• Tentang CPMH
  • Media
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Psikologi
Center for Public Mental Health
  • TENTANG KAMI
    • TENTANG CPMH
    • Visi dan Misi
    • LANGKAH GERAK
    • MITRA
    • Tim Kami
  • AKTIVITAS
    • Advokasi
    • Kuliah Online (Kulon)
    • Mindtenance
    • Mindspiration
    • LAIN-LAIN
  • SUMMER COURSE
    • 2026
    • 2025
    • 2024
    • 2023
    • 2017-2022
  • ARTIKEL PSIKOEDUKASI
  • E-LIBRARY
  • Beranda
  • Pos oleh
  • page. 2
Pos oleh :

CPMH

Masa Kanak-Kanak dalam Bayangan Kekerasan: CPMH Hadirkan para Pakar Adverse Childhood Experience dalam ISCP 2026

Rilis Tuesday, 1 September 2026

Masa kanak-kanak kerap dibayangkan sebagai periode yang penuh permainan, rasa ingin tahu, dan pengalaman menyenangkan. Namun, tidak semua anak memiliki pengalaman yang sama. Bagi sebagian anak, masa tersebut justru diwarnai kekerasan, penelantaran, atau pengalaman traumatis yang dapat membekas hingga dewasa. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa sekitar enam dari sepuluh anak di dunia, diperkirakan mencapai 400 juta anak berusia di bawah lima tahun, mengalami hukuman fisik dan/atau kekerasan psikologis dari orang tua maupun pengasuh secara rutin. WHO juga memperkirakan bahwa satu dari lima perempuan dan satu dari tujuh laki-laki pernah mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental anak dalam jangka panjang, bahkan berkontribusi terhadap dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. read more

Memahami Pengasuhan melalui Lensa Budaya dan Agama, CPMH Bahas Keberagaman Parenting di Asia dan Indonesia dalam ISCP 2026

Rilis Monday, 31 August 2026

Cara orang tua mengasuh anak turut menentukan bagaimana anak tumbuh, belajar, dan membangun relasi dengan lingkungan sekitarnya. World Health Organization (WHO) menempatkan pengasuhan responsif sebagai salah satu bagian penting dari nurturing care, yang mencakup pemenuhan kebutuhan kesehatan dan gizi, rasa aman, kesempatan belajar, serta interaksi yang mendukung perkembangan anak. WHO juga menegaskan bahwa cara orang tua dan pengasuh mendampingi anak pada masa awal kehidupan menjadi salah satu faktor penting bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka. read more

Memahami Pola Asuh Lintas Budaya: CPMH Bahas Keragaman Parenting di Asia dan Indonesia melalui ISCP 2026

Rilis Friday, 28 August 2026

Cara orang tua mengasuh anak tidak terbentuk dalam ruang hampa. Nilai, norma, kondisi sosial, dan budaya turut memengaruhi bagaimana orang tua memberikan perhatian, menetapkan batasan, mendisiplinkan, serta mendukung perkembangan anak. World Health Organization (WHO) menempatkan pengasuhan responsif sebagai salah satu unsur penting dalam nurturing care, yaitu pengasuhan yang memungkinkan anak merasa aman, memperoleh kesempatan belajar, serta berkembang secara optimal. WHO juga menegaskan bahwa keluarga menjadi pihak utama yang menyediakan pengasuhan tersebut pada masa awal kehidupan anak. read more

Memahami Kekerasan dalam Keluarga dari Berbagai Perspektif Budaya dalam ISCP CPMH 2026

Rilis Thursday, 27 August 2026

Keluarga bagi sebagian orang merupakan tempat yang aman untuk pulang dan ruang untuk diterima apa adanya. Namun, bagi sebagian lainnya, rumah justru dapat menjadi tempat munculnya rasa takut dan kekerasan. Data Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan, termasuk yang terjadi dalam ranah personal atau rumah tangga, masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana kekerasan dalam keluarga dipahami ketika setiap keluarga hidup dalam latar sosial dan budaya yang berbeda? read more

Apa yang Membentuk Keluarga di Asia? CPMH UGM Hadirkan Pakar Psikologi Keluarga dari The Chinese University of Hong Kong dalam ISCP 2026

Rilis Wednesday, 26 August 2026

Setiap keluarga tumbuh dalam konteks budaya yang berbeda. Nilai, tradisi, agama, serta pandangan mengenai peran orang tua dan anak turut membentuk bagaimana pengasuhan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tersebut juga terlihat antara masyarakat Asia dan Barat. Dalam masyarakat yang dikategorikan sebagai WEIRD (Western, Educated, Industrialised, Rich, Democratic), misalnya, nilai individualisme cenderung lebih ditekankan. Sementara itu, masyarakat Asia, seperti Tiongkok, lebih banyak menanamkan nilai-nilai kolektivisme dan kehidupan bersama dalam pengasuhan anak. Temuan He et al. (2021) menunjukkan bahwa perbedaan nilai budaya tersebut turut membentuk kognisi dan praktik pengasuhan orang tua. read more

Dari Rumah Menjadi Rumah yang Aman: CPMH Bahas Peran Keluarga dalam Kesehatan Mental melalui ISCP 2026

Berita CPMHRilis Tuesday, 25 August 2026

Di balik dinding rumah yang tampak hangat, krisis kesehatan mental dapat menjadi beban tak kasatmata yang dirasakan bersama oleh anak, remaja, hingga orang tua. Laporan The State of the World’s Children 2021: On My Mind yang diterbitkan UNICEF pada 2021 menunjukkan bahwa satu dari tujuh remaja di dunia hidup dengan gangguan emosional. Pada usia tersebut, sebagian besar remaja masih tinggal bersama keluarga, yang idealnya menjadi tempat aman untuk pulang, bertumbuh, dan memperoleh dukungan. Karena itu, keluarga sebagai kelompok sosial pertama tempat individu bernaung memiliki peran penting dalam membentuk dan menjaga kesehatan mental setiap anggotanya. read more

Bukan Sekadar Anak Hebat: Pentingnya Orang Tua sebagai Ruang Tumbuh Anak

Kuliah OnlineRilis Wednesday, 19 August 2026

Pentingnya pengasuhan yang baik tercermin dalam data UNICEF yang menunjukkan bahwa sekitar empat dari sepuluh anak usia 2–4 tahun di dunia belum mendapatkan interaksi responsif atau stimulasi yang cukup di rumah. Selain itu, lebih dari 80 juta anak usia 2–4 tahun, atau sekitar satu dari lima anak secara global, tidak bermain bersama pengasuhnya di rumah. Padahal, interaksi melalui bermain, berkomunikasi, dan memberikan respons terhadap kebutuhan anak merupakan bagian penting dalam mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Hal ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang menekankan pentingnya responsive caregiving, yaitu kemampuan orang tua atau pengasuh untuk memahami dan merespons kebutuhan anak secara tepat. read more

CPMH Fakultas Psikologi UGM Bekali Volunter untuk Mendampingi Keluarga dengan Anak Cerebral Palsy

Kegiatan LainPengabdian Kepada Masyarakat Monday, 10 August 2026

Cerebral palsy (CP) merupakan salah satu kondisi yang dapat memengaruhi perkembangan gerak, postur, komunikasi, hingga aktivitas sehari-hari anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan prevalensi cerebral palsy secara global berada pada kisaran 1,5 hingga lebih dari 4 kasus per 1.000 kelahiran hidup, dengan angka keseluruhan sekitar 2 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang pernah dilaporkan menunjukkan prevalensi cerebral palsy sebesar 0,09% pada anak usia 24–59 bulan. Meskipun demikian, data mengenai cerebral palsy di Indonesia masih terbatas sehingga dukungan yang melibatkan keluarga dan lingkungan sosial menjadi penting untuk membantu anak berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. read more

Menjadi Tempat Aman bagi Remaja Berawal dari Cara Kita Mendengarkan

Kuliah OnlineRilis Monday, 27 July 2026

Remaja membutuhkan hubungan yang hangat dan komunikasi yang terbuka dengan orang dewasa di sekitarnya sebagai fondasi bagi kesehatan mental dan perkembangan sosial emosionalnya. UNICEF menekankan bahwa komunikasi yang penuh empati merupakan salah satu kunci dalam membangun kesejahteraan mental remaja. Sebaliknya, ketika remaja merasa tidak didengarkan atau perasaannya diabaikan, mereka cenderung enggan untuk kembali bercerita. Oleh karena itu, kemampuan orang tua maupun orang dewasa untuk mendengarkan dengan empatik menjadi bekal penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi remaja. read more

Mindspiration #2: Memahami Gangguan Bipolar dan Pentingnya Dukungan bagi Penyintas

KegiatanMindspirationRilis Thursday, 23 July 2026

Gangguan bipolar merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati, energi, dan tingkat aktivitas secara ekstrem sehingga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Berdasarkan National Institute of Mental Health (NIMH), sekitar 2,8% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami gangguan bipolar setiap tahunnya, dan 82,9% di antaranya mengalami gangguan fungsi yang serius. Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati biasa, melainkan kondisi yang memerlukan penanganan profesional agar tidak mengganggu kualitas hidup penderitanya.  read more

1234…7

Berita Terbaru

  • Cara Membangun Ketahanan Mental Anak melalui Dukungan Orang Tua dan Sekolah
  • Media Sosial dan Bunuh Diri: Memahami Risiko Copycat Suicide dan Cara Mencegahnya
  • Membangun Keluarga Tangguh melalui Relasi yang Aman dan Saling Mendukung
  • Tim CPMH UGM Bahas Kolaborasi Profesional Kesehatan Mental dan Penyembuh Berbasis Keagamaan di Sapienza University of Rome
  • Melampaui Prestasi Akademik, CPMH Dorong Pengasuhan yang Mendukung Ketangguhan Anak
Universitas Gadjah Mada

Center for Public Mental Health
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Gedung D Lantai 6 Ruang D-603
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
Email: cpmh@ugm.ac.id
Telepon: +62 274 550435 ext. 145
WhatsApp/sms: +62 8132 739 5698

Media Sosial:
Instagram: @cpmhugm

X: @cpmhugm
Facebook: CPMH Psikologi UGM
Threads: @cpmhugm
LinkedIn: Center for Public Mental Health UGM
YouTube: CPMH Psi UGM

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY