Kesehatan mental pada kelompok lanjut usia menjadi salah satu isu yang semakin penting seiring dengan meningkatnya jumlah populasi lansia di dunia. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa sekitar 15% orang berusia 70 tahun ke atas hidup dengan gangguan mental, dengan depresi dan gangguan kecemasan sebagai kondisi yang umum ditemukan. Selain itu, sekitar seperenam kematian akibat bunuh diri secara global terjadi pada kelompok usia 70 tahun ke atas. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya promotif dan preventif untuk menjaga kesehatan mental lansia melalui dukungan keluarga, lingkungan sosial, serta akses terhadap edukasi dan layanan kesehatan mental yang memadai.
Generasi emas Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas pendidikan dan pembangunan, tetapi juga oleh kualitas keluarga sebagai lingkungan pertama tempat anak tumbuh dan berkembang. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), isu keluarga menjadi perhatian penting. Data yang disampaikan dalam forum advokasi menunjukkan bahwa pada 2025 tercatat 1.152 korban kekerasan di DIY, termasuk 432 anak dan 500 kasus yang terjadi dalam rumah tangga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan keluarga perlu menjadi bagian penting dari upaya membangun generasi yang sehat, aman, dan tangguh.
Urgensi advokasi kesehatan mental di Indonesia tercermin dari berbagai data kesehatan nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 2,0% penduduk berusia 15 tahun ke atas terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa dalam satu bulan terakhir, sementara prevalensi depresi mencapai 1,4%. Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, keluarga, hingga masyarakat. Upaya tersebut diperlukan untuk memperkuat literasi kesehatan mental, mengurangi stigma, memperluas akses layanan, serta mendorong kebijakan yang mendukung kesehatan mental masyarakat.
Keluarga merupakan salah satu lingkungan utama yang membentuk kesehatan dan perkembangan individu sejak usia dini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan keluarga dan pengasuh sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Melalui pendekatan nurturing care, WHO menekankan pentingnya lingkungan yang aman, responsif, serta dukungan terhadap kebutuhan kesehatan, gizi, perkembangan, dan kesejahteraan anak. Dukungan terhadap keluarga pun menjadi bagian penting agar pengasuh mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara optimal.
Kehadiran dan keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang serta kesejahteraan psikologis anak. Data Profil Anak Indonesia 2025 menunjukkan bahwa pada 2024, interaksi orang tua dan anak masih banyak berlangsung melalui aktivitas bersama, seperti makan bersama (86,18%) dan mengobrol (78,44%). Data tersebut menggambarkan bahwa interaksi sehari-hari menjadi salah satu ruang penting bagi keluarga untuk membangun kedekatan. Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dasar, keluarga juga memiliki peran dalam memberikan kasih sayang, rasa aman, perlindungan, dan dukungan emosional yang dibutuhkan anak untuk berkembang secara optimal.
Masa kanak-kanak kerap dibayangkan sebagai periode yang penuh permainan, rasa ingin tahu, dan pengalaman menyenangkan. Namun, tidak semua anak memiliki pengalaman yang sama. Bagi sebagian anak, masa tersebut justru diwarnai kekerasan, penelantaran, atau pengalaman traumatis yang dapat membekas hingga dewasa. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa sekitar enam dari sepuluh anak di dunia, diperkirakan mencapai 400 juta anak berusia di bawah lima tahun, mengalami hukuman fisik dan/atau kekerasan psikologis dari orang tua maupun pengasuh secara rutin. WHO juga memperkirakan bahwa satu dari lima perempuan dan satu dari tujuh laki-laki pernah mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental anak dalam jangka panjang, bahkan berkontribusi terhadap dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Cara orang tua mengasuh anak turut menentukan bagaimana anak tumbuh, belajar, dan membangun relasi dengan lingkungan sekitarnya. World Health Organization (WHO) menempatkan pengasuhan responsif sebagai salah satu bagian penting dari nurturing care, yang mencakup pemenuhan kebutuhan kesehatan dan gizi, rasa aman, kesempatan belajar, serta interaksi yang mendukung perkembangan anak. WHO juga menegaskan bahwa cara orang tua dan pengasuh mendampingi anak pada masa awal kehidupan menjadi salah satu faktor penting bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Cara orang tua mengasuh anak tidak terbentuk dalam ruang hampa. Nilai, norma, kondisi sosial, dan budaya turut memengaruhi bagaimana orang tua memberikan perhatian, menetapkan batasan, mendisiplinkan, serta mendukung perkembangan anak. World Health Organization (WHO) menempatkan pengasuhan responsif sebagai salah satu unsur penting dalam nurturing care, yaitu pengasuhan yang memungkinkan anak merasa aman, memperoleh kesempatan belajar, serta berkembang secara optimal. WHO juga menegaskan bahwa keluarga menjadi pihak utama yang menyediakan pengasuhan tersebut pada masa awal kehidupan anak.
Keluarga bagi sebagian orang merupakan tempat yang aman untuk pulang dan ruang untuk diterima apa adanya. Namun, bagi sebagian lainnya, rumah justru dapat menjadi tempat munculnya rasa takut dan kekerasan. Data Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan, termasuk yang terjadi dalam ranah personal atau rumah tangga, masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana kekerasan dalam keluarga dipahami ketika setiap keluarga hidup dalam latar sosial dan budaya yang berbeda?
Setiap keluarga tumbuh dalam konteks budaya yang berbeda. Nilai, tradisi, agama, serta pandangan mengenai peran orang tua dan anak turut membentuk bagaimana pengasuhan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tersebut juga terlihat antara masyarakat Asia dan Barat. Dalam masyarakat yang dikategorikan sebagai WEIRD (Western, Educated, Industrialised, Rich, Democratic), misalnya, nilai individualisme cenderung lebih ditekankan. Sementara itu, masyarakat Asia, seperti Tiongkok, lebih banyak menanamkan nilai-nilai kolektivisme dan kehidupan bersama dalam pengasuhan anak. Temuan He et al. (2021) menunjukkan bahwa perbedaan nilai budaya tersebut turut membentuk kognisi dan praktik pengasuhan orang tua.