Kehadiran ayah dalam keluarga menjadi tema yang diangkat Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026. Melalui Center for Public Mental Health (CPMH), Fakultas Psikologi UGM bekerja sama dengan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan seminar bertajuk A Shoulder to Cry On: Bertahan Bersama, Bertumbuh Bersama, Menghadirkan Ayah dalam Keluarga pada Jumat (3/7) di Selasar D-100 Fakultas Psikologi UGM dan secara daring melalui Zoom dan kanal YouTube.
CPMH UGM Berikan Pelatihan Pendampingan Psikologi bagi Pengampu Akademik dan Kemahasiswaan FMIPA UGM
Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Pendampingan Psikologi bagi Pengampu Akademik dan Kemahasiswaan yang diselenggarakan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM pada Rabu (24/6) di Auditorium RMJT Soehakso FMIPA UGM.
WORLD MENTAL HEALTH DAY 2021 : Kabar Kesehatan jiwa dari Indonesia di tengah dunia yang tidak setara
Hari ini, dunia merayakan Hari Kesehatan Jiwa se Dunia, 10 Oktober 2021. Tema yang diangkat oleh World Federation for Mental Health adalah ‘Mental Health in an Unequal World’ (Kesehatan Jiwa di tengah dunia yang tidak setara).
Lalu apa kabar dengan Kesehatan jiwa Indonesia?
Belum usai kita menata fondasi sistem kesehatan jiwa kita, pandemi melanda…
Pandemi membawa masalah pendidikan, masalah kemiskinan, dan juga mengakibatkan banyak anak-anak yang kehilangan ayah-ibunya. Dampak psikisnya mungkin belum terlihat sangat signifikan saat ini, meski tekanannya sangat terasa nyata. Namun perubahan pola asuh karena perubahan konstelasi keluarga atau perubahan ekonomi keluarga, sangat berpotensi membawa dampak psikis jangka panjang. Para ahli perkembangan juga memprediksikan bahwa anak-anak dan remaja akan mengalami ‘the longest and the darkest effect of pandemic’ yang harus diantisipasi dan dikelola.
Siapkah sistem kesehatan jiwa kita?
Diperlukan pemetaan komprehensif tentang kondisi sistem kesehatan jiwa Bangsa, untuk rekomendasi prioritas pembangunan yang lebih tepat.
Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS) bersama Centre for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, dengan support dari UNICEF, membantu Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk memetakan kondisi sistem kesehatan jiwa Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi prioritas pembangunan. Penelitian masih berjalan, bekerjasama dengan Dinkes-Dinkes Kabupaten/Kota se-Indonesia. Beberapa hal yang dapat kita simpulkan dengan data sementara yang terkumpul, akan kita ceritakan di bawah ini.
Di negeri ini, ada faktor-faktor yang secara umum dapat memperbesar resiko pengembangan gangguan jiwa, antara lain: kemiskinan dan pendidikan yang rendah, atau lebih tepatnya literasi kesehatan jiwa yang rendah. Hal ini erat berhubungan atau dapat mengakibatkan pola asuh orang tua yang tidak berorientasi pada kesejahteraan psikis anak. Kekerasan terhadap anak di rumah, menjadi salah satu resiko besar. Kekerasan antar remaja dan bullying di sekolah juga merupakan faktor resiko lainnya. Kemudian semua hal itu dapat berhubungan atau meninggikan resiko bunuh diri.
Lalu seperti apa wajah sistem Kesehatan jiwa di berbagai wilayah Indonesia?
Kesenjangan masih cukup kentara dalam literasi kesehatan mental antar orang-orang yang bergerak di sistem kesehatan di berbagai wilayah Indonesia. Aturan dan distribusi bantuan terkait dukungan untuk tenaga kesehatan jiwa belum merata. Baik berupa pendanaan maupun fasilitas/infrastruktur (termasuk pemerataan RSJ).
Akses bantuan ke Puskesmas terdekat bagi masyarakat, terkadang masih sulit dan mahal di beberapa wilayah di Indonesia. Begitupun, belum semua Puskesmas di wilayah Indonesia memiliki pelayanan kesehatan jiwa karena minimnya SDM yang terlatih dan kompeten dalam kesehatan jiwa.
Di sisi lain, pemasungan masih terjadi. Mengapa?
Keluarga dan komunitas tidak memahami deteksi dini. Keluarga dan komunitas juga tidak memahami managemen ODGJ (Orang dengan gangguan jiwa) pasca treatmen rumah sakit. Di sisi lain, tidak kuatnya keluarga menjalani treatment, sulitnya akses pelayanan kesehatan jiwa dan stigma untuk ODGJ dan keluarga menambah faktor resiko pemasungan.
Secara umum ada kondisi yang tidak setara di Indonesia. Ketidak setaraan terlihat dalam pemenuhan SDM antar Puskesmas se Indonesia. Terdapat Kabupaten dengan 35 psikolog klinis bekerja di seluruh Puskesmasnya yang berjumlah 25. Memiliki SDM yang bertanggung jawab khusus dengan program Kesehatan jiwa, sehingga bervariasi pendekatan promosi, prevensi, kurasi dan rehabilitasi Kesehatan jiwanya. Sementara di wilayah Indonesia yang lain, ada Kabupaten yang memiliki 11 Puskesmas, namun hanya 1 orang dokter umum yang pernah mendapatkan training Kesehatan jiwa, bertanggung jawab terhadap program kesehatan jiwa Bersama seabreag beban kerja di bidang kesehatan lainnya. Akibatnya, ada daerah tertentu dengan kondisi ekstrim tinggi: Promosi kesehatan jiwa sampai ke legislasi, literasi kesehatan jiwa yg tinggi, serta ranah program kesehatan jiwa yang variatif (keluarga, sekolah, komunitas). Namun masih banyak daerah dengan faktor resiko tinggi, tetapi belum memiliki program dan pelayanan dasar Kesehatan jiwa yang memadai.
Masih banyak PR yang harus kita lakukan bersama untuk membuat kondisi Indonesia setara di semua wilayah. Terwujudnya sistem kesehatan jiwa komprehensif, antara lain menuntut kondisi seperti:
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=nPq7sHNyKPI[/embedyt]
Karakteristik Generasi Digital
Hal ini dibahas dalam kuliah online Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin (26/4/2021). Ada beberapa contoh karakteristik dari generasi digital, yaitu:
- Aktif dalam mengemukakan identitas diri
- Memiliki wawasan yang luas
- Menyukai kebebasan
- Ingin memiliki kontrol
- Bergantung terhadap teknologi
- Menikmati lingkungan online
- Memiliki kemampuan adaptasi teknologi yang baru
- Kemampuan multitasking
“Dengan mengetahui karakteristik masing-masing generasi digital khususnya digital native harapannya tenaga pendidik dan orangtua dapat memahami. Sehingga dapat menentukan cara yang sesuai untuk mengarahkan anak,” terang Psikolog CPMH Fakultas Psikologi, Wirdatul Anisa seperti dikutip dari laman UGM, Selasa (27/4/2021).
Psikolog CPMH lainnya, Nurul Kusuma mengungkapkan, pengasuhan digital adalah bagaimana orangtua mendampingi anak. Sehingga bisa memaksimalkan manfaat dari lingkungan digital dan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan. “Artinya, bukan selalu ada secara fisik disamping anak ketika anak sedang berinteraksi dengan media digital. Namun secara keseluruhan dari mulai edukasi awal mengenai media digital hingga evaluasi penggunaan media digital,” terang Nurul.
Tahapan Pengasuhan Media Digital
Dosen sekaligus Peneliti Center dor Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM ini menambahkan, adanya pembatasan mobilitas termasuk larangan mudik dan penyekatan di setiap perbatasan wilayah menjadikan ruang gerak manusia sebagai mahkluk sosial untuk terhubung secara langsung semakin terbatas. “Bagi sebagian orang bisa beradaptasi melakukan komunikasi dan terhubung secara digital, tetapi ada banyak orang yang tidak bisa melakukan atau beradaptasi dengan cara tersebut. Misalnya ayah ibu di kampung, entitas sosial di kampung halaman,” ungkap Diana.
Apalagi larangan mudik ini sudah diberlakukan selama dua tahun berturut-turut. Padahal banyak masyarakat memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu keluarga dengan cara mudik. “Kondisi ini bisa dipahami jika menjadikan masyarakat mudah marah karena ini menyakitkan bagi mereka. Psikologis masyarakat sudah lelah terhadap pandemi dan hasrat untuk terhubung menjadi sangat besar,” paparnya.
Fase dalam Respon Psikologi Bencana
Diana menjelaskan, terdapat beberapa fase dalam respon psikologi bencana, antara lain:
- Predisaster, yaitu situasi normal belum terjadi bencana.
- Impact atau inventory, yakni saat bencana terjadi mosi yang muncul adalah kebingungan, ketakutan, kehilangan, kemudian merasa bertanggungjawab untuk melakukan sesuatu yang lebih.
- Fase heroik, di mana orang rasa terpanggil melakukan aksi heroik untuk membantu dan menyelamatkan orang lain.
- Fase honeymoon, biasanya terjadi sekitar 3 bulan awal bencana dengan harapan tinggi untuk segera pulih dari bencana.
- Fase disillusionment, yakni setelah bencana berlangsung beberapa saat orang merasakan kekecewaan karena pandemi yang tidak selesai-selesai dan merasa kecewa akan kondisi yang ada. Fase kekecewaan ini, lanjut Diana, akan mudah mengalami naik turun. Kondisi ini bisa terjadi jika ada situasi pemicu, salah satunya seperti larangan tidak boleh mudik.
- Fase rekonstruksi. Diana berharap masyarakat Indonesia bisa segera memasuki fase ini dengan situasi pandemi yang terkendali.
Mengatasi Kecewa Bukan Hal Mudah
Dokumen dapat diunduh pada tautan ini.
Sumber utama : Laman Satuan Tugas Penanganan COVID-19
Acara Online workshop yang dimulai pukul 13.00 WIB ini dibuka dengan sambutan dari Ketua Program Studi Doktor Ilmu Psikologi, Rahmat Hidayat, M.Sc., Ph.D. Rahmat mengucapkan terima kasih kepada CPMH dan seluruh peserta yang hadir dalam acara tersebut.
Acara ini diikuti oleh 77 orang peserta yang terdiri dari peneliti, mahasiswa, dan tenaga kesehatan. Salah satunya adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen dr. H. A. Dwi Budi Satrio, M.Kes.
Pemateri pertama workshop ini adalah Diana Setiyawati, M.HSc.Psy., Ph.D., peneliti dan dosen di Fakultas Psikologi UGM. Diana menjelaskan tentang bagaimana kode etik dalam penelitian kesehatan jiwa terbentuk dan mengapa etik dalam penelitian harus diutamakan. Hal ini untuk melindungi seluruh partisipan dalam proses penelitian dan menghindarkannya dari resiko-resiko yang merugikan. “…karena kita punya integritas, karena kita tidak ingin menyakiti orang lain. Karena mereka (partisipan) mempunyai hak yang sama dengan kita” ungkap Diana.
Selanjutnya Diana mengajak peserta memahami bagaimana terbentuknya etik pada penelitian kesehatan jiwa dan bagaimana penerapannya di era sekarang. Ia menekankan bahwa benefit harus lebih besar dari dampak negatif yang dihasilkan dalam penelitian psikokogi.
Selanjutnya pada sesi kedua diisi oleh Dr Erminia Colucci. Colucci merupakan dosen di Middlesex University London dan juga mengajar di Center for Psychiatry Queen Mary University London. Colucci memiliki ketertarikan di bidang kesehatan mental, hak asasi manusia, bunuh diri, kesejahteraan anak dan penyembuhan mental berbasis keyakinan dan spiritual/tradisional.
Tema yang dibawakan oleh Colucci adalah “Ethic in Visual Psychology”. Ia memperkenalkan sebuah metode yang baru dalam penelitian psikologi yaitu visual psychology. Metode ini belum cukup dikenal di kalangan peserta workshop.
”Ada berbagai cara image atau visual bisa digunakan dalam penelitian. Bisa termasuk gambar, lukisan, atau objek itu sendiri. Saya sendiri akan fokus pada foto dan video. Bisa video pendek atau film. Visual bisa digunakan untuk menentukan prioritas penelitian”, ungkap Colucci.
Menurut Colucci metode penelitian visual dalam keilmuan psikologi sebenarnya sudah lama ada. Hanya saja perkembangannya tidak secepat di bidang antropologi dan geografi. Sehingga untuk mengembangkan pedoman etikanya menggabungkan dan mengambil dari berbagai ilmu lain.
Dalam penjelasannya lebih lanjut Colucci mengungkapkan perlunya peneliti mempertimbangkan sudut pandang partisipan penelitian. Sangat penting melibatkan masyarakat sekitar yang lebih paham kondisi lapangan dalam melakukan riset.
“Seringkali etika dilihat dari perspektif peneliti yang tidak di lapangan. Seharusnya kita perlu lebih bertanya pada partisipan penelitian mengenai pengalaman mereka”, terang Colucci.
Peserta workshop sangat antusias mengikuti acara. Mereka sangat tertarik dengan isu tentang etika penelitian yang selalu aktual mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Dengan diadakannya acara ini penyelenggara berharap bisa meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terkait dengan praktek penelitian di bidang kesehatan mental yang menghormati aspek-aspek etika dan hak masyarakat yang berada di dalam konteks kajian kesehatan mental.
Artikel ini merupakan publikasi ulang dari artikel yang terbit di laman Fakultas Psikologi UGM yang dapat diakses di sini.
Melihat data diatas, beberapa penelitian juga menunjukkan hasil serupa yang mengindikasikan bahwa stres merupakan salah satu gangguan jiwa yang paling umum bahkan dapat dirasakan siapa saja (Banerjee & Chatterjee, 2016), tanpa memperhatikan jenis kelamin, umur, maupun perkembangan individu tersebut. Stres dan gangguan mental lainnya juga dapat dirasakan oleh siswa yang masih duduk di bangku sekolah, apabila beban yang mereka bawa lebih besar dibanding kapasitas mereka untuk menopang beban tersebut. Berbagai kasus di lapangan menunjukkan bahwa beban akademik telah terbukti menjadi salah satu faktor yang berpotensi untuk mengganggu kesehatan mental siswa sekolah. Untuk itu, sangat penting agar sekolah dapat menerapkan kebijakan yang menjaga tidak hanya kesejahteraan lahir dan batin para siswa, namun juga komponen-komponen pendidikan lainnya.
Mengenal Sekolah Sejahtera
School-based mental health services
Menurut penelitian, di setiap komunitas selalu ada anak-anak yang perlu dukungan secara psikologis. Anak-anak memiliki faktor risiko dan faktor protektif terhadap masalah-masalah kehidupan yang menyebabkan gangguan mental. Sekolah Sejahtera berperan sebagai faktor protektif ketika anak-anak menghadapi masalah kehidupan, seperti diantaranya perubahan keluarga, perceraian, bencana, dan lain-lain. “Sekolah Sejahtera” merupakan komunitas sekolah yang menjaga anak-anak untuk tetap sehat jiwa dan raga, serta merupakan sebuah komunitas dimana para guru, karyawan, siswa, dan orang tua saling mendukung, saling memberi apresiasi positif, dan saling memotivasi. Sehingga, anak-anak bisa tumbuh optimal, mengenali potensi-potensinya, hari-harinya produktif, tangguh dan mampu berkontribusi positif untuk komunitas. Berikut beberapa hal yang diusahakan Sekolah Islam Terpadu LHI (SD dan SMP) untuk kesehatan mental siswa-siswinya.
=&0=&
Seluruh warga sekolah memahami bahwa filosofi pendidikan di SMPIT LHI sesuai dengan logo sekolah yaitu pohon berbuah bintang. Ibarat sebuah pohon, siswa adalah biji yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan potensi untuk tumbuh sesuai dengan ragam keunikan masing-masing. Maka, tugas warga sekolah adalah bagaimana menciptakan lingkungan untuk mendukung tumbuhnya biji tersebut menjadi pohon yang sempurna dan berbuah lebat serta bermanfaat untuk sekitar. Harapannya, seluruh warga sekolah dapat memahami filosofis ini dan para pengajar menjadikan cara pandang ini dalam mendidik para siswa-siswinya.
=&1=&
Sekolah mempunyai kebijakan perilaku dan disiplin (discipline policy) yang tertuang dalam school guide, panduan untuk guru, orang tua, dan siswa. Tujuan diadakannya kebijakan perilaku dan disiplin adalah mengupayakan agar setiap komunitas sekolah merasa dihargai dan dihormati sehingga setiap orang merasa aman, nyaman dan dapat diperlakukan secara adil dan baik.
Salah satu program sekolah untuk mendukung hal tersebut adalah adanya kampanye “Anti Bullying” (Tolak Perundungan). Tujuan diterapkannya program ini adalah agar semua warga sekolah mengetahui dan mengenal apa itu mentally-bully (perundungan psikologis) maupun physical-bully (perundungan fisik). Harapannya, warga sekolah memahami mengapa hal tersebut tidak diperbolehkan untuk dilakukan dan konsekuensi-konsekuensi apa yang akan diperoleh jika melakukan hal-hal baik maupun buruk (pada konteks ini, bullying atau perundungan).

=&2=&
Warga sekolah mengapresiasi dan memberikan penghargaan untuk perilaku siswa yang baik dengan berbagai cara. Salah satu cara menghargai kebaikan siswa adalah dengan bintang pekanan atau star of the week. Penghargaan ini diumumkan kepada siswa di setiap hari senin ketika upacara bendera. Setiap seorang siswa dari perwakilan kelas mampu menunjukkan hal-hal positif, meski kecil sekalipun, dan dapat menjadi contoh untuk siswa lain pada pekan tersebut, maka siswa yang bersangkutan akan diberi penghargaan star of the week.
=&3=&
Budaya class meeting, yaitu musyawarah kelas untuk menajamkan kepekaan anak terhadap lingkungan sekitar dan sosial. Bertujuan pula agar anak mampu menghormati orang lain dan membangun kemampuan penyelesaian masalah.
=&4=&
Dengan adanya dedicated teacher bimbingan konseling dan tenaga profesional, serta psikolog sekolah, BK SIT LHI bertujuan untuk memberikan pelayanan konseling terbaik dan profesional kepada siswa, guru, dan orang tua. Program-program BK yang diterapkan antara lain: cluster gejala psikologis semua kelas di tiap tingkatan, asesmen kebutuhan siswa, intervensi permasalahan psikologis, program pemantauan buku Incident Report (Laporan Kejadian), kolaborasi dengan guru kelas untuk penanaman pembiasaan positif di sekolah, home visit (kunjungan ke rumah), serta sistem rujukan kepada psikolog maupun psikiater yang direkomendasikan. Tim BK mempunyai alur penanganan siswa yang jelas sesuai level kompleksitas masalah.

=&5=&
Program ini rutin dilakukan di awal tahun ajaran selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Program yang dilakukan bertujuan untuk mempersaudarakan siswa baru dengan kakak tingkatnya. Umumnya, satu siswa baru bisa mempunyai dua sampai tiga saudara dari kakak tingkat. Tugas para kakak adalah memandu, membantu, dan memastikan siswa baru mendapat pelayanan yang baik dan membantu mengenalkan lingkungan sekolah dengan lebih cepat dan tanpa rasa takut maupun cemas. Hal ini dilakukan juga walaupun tidak di jam-jam formal seperti jam makan siang, istirahat, kegiatan keluar sekolah. Program mempersaudarakan juga dilakukan sesuai kebutuhan, tidak hanya pada periode MPLS.
=&6=&=&7=&
Supervisor adalah guru yang bertugas untuk memastikan siswa melakukan segala sesuatu dengan aman selama jam-jam tertentu. Supervisor menangani langsung kecelakaan, juga insiden yang terjadi baik mental maupun fisik dan memberi nasihat. Supervisor berhak memberikan “time out” kepada siswa jika siswa tidak mau diajak kerjasama dan memberikan catatan yang akan disampaikan ke wali kelas atau guru BK.

=&8=&
Siswa belajar tidak hanya berupa transfer ilmu pengetahuan tetapi juga lebih banyak mengasah skill dan karakter dengan pembelajaran kontekstual berbasis proyek. Program-program di luar kelas maupun di luar sekolah banyak dilakukan dengan siswa mengalami secara langsung. Pembelajaran dan program sekolah mengakomodir minat dan bakat siswa.
=&9=&