan setiap individu untuk pulih dan berkembang.
Penulis: Putu Mahatma Satria Wibawa
Editor: Nurul Hidayati