Kemampuan mengenali dan mengelola emosi merupakan fondasi penting bagi kesehatan mental dan perkembangan anak. Namun, tantangan pada aspek ini masih menjadi perhatian global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh anak dan remaja mengalami gangguan kesehatan mental, sementara Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam mendukung perkembangan emosi anak sejak dini.
Maraknya penggunaan media digital membuat anak dan remaja semakin rentan mengalami berbagai bentuk kekerasan di ruang siber, termasuk cyberbullying. UNICEF mencatat bahwa anak-anak Indonesia menghadapi berbagai risiko di dunia digital, termasuk perundungan siber, sementara masih banyak anak yang belum mendapatkan edukasi memadai terkait keamanan berinternet. Kondisi ini menunjukkan pentingnya literasi digital sejak usia sekolah agar anak mampu menggunakan teknologi secara aman, bertanggung jawab, dan saling menghargai. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP Tumbuh melalui seminar edukasi bertema Cyberbullying pada Jumat (10/7).
Kehadiran ayah dalam keluarga menjadi tema yang diangkat Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026. Melalui Center for Public Mental Health (CPMH), Fakultas Psikologi UGM bekerja sama dengan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan seminar bertajuk A Shoulder to Cry On: Bertahan Bersama, Bertumbuh Bersama, Menghadirkan Ayah dalam Keluarga pada Jumat (3/7) di Selasar D-100 Fakultas Psikologi UGM dan secara daring melalui Zoom dan kanal YouTube.
CPMH UGM Berikan Pelatihan Pendampingan Psikologi bagi Pengampu Akademik dan Kemahasiswaan FMIPA UGM
Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Pendampingan Psikologi bagi Pengampu Akademik dan Kemahasiswaan yang diselenggarakan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM pada Rabu (24/6) di Auditorium RMJT Soehakso FMIPA UGM.
WORLD MENTAL HEALTH DAY 2021 : Kabar Kesehatan jiwa dari Indonesia di tengah dunia yang tidak setara
Hari ini, dunia merayakan Hari Kesehatan Jiwa se Dunia, 10 Oktober 2021. Tema yang diangkat oleh World Federation for Mental Health adalah ‘Mental Health in an Unequal World’ (Kesehatan Jiwa di tengah dunia yang tidak setara).
Lalu apa kabar dengan Kesehatan jiwa Indonesia?
Belum usai kita menata fondasi sistem kesehatan jiwa kita, pandemi melanda…
Pandemi membawa masalah pendidikan, masalah kemiskinan, dan juga mengakibatkan banyak anak-anak yang kehilangan ayah-ibunya. Dampak psikisnya mungkin belum terlihat sangat signifikan saat ini, meski tekanannya sangat terasa nyata. Namun perubahan pola asuh karena perubahan konstelasi keluarga atau perubahan ekonomi keluarga, sangat berpotensi membawa dampak psikis jangka panjang. Para ahli perkembangan juga memprediksikan bahwa anak-anak dan remaja akan mengalami ‘the longest and the darkest effect of pandemic’ yang harus diantisipasi dan dikelola.
Siapkah sistem kesehatan jiwa kita?
Diperlukan pemetaan komprehensif tentang kondisi sistem kesehatan jiwa Bangsa, untuk rekomendasi prioritas pembangunan yang lebih tepat.
Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS) bersama Centre for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, dengan support dari UNICEF, membantu Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk memetakan kondisi sistem kesehatan jiwa Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi prioritas pembangunan. Penelitian masih berjalan, bekerjasama dengan Dinkes-Dinkes Kabupaten/Kota se-Indonesia. Beberapa hal yang dapat kita simpulkan dengan data sementara yang terkumpul, akan kita ceritakan di bawah ini.
Di negeri ini, ada faktor-faktor yang secara umum dapat memperbesar resiko pengembangan gangguan jiwa, antara lain: kemiskinan dan pendidikan yang rendah, atau lebih tepatnya literasi kesehatan jiwa yang rendah. Hal ini erat berhubungan atau dapat mengakibatkan pola asuh orang tua yang tidak berorientasi pada kesejahteraan psikis anak. Kekerasan terhadap anak di rumah, menjadi salah satu resiko besar. Kekerasan antar remaja dan bullying di sekolah juga merupakan faktor resiko lainnya. Kemudian semua hal itu dapat berhubungan atau meninggikan resiko bunuh diri.
Lalu seperti apa wajah sistem Kesehatan jiwa di berbagai wilayah Indonesia?
Kesenjangan masih cukup kentara dalam literasi kesehatan mental antar orang-orang yang bergerak di sistem kesehatan di berbagai wilayah Indonesia. Aturan dan distribusi bantuan terkait dukungan untuk tenaga kesehatan jiwa belum merata. Baik berupa pendanaan maupun fasilitas/infrastruktur (termasuk pemerataan RSJ).
Akses bantuan ke Puskesmas terdekat bagi masyarakat, terkadang masih sulit dan mahal di beberapa wilayah di Indonesia. Begitupun, belum semua Puskesmas di wilayah Indonesia memiliki pelayanan kesehatan jiwa karena minimnya SDM yang terlatih dan kompeten dalam kesehatan jiwa.
Di sisi lain, pemasungan masih terjadi. Mengapa?
Keluarga dan komunitas tidak memahami deteksi dini. Keluarga dan komunitas juga tidak memahami managemen ODGJ (Orang dengan gangguan jiwa) pasca treatmen rumah sakit. Di sisi lain, tidak kuatnya keluarga menjalani treatment, sulitnya akses pelayanan kesehatan jiwa dan stigma untuk ODGJ dan keluarga menambah faktor resiko pemasungan.
Secara umum ada kondisi yang tidak setara di Indonesia. Ketidak setaraan terlihat dalam pemenuhan SDM antar Puskesmas se Indonesia. Terdapat Kabupaten dengan 35 psikolog klinis bekerja di seluruh Puskesmasnya yang berjumlah 25. Memiliki SDM yang bertanggung jawab khusus dengan program Kesehatan jiwa, sehingga bervariasi pendekatan promosi, prevensi, kurasi dan rehabilitasi Kesehatan jiwanya. Sementara di wilayah Indonesia yang lain, ada Kabupaten yang memiliki 11 Puskesmas, namun hanya 1 orang dokter umum yang pernah mendapatkan training Kesehatan jiwa, bertanggung jawab terhadap program kesehatan jiwa Bersama seabreag beban kerja di bidang kesehatan lainnya. Akibatnya, ada daerah tertentu dengan kondisi ekstrim tinggi: Promosi kesehatan jiwa sampai ke legislasi, literasi kesehatan jiwa yg tinggi, serta ranah program kesehatan jiwa yang variatif (keluarga, sekolah, komunitas). Namun masih banyak daerah dengan faktor resiko tinggi, tetapi belum memiliki program dan pelayanan dasar Kesehatan jiwa yang memadai.
Masih banyak PR yang harus kita lakukan bersama untuk membuat kondisi Indonesia setara di semua wilayah. Terwujudnya sistem kesehatan jiwa komprehensif, antara lain menuntut kondisi seperti:
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=nPq7sHNyKPI[/embedyt]
Karakteristik Generasi Digital
Hal ini dibahas dalam kuliah online Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin (26/4/2021). Ada beberapa contoh karakteristik dari generasi digital, yaitu:
- Aktif dalam mengemukakan identitas diri
- Memiliki wawasan yang luas
- Menyukai kebebasan
- Ingin memiliki kontrol
- Bergantung terhadap teknologi
- Menikmati lingkungan online
- Memiliki kemampuan adaptasi teknologi yang baru
- Kemampuan multitasking
“Dengan mengetahui karakteristik masing-masing generasi digital khususnya digital native harapannya tenaga pendidik dan orangtua dapat memahami. Sehingga dapat menentukan cara yang sesuai untuk mengarahkan anak,” terang Psikolog CPMH Fakultas Psikologi, Wirdatul Anisa seperti dikutip dari laman UGM, Selasa (27/4/2021).
Psikolog CPMH lainnya, Nurul Kusuma mengungkapkan, pengasuhan digital adalah bagaimana orangtua mendampingi anak. Sehingga bisa memaksimalkan manfaat dari lingkungan digital dan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan. “Artinya, bukan selalu ada secara fisik disamping anak ketika anak sedang berinteraksi dengan media digital. Namun secara keseluruhan dari mulai edukasi awal mengenai media digital hingga evaluasi penggunaan media digital,” terang Nurul.
Tahapan Pengasuhan Media Digital
Dosen sekaligus Peneliti Center dor Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM ini menambahkan, adanya pembatasan mobilitas termasuk larangan mudik dan penyekatan di setiap perbatasan wilayah menjadikan ruang gerak manusia sebagai mahkluk sosial untuk terhubung secara langsung semakin terbatas. “Bagi sebagian orang bisa beradaptasi melakukan komunikasi dan terhubung secara digital, tetapi ada banyak orang yang tidak bisa melakukan atau beradaptasi dengan cara tersebut. Misalnya ayah ibu di kampung, entitas sosial di kampung halaman,” ungkap Diana.
Apalagi larangan mudik ini sudah diberlakukan selama dua tahun berturut-turut. Padahal banyak masyarakat memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu keluarga dengan cara mudik. “Kondisi ini bisa dipahami jika menjadikan masyarakat mudah marah karena ini menyakitkan bagi mereka. Psikologis masyarakat sudah lelah terhadap pandemi dan hasrat untuk terhubung menjadi sangat besar,” paparnya.
Fase dalam Respon Psikologi Bencana
Diana menjelaskan, terdapat beberapa fase dalam respon psikologi bencana, antara lain:
- Predisaster, yaitu situasi normal belum terjadi bencana.
- Impact atau inventory, yakni saat bencana terjadi mosi yang muncul adalah kebingungan, ketakutan, kehilangan, kemudian merasa bertanggungjawab untuk melakukan sesuatu yang lebih.
- Fase heroik, di mana orang rasa terpanggil melakukan aksi heroik untuk membantu dan menyelamatkan orang lain.
- Fase honeymoon, biasanya terjadi sekitar 3 bulan awal bencana dengan harapan tinggi untuk segera pulih dari bencana.
- Fase disillusionment, yakni setelah bencana berlangsung beberapa saat orang merasakan kekecewaan karena pandemi yang tidak selesai-selesai dan merasa kecewa akan kondisi yang ada. Fase kekecewaan ini, lanjut Diana, akan mudah mengalami naik turun. Kondisi ini bisa terjadi jika ada situasi pemicu, salah satunya seperti larangan tidak boleh mudik.
- Fase rekonstruksi. Diana berharap masyarakat Indonesia bisa segera memasuki fase ini dengan situasi pandemi yang terkendali.
Mengatasi Kecewa Bukan Hal Mudah
Dokumen dapat diunduh pada tautan ini.
Sumber utama : Laman Satuan Tugas Penanganan COVID-19
Acara Online workshop yang dimulai pukul 13.00 WIB ini dibuka dengan sambutan dari Ketua Program Studi Doktor Ilmu Psikologi, Rahmat Hidayat, M.Sc., Ph.D. Rahmat mengucapkan terima kasih kepada CPMH dan seluruh peserta yang hadir dalam acara tersebut.
Acara ini diikuti oleh 77 orang peserta yang terdiri dari peneliti, mahasiswa, dan tenaga kesehatan. Salah satunya adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen dr. H. A. Dwi Budi Satrio, M.Kes.
Pemateri pertama workshop ini adalah Diana Setiyawati, M.HSc.Psy., Ph.D., peneliti dan dosen di Fakultas Psikologi UGM. Diana menjelaskan tentang bagaimana kode etik dalam penelitian kesehatan jiwa terbentuk dan mengapa etik dalam penelitian harus diutamakan. Hal ini untuk melindungi seluruh partisipan dalam proses penelitian dan menghindarkannya dari resiko-resiko yang merugikan. “…karena kita punya integritas, karena kita tidak ingin menyakiti orang lain. Karena mereka (partisipan) mempunyai hak yang sama dengan kita” ungkap Diana.
Selanjutnya Diana mengajak peserta memahami bagaimana terbentuknya etik pada penelitian kesehatan jiwa dan bagaimana penerapannya di era sekarang. Ia menekankan bahwa benefit harus lebih besar dari dampak negatif yang dihasilkan dalam penelitian psikokogi.
Selanjutnya pada sesi kedua diisi oleh Dr Erminia Colucci. Colucci merupakan dosen di Middlesex University London dan juga mengajar di Center for Psychiatry Queen Mary University London. Colucci memiliki ketertarikan di bidang kesehatan mental, hak asasi manusia, bunuh diri, kesejahteraan anak dan penyembuhan mental berbasis keyakinan dan spiritual/tradisional.
Tema yang dibawakan oleh Colucci adalah “Ethic in Visual Psychology”. Ia memperkenalkan sebuah metode yang baru dalam penelitian psikologi yaitu visual psychology. Metode ini belum cukup dikenal di kalangan peserta workshop.
”Ada berbagai cara image atau visual bisa digunakan dalam penelitian. Bisa termasuk gambar, lukisan, atau objek itu sendiri. Saya sendiri akan fokus pada foto dan video. Bisa video pendek atau film. Visual bisa digunakan untuk menentukan prioritas penelitian”, ungkap Colucci.
Menurut Colucci metode penelitian visual dalam keilmuan psikologi sebenarnya sudah lama ada. Hanya saja perkembangannya tidak secepat di bidang antropologi dan geografi. Sehingga untuk mengembangkan pedoman etikanya menggabungkan dan mengambil dari berbagai ilmu lain.
Dalam penjelasannya lebih lanjut Colucci mengungkapkan perlunya peneliti mempertimbangkan sudut pandang partisipan penelitian. Sangat penting melibatkan masyarakat sekitar yang lebih paham kondisi lapangan dalam melakukan riset.
“Seringkali etika dilihat dari perspektif peneliti yang tidak di lapangan. Seharusnya kita perlu lebih bertanya pada partisipan penelitian mengenai pengalaman mereka”, terang Colucci.
Peserta workshop sangat antusias mengikuti acara. Mereka sangat tertarik dengan isu tentang etika penelitian yang selalu aktual mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Dengan diadakannya acara ini penyelenggara berharap bisa meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terkait dengan praktek penelitian di bidang kesehatan mental yang menghormati aspek-aspek etika dan hak masyarakat yang berada di dalam konteks kajian kesehatan mental.
Artikel ini merupakan publikasi ulang dari artikel yang terbit di laman Fakultas Psikologi UGM yang dapat diakses di sini.