• Tentang CPMH
  • Media
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Psikologi
Center for Public Mental Health
  • TENTANG KAMI
    • TENTANG CPMH
    • Visi dan Misi
    • LANGKAH GERAK
    • MITRA
    • Tim Kami
  • AKTIVITAS
    • Advokasi
    • Kuliah Online (Kulon)
    • Mindtenance
    • Mindspiration
    • LAIN-LAIN
  • SUMMER COURSE
    • 2026
    • 2025
    • 2024
    • 2023
    • 2017-2022
  • ARTIKEL PSIKOEDUKASI
  • E-LIBRARY
  • Beranda
  • Kegiatan Lain
  • Judi Online di Lingkungan Kerja: Dampak Psikologis dan Pentingnya Deteksi Dini

Judi Online di Lingkungan Kerja: Dampak Psikologis dan Pentingnya Deteksi Dini

  • Kegiatan Lain, Pengabdian Kepada Masyarakat, Psikoedukasi, Rilis
  • 14 October 2026, 16.05
  • Oleh: CPMH
  • 0

Judi online tidak hanya berisiko menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental, hubungan keluarga, dan kehidupan profesional seseorang. Berdasarkan Catatan Capaian Strategis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) 2025, sebanyak 12,3 juta orang tercatat melakukan deposit judi online pada 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan judi online masih perlu mendapat perhatian, termasuk di lingkungan kerja, mengingat dampaknya dapat meluas hingga mengganggu konsentrasi, produktivitas, dan hubungan dengan rekan kerja.

Persoalan ini menjadi perhatian dalam kegiatan pendampingan bidang hukum yang diselenggarakan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, Kementerian Pekerjaan Umum, di Yogyakarta pada Rabu, 14 Oktober 2026. Mengusung tema “Membangun Integritas ASN Melalui Kesadaran Hukum untuk Mewujudkan Lingkungan Kerja yang Bersih dari Judi Online”, kegiatan ini menghadirkan Nurul Kusuma Hidayati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai narasumber sesi “Dampak Psikologis Kecanduan Judi Online serta Penanganannya”.

Dalam pemaparannya, Nurul mengajak peserta memahami bahwa dampak judi online tidak berhenti pada uang yang hilang. Aktivitas tersebut dapat mengancam ketenangan psikologis, kepercayaan keluarga, fokus kerja, reputasi profesional, hingga rasa aman dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, persoalan judi online perlu dipahami secara menyeluruh, bukan semata-mata sebagai masalah finansial atau pelanggaran disiplin.

Seseorang dapat mulai berjudi karena ingin memperoleh penghasilan tambahan atau berharap mendapatkan keuntungan dengan cepat. Ketika mengalami kekalahan, keinginan untuk mengembalikan uang yang hilang dapat mendorongnya untuk terus bermain. Kemenangan sesekali juga dapat memperkuat harapan bahwa kerugian dapat dipulihkan melalui permainan berikutnya, sehingga seseorang semakin sulit menghentikan perilakunya.

Dalam kondisi tersebut, seseorang mungkin mulai mengorbankan kebutuhan lain, menyembunyikan aktivitas berjudi, atau menggunakan pinjaman untuk mengejar kekalahan. Perilaku yang awalnya dianggap sebagai cara memperoleh tambahan uang dapat berkembang menjadi masalah yang memengaruhi kondisi psikologis, keuangan, dan relasi sosial.

Dampak perjudian juga dapat meluas ke berbagai aspek kehidupan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi sejumlah bahaya yang berkaitan dengan perjudian, termasuk masalah kesehatan mental, risiko bunuh diri, kemiskinan, konflik keluarga, kekerasan, dan pengabaian anak. Hal ini memperlihatkan bahwa dampak perjudian tidak hanya dialami oleh individu yang berjudi, tetapi juga dapat dirasakan oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Mengenali Tanda Bahaya Judi Online di Lingkungan Kerja

Salah satu hal penting yang ditekankan oleh narasumber adalah perlunya deteksi dini terhadap perilaku judi online. Deteksi dini tidak harus menunggu seseorang mengakui bahwa dirinya memiliki masalah. Sebaliknya, perhatian dapat dimulai dengan mengenali perubahan perilaku yang terlihat dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks lingkungan kerja, terdapat beberapa tanda yang perlu diperhatikan. Seseorang mungkin mulai mengalami kesulitan tidur, tampak tertekan, mengalami perubahan konsentrasi, atau menunjukkan penurunan kemampuan menjalankan tanggung jawab pekerjaan. Perubahan lain yang patut dicermati adalah kebiasaan berbohong untuk menutupi aktivitas atau masalah keuangan, serta penggunaan aplikasi judi ketika sedang bekerja.

Tanda bahaya juga dapat terlihat dari pola pengelolaan keuangan. Misalnya, seseorang terus berjudi setelah mengalami kekalahan karena ingin mengembalikan uangnya, kemudian mulai meminjam uang melalui aplikasi untuk melanjutkan aktivitas tersebut. Ketika kerugian dan utang semakin besar, tekanan psikologis dapat meningkat dan memperburuk kesulitan yang sedang dihadapi.

Nurul menggunakan ilustrasi seorang pegawai yang awalnya berjudi untuk menambah penghasilan. Setelah mengalami kerugian, pegawai tersebut meminjam uang melalui aplikasi untuk mengejar kekalahannya. Ia kemudian mengalami kesulitan tidur, mulai berbohong kepada pasangan, dan beberapa kali membuka aplikasi judi saat jam kerja.

Ilustrasi tersebut menunjukkan bagaimana beberapa tanda bahaya dapat muncul secara bersamaan. Kesulitan tidur, perilaku menutupi masalah, utang, dan terganggunya konsentrasi kerja merupakan perubahan yang perlu diperhatikan. Meski demikian, satu perubahan perilaku saja tidak cukup untuk memastikan bahwa seseorang mengalami kecanduan judi. Pengamatan perlu dilakukan secara hati-hati, tanpa terburu-buru memberikan label atau diagnosis.

Karena itu, prinsip penting dalam deteksi dini adalah melihat perubahan dan dampaknya, bukan hanya menunggu pengakuan. Di lingkungan kerja, pendekatan ini dapat membantu membuka kesempatan untuk memberikan dukungan sebelum masalah berkembang lebih jauh.

Ketika Judi Online Bertemu Pinjaman Online

Dalam paparannya, Nurul juga menyoroti hubungan antara judi online dan pinjaman online. Keduanya dapat saling berkaitan ketika seseorang menggunakan pinjaman untuk melanjutkan perjudian atau berusaha mengembalikan uang yang telah hilang.

Pinjaman bukanlah pendapatan. Dana yang diterima hari ini merupakan kewajiban pembayaran pada masa mendatang, yang dapat disertai biaya tambahan. Apabila pinjaman digunakan untuk mengejar kekalahan dalam perjudian, masalah finansial berisiko semakin berat dan sulit dikendalikan.

Beban utang dapat memunculkan kecemasan, rasa bersalah, ketakutan menghadapi konsekuensi, dan konflik dengan keluarga. Tekanan tersebut juga dapat mengganggu fokus kerja serta kemampuan mengambil keputusan. Dalam situasi seperti ini, persoalan judi online tidak cukup ditangani hanya dengan mengingatkan seseorang agar lebih berhati-hati menggunakan uang. Individu yang mengalami kesulitan menghentikan perjudian mungkin membutuhkan pendampingan dan bantuan profesional sesuai kebutuhannya.

Pendampingan Tanpa Menghakimi, Tetap Tegas terhadap Perilaku

Ketika tanda bahaya mulai terlihat, cara keluarga atau rekan kerja merespons dapat memengaruhi kesediaan seseorang untuk terbuka. Menghakimi, mempermalukan, atau memberi label negatif berisiko membuat individu semakin menutup diri. Sebaliknya, percakapan yang menunjukkan kepedulian dapat menjadi langkah awal untuk memahami situasi dan mencari bantuan yang sesuai.

Nurul menekankan prinsip, “Tegas pada perilaku, tetap menjaga martabat orangnya.” Pesan ini menggarisbawahi bahwa memberikan dukungan bukan berarti membenarkan perilaku berjudi atau mengambil alih seluruh konsekuensi yang harus dihadapi seseorang. Pendampingan justru perlu membantu individu mengenali masalah, mengambil tanggung jawab, dan menemukan langkah yang lebih aman untuk memulai pemulihan.

Percakapan dapat dimulai dengan menyampaikan perubahan yang diamati dan kekhawatiran yang dirasakan, tanpa langsung menuduh. Sebagai contoh, seseorang dapat mengatakan bahwa ia melihat rekan kerjanya tampak tertekan dan mengalami perubahan yang mengkhawatirkan, lalu menanyakan apakah ia sedang menghadapi masalah terkait judi atau utang. Tawaran untuk mencari langkah yang aman bersama dapat membantu membuka ruang percakapan.

Apabila seseorang mengalami kesulitan menghentikan perjudian, memiliki utang yang semakin membebani, atau merasakan tekanan psikologis yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dukungan dari orang terdekat dapat menjadi langkah awal. Bantuan profesional perlu dipertimbangkan ketika masalah sulit diatasi secara mandiri. Jika terdapat risiko terhadap keselamatan diri, bantuan segera perlu menjadi prioritas.

Pendekatan yang suportif tetap perlu disertai batasan yang jelas, terutama di lingkungan kerja. Kepedulian terhadap kondisi psikologis pegawai dapat berjalan beriringan dengan penegakan aturan dan tanggung jawab profesional. Tujuannya bukan untuk membenarkan perilaku yang merugikan, melainkan mendorong penanganan masalah secara tepat tanpa mengabaikan martabat individu.

Melalui kegiatan ini, CPMH UGM mendorong peningkatan pemahaman mengenai dampak psikologis judi online, pengenalan tanda bahaya sejak dini, dan pentingnya memberikan respons yang tepat kepada individu yang mengalami masalah. Di lingkungan kerja, upaya tersebut dapat mendukung terciptanya budaya kerja yang menjaga integritas sekaligus memperhatikan kesejahteraan psikologis pegawai.

Mewujudkan lingkungan kerja yang bersih dari judi online memerlukan kesadaran terhadap aspek hukum dan disiplin, serta pemahaman mengenai faktor psikologis yang dapat membuat perilaku tersebut berulang. Dengan mengenali perubahan perilaku sejak dini, membangun komunikasi tanpa stigma, dan membuka akses terhadap bantuan yang sesuai, lingkungan kerja dapat mengambil peran dalam mencegah masalah berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

Penulis: Nurul Hidayati

Tags: Judi Online Judol Judol di Lingkungan Kerja Pinjaman Online Pinjol SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

  • Judi Online di Lingkungan Kerja: Dampak Psikologis dan Pentingnya Deteksi Dini
  • CPMH UGM dan Dinkes Sleman Perkuat Edukasi Kesehatan Mental melalui Program P3LP di Pesantren
  • Bukan Hanya Psikolog dan Psikiater: Mengenal Peran Perawat dalam Layanan Kesehatan Mental
  • Bukan Sekadar Diagnosis: Kisah Penyintas Bipolar Mengajak Kita Mendengar dan Memahami
  • Bimbingan Perkawinan Sudah Wajib, Mengapa Angka Perceraian Masih Tinggi?
Universitas Gadjah Mada

Center for Public Mental Health
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Gedung D Lantai 6 Ruang D-603
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
Email: cpmh@ugm.ac.id
Telepon: +62 274 550435 ext. 145
WhatsApp/sms: +62 8132 739 5698

Media Sosial:
Instagram: @cpmhugm

X: @cpmhugm
Facebook: CPMH Psikologi UGM
Threads: @cpmhugm
LinkedIn: Center for Public Mental Health UGM
YouTube: CPMH Psi UGM

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY