Hampir setiap orang yang mengalami situasi darurat atau krisis akan merasakan tekanan psikologis, meskipun sebagian besar dapat pulih seiring waktu apabila memperoleh dukungan yang tepat. Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan Psychological First Aid (PFA) sebagai bentuk dukungan awal yang bersifat manusiawi, suportif, dan praktis bagi individu yang sedang mengalami tekanan akibat peristiwa krisis. PFA tidak dimaksudkan sebagai terapi, melainkan pertolongan pertama psikologis yang membantu seseorang merasa lebih aman, tenang, serta terhubung dengan bantuan yang dibutuhkan.
Sebagai bentuk penguatan kapasitas mahasiswa dalam memberikan dukungan psikologis awal, Divisi Medis PIONIR Psikologi Rumah Kita (PRK) 2026 menyelenggarakan Kegiatan Kelas Medis Psychological First Aid (PFA) bertajuk “Respond with Action, Recover with Care” pada Jumat (17/7). Kegiatan yang diikuti oleh 95 peserta ini menghadirkan Anggit Nursasmito, S.Psi., dari Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada sebagai narasumber.
Pada sesi awal, Anggit mengajak peserta memahami konsep Mental Health State melalui segitiga kondisi kesehatan jiwa yang menggambarkan hubungan antara tekanan (stress) dan kerentanan (vulnerability). Melalui konsep tersebut, peserta diajak mengenali bahwa setiap individu dapat berada pada kondisi kesehatan mental yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan dan bentuk dukungan yang berbeda pula.

Selanjutnya, peserta mempelajari dasar-dasar Psychological First Aid, mulai dari definisi krisis, berbagai bentuk krisis yang memerlukan PFA, kapan dan di mana PFA dapat diberikan, alasan pentingnya PFA, piramida pertolongan psikologis, hingga pemahaman bahwa reaksi emosional dalam situasi krisis merupakan respons yang normal terhadap kondisi yang tidak normal. Selain itu, peserta juga memperoleh materi mengenai tujuan PFA, kondisi ketika seseorang memerlukan bantuan yang melampaui PFA, prinsip membantu secara bertanggung jawab, serta pentingnya self-care bagi pemberi bantuan.
Pada pembahasan prinsip PFA, Anggit menjelaskan pendekatan Look, Listen, Link sebagai panduan utama dalam memberikan pertolongan psikologis awal. Ketiga prinsip tersebut membantu penolong untuk mengamati kebutuhan individu, mendengarkan secara empatik, serta menghubungkan individu dengan dukungan maupun layanan yang sesuai apabila diperlukan. “Prinsip dalam Listen yaitu talk less, listen more,” ujar Anggit.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dasar untuk memberikan dukungan psikologis awal secara aman, empatik, dan sesuai dengan batas kompetensi. Pemahaman mengenai PFA juga diharapkan dapat membantu mahasiswa lebih peka dalam mengenali individu yang membutuhkan pertolongan serta mengetahui kapan harus menghubungkan mereka kepada layanan profesional.
Sejalan dengan rekomendasi WHO mengenai pentingnya Psychological First Aid sebagai respons awal dalam situasi krisis, CPMH terus berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi kesehatan mental. Dengan semakin banyak individu yang memahami prinsip-prinsip PFA, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih responsif, peduli, dan mampu memberikan dukungan psikologis awal sebelum seseorang memperoleh penanganan lebih lanjut sesuai kebutuhannya.