[table id=1 /]




Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik namun juga kesehatan mental. Masyarakat dihadapkan oleh perubahan tatanan kehidupan sosial yang signifikan seperti pembatasan sosial, pemotongan jumlah karyawan, kewajiban bekerja dari rumah, hingga mengajar anak sekolah online. Berbagai hal ini menjadi penyebab banyak orang mengalami permasalahan kesehatan mental seperti peningkatan kecemasan dan stres yang berefek pada perilaku tidak produktif. Tidak hanya itu, banyak orang terpaksa untuk beradaptasi dengan realitas baru yang didominasi oleh ketakutan akan penyebaran dan penularan virus.
Oleh karena itu, kemampuan resiliensi sebagai benteng ketahanan diri untuk bertahan di tengah kondisi pandemi global saat ini perlu untuk ditingkatkan. Resiliensi adalah kemampuan individu untuk beradaptasi secara positif dan efektif sebagai strategi dalam menghadapi kesulitan.
Terdapat tujuh aspek yang menjadi pembentuk resiliensi individu (Reivich & Shatté, 2002), antara lain:
- Regulasi emosi, merupakan keadaan untuk tetap tenang dan fokus dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah.
- Pengendalian impuls, merupakan kemampuan individu dalam mengontrol dorongan, keinginan, dan tekanan yang muncul dari dalam diri individu itu sendiri. Contohnya seperti mengontrol diri untuk tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak, membiasakan menggunakan masker saat bepergian, dan menjaga jarak saat berada di tempat umum.
- Sikap optimis, sebagai bentuk keyakinan bahwa individu dapat menyelesaikan masalahnya dan melewati kondisi yang terberatnya.
- Empati, merupakan kemampuan individu untuk memahami tanda-tanda emosional dan psikologis orang lain. Contohnya adalah dengan memperhatikan kondisi orang terdekat dan menjaga komunikasi dengan baik.
- Kemampuan analisis masalah, merupakan kemampuan individu untuk mengidentifikasi penyebab dari permasalahan yang dihadapi.
- Efikasi diri, merupakan keyakinan bahwa individu mampu memecahkan masalah yang dialami dan mencapai kesuksesan.
- Peningkatan aspek positif, yakni kemampuan individu untuk memaknai permasalahan yang dihadapi sebagai kekuatan di masa depan. Contohnya, dengan adanya work from home, individu memiliki lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi kemampuan diri, bakat, serta hobinya yang dapat menjadi sumber penghasilan baru di masa mendatang.
Tips Meningkatkan Resiliensi
Guna meningkatkan resiliensi dan mengurangi tekanan stres selama pandemi, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Menjaga rutinitas harian
- Tetap menyempatkan diri melakukan aktivitas fisik
- Pilah dan pilih berita-berita positif, menjaga,
- Stay up to update dan waspada serta patuhi protokol kesehatan
- Menjaga komunikasi dengan orang terdekat
- Mencari dukungan sosial dalam menjalankan aktivitas
Penelitian menunjukkan bahwa kekhawatiran masyarakat lebih tinggi dipicu oleh kecemasan akan kesehatan keluarga dan kerabatnya, sehingga penting juga bagi individu untuk tetap terhubung meskipun berada dalam situasi pandemi Covid-19 yang menuntut untuk menjaga jarak.
Untuk mengakses infografis seputar menjaga resiliensi dan kesehatan mental, kunjungi laman ini.
Chen, S., & Bonanno, G. A. (2020). Psychological adjustment during the global outbreak of COVID-19: A resilience perspective. Psychological Trauma: Theory, Research, Practice, and Policy, 12(S1), S51.
Coronavirus Disease (COVID-19) Situation Reports. Who.int. (2020). Retrieved 15 October 2020, from https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports.
Reivich, K., & Shatté, A. (2002).
The resilience factor: 7 essential skills for overcoming life’s inevitable obstacles
Pedoman tersebut dapat diunduh pada tautan berikut:
Pedoman Pertolongan Pertama Psikologis pada Upaya Bunuh Diri (versi Bahasa Indonesia)
PFA tidak bisa diterapkan kepada seluruh orang yang mengalami krisis. Hal tersebut merupakan hasil dari bagaimana tiap individu menanggapi krisis yang mereka alami. Sebagian memiliki reaksi yang cenderung ekstrem, namun sebagian juga memiliki reaksi sebaliknya. Sebagai penolong, sangatlah penting untuk memperhatikan kebutuhan masing-masing individu dengan tidak memaksakan kehendak mereka. Adapun para penyintas yang memiliki reaksi ekstrem dan tergolong membutuhkan PFA seringkali menunjukkan perilaku dan perasaan yang sangat terpukul, mengalami cedera yang cukup serius, bahkan hingga tidak bisa mengurus diri sendiri.
Pada dasarnya, pertolongan pertama psikologis dilakukan spesifik untuk mengobati luka-luka batin yang membekas pada orang-orang yang baru saja mengalami pengalaman traumatis. Hal ini diterapkan untuk dapat meringankan beban para penyintas dengan mengurangi dampak-dampak psikologis yang dirasakan seperti rasa stress dan tertekan. PFA dilakukan untuk membantu individu mengembangkan koping fungsional dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang diakibatkan oleh stres yang mereka rasakan (National Child Traumatic Stress Network and National Center for PTSD, 2006).
PFA juga turut memainkan peran untuk menumbuhkan harapan dalam diri penyintas dengan merasa lebih tenang, aman dan terhubung. Penolong tentunya harus memastikan bahwa seluruh penyintas yang ditolong memiliki akses terhadap dukungan sosial, emosional, juga fisik yang memadai. PFA diberikan ketika penolong pertama kali melakukan kontak dengan penyintas yang baru saja mengalami peristiwa traumatis. Adapun waktu pemberiannya beragam; beberapa memilih untuk langsung menolong, namun PFA juga bisa diberikan beberapa hari atau minggu setelah krisis berlangsung. Pemberian PFA akan bergantung pada tingkat keparahan serta lamanya krisis terjadi.
Dalam pelaksanaannya, PFA memiliki tiga prinsip yang berupa proses jalannya pertolongan pertama itu sendiri. Prinsip tersebut terdiri dari:
- Look (Amati)
Prinsip pertama mencakup bagaimana penolong =&1=& serta kondisi yang mengelilingi para penyintas. Di sini, akan lebih baik untuk penolong untuk bisa lebih sensitif terhadap penyintas dengan reaksi yang cukup serius.
- Listen (Dengar)
=&3=& merupakan komponen utama dalam prinsip ini. Di proses kedua, penolong mendekati para penyintas dengan membangun rapport dan mengembangkan kemampuan mendengarkan aktif untuk memahami apa yang mereka rasakan. Dengan mendengarkan aktif, penolong juga dapat lebih mendalami hal-hal yang menjadi kebutuhan utama bagi para penyintas.
- Link (Hubungkan)
Prinsip terakhir ini merupakan penerapan dari prinsip sebelumnya, dimana penolong akan =&5=& penyintas untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar serta mengatasi permasalahan yang mereka alami. Tidak hanya berhenti sampai di situ, penolong juga dapat memberikan informasi yang mereka ketahui dan mencoba =&6=& penyintas dengan keluarga mereka maupun pihak-pihak terkait yang memiliki bantuan yang dibutuhkan oleh penyintas.
Ketiga prinsip diatas merupakan langkah-langkah yang membantu penolong dalam mengaplikasikan PFA kepada para penyintas. Namun, masih terdapat beberapa hal lain yang yang perlu =&7=&dalam memberikan pertolongan pertama psikologis, di antaranya adalah (National Child Traumatic Stress Network and National Center for PTSD, 2006; WHO, 2009):
PFA =&8=& merupakan terapi.
PFA bisa diberikan oleh =&9=& yang sudah memahami makna serta prinsip-prinsip yang tertera dalam PFA, terutama melalui pelatihan yang diberikan oleh tenaga kesehatan mental profesional.
Sangat penting bagi para penolong untuk =&10=& terlebih dahulu sebelum menolong yang lain. Pada saat memberikan pertolongan, menjaga kesehatan mental diri sendiri sebagai penolong merupakan hal yang utama.
=&11=&merupakan kunci utama penolong agar dapat memberikan PFA dengan lancar. Salah satu upayanya adalah dengan tidak memaksakan kehendak penyintas untuk menceritakan seluruh peristiwa yang mereka alami.
Merupakan hal yang wajar apabila terdapat penyintas berasal dari budaya yang berbeda dengan penolong. Untuk itu, penolong harus bisa =&12=& perilaku sesuai dengan budaya yang dianut penyintas atau dengan penolong lainnya.
Salah satu perilaku yang dapat dihindari adalah dengan =&13=&
Hampir 1000 peserta terdaftar dalam acara yang bisa disimak melalui platform Zoom dan Youtube Live Streaming ini. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB ini tidak hanya menghadirkan para pembicara utama, melainkan juga dihadiri oleh perwakilan dari Ikatan Psikolog Klinis dan Health Promoting University (HPU) Universitas Gadjah Mada. Acara dibuka dengan sambutan yang diberikan oleh perwakilan pihak dekanat Fakultas Psikologi UGM, yaitu Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti. Selanjutnya, seminar dilanjutkan dengan materi yang dibawakan oleh pembicara utama, yaitu Dr. Siti Khalimah. Beliau yang merupakan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyampaikan materi terkait kondisi kesehatan jiwa di Indonesia dan pentingnya kepedulian setiap pihak dalam meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat.
Di sesi berikutnya, seminar diisi oleh Dr. John Defrain yang merupakan profesor emeritus sekaligus peneliti dalam bidang keluarga dan pengembangan masyarakat di University of Nebraska-Lincoln, Amerika Serikat. Dalam kesempatan ini, beliau memberikan materi yang bertajuk “How We Develop Genuine Intimacy with Each Other” yang membahas seputar pentingnya membangun intimasi di dalam keluarga untuk kondisi kesehatan mental bersama. Acara kemudian dilanjutkan oleh Dr. Gunawan Setiadi yang merupakan pendiri Panti Rehabilitasi Jiwa dan Narkoba “Tirto Jiwo”. Beliau menyampaikan pemaparan terkait proses pelayanan rehabilitasi psikososial yang selama ini dilakukan melalui lembaga yang beliau dirikan.
Berikutnya, seminar diisi oleh empat psikolog yang telah berkiprah lebih dari 10 tahun di layanan fasilitas kesehatan tingkat I di tingkat kecamatan, atau yang lebih dikenal dengan nama “Pusat Kesehatan Masyarakat” (Puskesmas). Para psikolog puskesmas yang berkesempatan untuk hadir pada seminar ini adalah Siam Hanifah, Adis Yuniasih, Dewi Prabasari V., dan Army Widyastuti. Pada sesi ini, keempat psikolog memberikan materi yang menjelaskan tentang kiprah psikolog puskesmas dalam memberikan layanan kesehatan mental di tengah masyarakat yang mudah diakses serta berbagai program lain yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental. Acara kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab beserta diskusi. (RED/VAP)
Kesehatan mental merupakan komponen esensial untuk membentuk relasi sosial, menjaga produktivitas, keseimbangan hidup sehari-hari, dan hubungan seimbang dengan lingkungan. Jika individu sehat secara mental, individu akan dapat terus berkembang dan berkontribusi sebagai masyarakat. Sayangnya, banyak masyarakat yang masih awam dengan isu kesehatan mental seperti pengelolaan stres maupun berbagai jenis gangguan jiwa dan cara penanganannya.
Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, penderita gangguan jiwa di Indonesia tercatat mengalami peningkatan. Peningkatan ini terungkap dari kenaikan prevalensi rumah tangga yang memiliki orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Indonesia dengan indikator keluarga sehat secara nasional untuk penderita gangguan jiwa berat diobati dan tidak ditelantarkan sebesar 17,08%. Hal ini diperparah dengan adanya stigma terhadap ODGJ di kalangan masyarakat yang cukup tinggi. Stigma ini muncul karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kondisi ODGJ. Kuatnya pengaruh stigma ini kerap menyebabkan masyarakat enggan mengakses layanan kesehatan mental. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan mental di masyarakat tersebut, salah satu faktor yang signifikan adalah rendahnya literasi kesehatan mental.
Literasi kesehatan mental merupakan pengetahuan dan keyakinan mengenai gangguan-gangguan mental yang membantu rekognisi, manajemen, dan prevensi. Pengetahuan akan pentingnya kesehatan mental akan berdampak pada peningkatan pengetahuan umum diantaranya:
- Pengetahuan tentang bagaimana mencegah gangguan mental;
- Pengetahuan tentang kondisi gangguan mental dasar;
- Pengetahuan tentang opsi pencarian pertolongan dan perawatan yang tersedia;
- Pengetahuan tentang strategi pertolongan mandiri yang efektif untuk masalah yang lebih ringan; dan
- Keterampilan pertolongan pertama untuk mendukung orang lain yang mengalami gangguan mental atau berada dalam krisis kesehatan mental (Kutcher, Wei, & Coniglio, 2016).
Jika masyarakat terus dilatih kepekaan dan ditingkatkan ilmu pengetahuannya berkaitan dengan hal-hal tersebut, maka isu kesehatan mental akan semakin terbiasa didengar oleh masyarakat dan dapat menjadi bagian pembicaraan sehari-hari. Hal ini akan membantu masyarakat dalam mengakses bantuan yang dibutuhkan sehingga keterampilannya dalam mencari bantuan (help-seeking behavior) akan meningkat. Tidak hanya itu, individu akan lebih mudah dan tanggap dalam mengenali tanda-tanda stres yang berdampak buruk pada dirinya dan mempercepat akses pertolongan sesuai gejala yang dialami. Dengan meningkatnya literasi kesehatan mental, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan/masalah mental akan berkurang sehingga kesejahteraan masyarakat secara psikologis dapat tercapai.
Referensi:
Handayani, T., Ayubi, D., & Anshari, D. (2020). Literasi Kesehatan Mental Orang Dewasa dan Penggunaan Pelayanan Kesehatan Mental. Perilaku dan Promosi Kesehatan: Indonesian Journal of Health Promotion and Behavior, 2(1), 9-17.
Kutcher S., Wei Y., & Coniglio C. 2016. Mental health literacy: Past, present, and future. Can J Psychiatry. 61(3).
Praharso, N. F., Pols, H., & Tiliopoulos, N. (2020). Mental Health Literacy of Indonesian Health Practitioners and Implications for Mental Health System Development. Asian Journal of Psychiatry, 102168.
Riskesdas, T. (2018). Profil Kesehatan Indonesia 2018.
World Health Organization. (2020, September 25).
Mental health: a state of well-being.
Sebaliknya, ketika seorang pekerja mengalami tekanan karena masalah keluarga, keuangan maupun kesehatan, kesejahteraan mental dan fisik mereka dapat terganggu (Mavridis, et al., 2019). Ujung-ujungnya, produktivitas mereka juga akan menurun sebagai efek dari memburuknya kondisi kesejahteraan psikologis.
Sebagai tempat di mana banyak individu menghabiskan sebagian besar waktunya, perusahaan/organisasi perlu memperhatikan kondisi lingkungan kerja yang akan mendukung kesejahteraan psikologis seseorang.
Menurut Littlefield, Stitzel, & Giese (2014), terdapat lima pilar dalam tempat kerja yang sehat secara psikologis, yaitu kepemimpinan yang suportif, kejelasan peran, keterlibatan karyawan, pengembangan dan pertumbuhan, dan antusiasme.
- Kepemimpinan yang suportif
Kepimpinan yang suportif berarti sejauh mana para pemimpin mengerti kebutuhan-kebutuhan karyawan dan menyediakan sebuah lingkungan yang memicu keterlibatan karyawan, pengembangan dan dukungan.
- Kejelasan peran
Kejelasan peran berarti sejauh mana karyawan memiliki “sense of purpose” dan mengetahui apa yang diharapkan dari mereka. Hal ini akan membantu karyawan untuk bekerja sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan.
- Keterlibatan Karyawan
Keterlibatan karyawan berarti sejauh mana karyawan berkolaborasi, berbagi ide-ide dan mengatasi persoalan bersama, menuju ke pemahaman bersama dan satu tujuan. Aspek keterlibatan karyawanterdiri dari:
- Kerja tim, yakni kesempatan untuk staf untuk bekerja bersama-sama.
- Pemberdayaan, yakni kesempatan untuk terlibat dalam keputusan yang berpengaruh pada kinerja harian.
- Kepemilikan, yakni menyamakan tujuan karyawan dengan tujuan dan pendekatan tim dan organisasi.
- Pengembangan dan Pertumbuhan
Pengembangan dan pertumbuhan berarti sejauh mana organisasi menghargai usaha karyawannya dan menyediakan pembelajaran yang sesuai serta kesempatan untuk berkembang, termasuk di antaranya adalah
- Umpan balik dan penghargaan, yakni memampukan pegawai untuk menerima umpan balik dari performansi kerja mereka.
- Pembelajaran dan pengembangan, yakni memampukan pegawai untuk belajar dan berkembang sesuai dengan peran mereka masing-masing.
- Antusiasme
Antusiasme meliputi elemen emosional karyawan ketika berada di tempat kerja, seperti motivasi dan komitmen mereka, termasuk antusiasme individu dan kerja tim.
Dengan memperhatikan aspek-aspek di atas, psikolog dan sarjana psikologi yang bekerja di ranah ini dapat mempromosikan kesejahteraan psikologis di tempat kerja dan membuat sistem deteksi dini kesehatan jiwa di lingkungan kerja agar orang-orang yang memerlukan pertolongan dapat ditangani sejak dini. Contoh program yang telah teruji dan diterapkan dirintis oleh pemerintah Australia, yaitu Beyondblue Workplace National Program yang merupakan program edukasi yang dikembangkan untuk membantu perusahaan/organisasi mengatur gangguan-gangguan kesehatan mental yang sering muncul, seperti depresi dan kecemasan. Sasaran dari program ini, yaitu para karyawan, manajer, HRD, dan eksekutif. Contoh program lainnya, yaitu the SANE Mindful Employer Program, sebuah program yang dikembangkan oleh SANE Australia. Program ini bertujuan untuk memberikan keterampilan-keterampilan dan meningkatkan kepercayaan diri para karyawan untuk merespon secara efektif tanda-tanda gangguan mental di tempat kerja.
Promosi kesejahteraan psikologis (well-being) individu juga dapat dilakukan oleh pihak manajemen organisasi/perusahaan dengan menyusun kebijakan yang ramah terhadap keluarga, atau yang dikenal dengan istilah “kebijakan ramah keluarga” (family friendly policy). Family-Friendly Policy atau kebijakan ramah keluarga didefinisikan sebagai kebijakan yang membantu menyeimbangkan dan menguntungkan baik pekerjaan maupun kehidupan keluarga yang biasanya menyediakan tiga jenis sumber daya penting yang dibutuhkan oleh orang tua dan pengasuh anak kecil: waktu, keuangan, dan layanan (UNICEF, 2019). Misalnya, kebijakan cuti melahirkan bagi pekerja wanita selama 1-3 bulan. Contoh kebijakan lainnya adalah cuti bagi pekerja lelaki yang istrinya baru saja melahirkan.
Dengan memperhatikan kesejahteraan psikologis individu di lingkungan kerja, perusahaan tidak hanya akan membantu individu agar lebih produktif, melainkan juga akan berkontribusi terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Referensi
Kesehatan jiwa, well-being dan literasi kesehatan mental. Diana Setiyawati. Center for Public Mental Health. Materi presentasi.
Beyondblue National Workplace Program. (n.d.). Retrieved from https://www.headsup.org.au/training-and-resources/educational-programs/beyondblue-national-workplace-program
Johnson et al. (2020). Do Low Self-Esteem and High Stress Lead to Burnout Among Health-Care Workers? Evidence From a Tertiary Hospital in Bangalore, India. Safety and Health at Work. https://doi.org/10.1016/j.shaw.2020.05.009
Mavridis et al. (2019). Family workers, stress, and the limits of self-care. Children and Youth Services 236-246. https://doi.org/10/1016/j.childyouth.2019.06.011
Mental health in the workplace. (2017, January 31). Retrieved from
https://www.sane.org/employers/147-mental-health-in-the-workplace
Ketahanan dalam keluarga menggambarkan interaksi dan komunikasi antar individu yang harmonis dan sejahtera secara fisik maupun psikis. Berdasarkan The International Family Strengths Model, ketahanan keluarga terdiri dari enam kriteria, antara lain