Keluarga merupakan lingkungan utama bagi tumbuh kembang dan kesejahteraan anak. Namun, tidak semua keluarga memiliki kondisi dan sumber daya yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar. Laporan Bappenas, BPS, SMERU, dan UNICEF berdasarkan data SUSENAS 2023 menunjukkan bahwa 37,4% atau sekitar 29,8 juta anak di Indonesia mengalami deprivasi multidimensi, yaitu kekurangan pada setidaknya dua dimensi kesejahteraan dasar.
SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh
Indonesia memiliki sekitar 46 juta remaja atau sekitar 17% dari total populasi. Dalam laporan WHO tahun 2024, gangguan kecemasan termasuk salah satu penyebab utama disability-adjusted life years (DALYs) pada remaja di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan yang dapat membantu remaja menghadapi berbagai tekanan selama masa perkembangannya, termasuk dukungan yang hadir dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.
Generasi emas Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas pendidikan dan pembangunan, tetapi juga oleh kualitas keluarga sebagai lingkungan pertama tempat anak tumbuh dan berkembang. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), isu keluarga menjadi perhatian penting. Data yang disampaikan dalam forum advokasi menunjukkan bahwa pada 2025 tercatat 1.152 korban kekerasan di DIY, termasuk 432 anak dan 500 kasus yang terjadi dalam rumah tangga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan keluarga perlu menjadi bagian penting dari upaya membangun generasi yang sehat, aman, dan tangguh.
Urgensi advokasi kesehatan mental di Indonesia tercermin dari berbagai data kesehatan nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 2,0% penduduk berusia 15 tahun ke atas terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa dalam satu bulan terakhir, sementara prevalensi depresi mencapai 1,4%. Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, keluarga, hingga masyarakat. Upaya tersebut diperlukan untuk memperkuat literasi kesehatan mental, mengurangi stigma, memperluas akses layanan, serta mendorong kebijakan yang mendukung kesehatan mental masyarakat.
Keluarga merupakan salah satu lingkungan utama yang membentuk kesehatan dan perkembangan individu sejak usia dini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan keluarga dan pengasuh sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Melalui pendekatan nurturing care, WHO menekankan pentingnya lingkungan yang aman, responsif, serta dukungan terhadap kebutuhan kesehatan, gizi, perkembangan, dan kesejahteraan anak. Dukungan terhadap keluarga pun menjadi bagian penting agar pengasuh mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara optimal.
Kehadiran dan keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang serta kesejahteraan psikologis anak. Data Profil Anak Indonesia 2025 menunjukkan bahwa pada 2024, interaksi orang tua dan anak masih banyak berlangsung melalui aktivitas bersama, seperti makan bersama (86,18%) dan mengobrol (78,44%). Data tersebut menggambarkan bahwa interaksi sehari-hari menjadi salah satu ruang penting bagi keluarga untuk membangun kedekatan. Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dasar, keluarga juga memiliki peran dalam memberikan kasih sayang, rasa aman, perlindungan, dan dukungan emosional yang dibutuhkan anak untuk berkembang secara optimal.
Masa kanak-kanak kerap dibayangkan sebagai periode yang penuh permainan, rasa ingin tahu, dan pengalaman menyenangkan. Namun, tidak semua anak memiliki pengalaman yang sama. Bagi sebagian anak, masa tersebut justru diwarnai kekerasan, penelantaran, atau pengalaman traumatis yang dapat membekas hingga dewasa. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa sekitar enam dari sepuluh anak di dunia, diperkirakan mencapai 400 juta anak berusia di bawah lima tahun, mengalami hukuman fisik dan/atau kekerasan psikologis dari orang tua maupun pengasuh secara rutin. WHO juga memperkirakan bahwa satu dari lima perempuan dan satu dari tujuh laki-laki pernah mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental anak dalam jangka panjang, bahkan berkontribusi terhadap dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Keluarga bagi sebagian orang merupakan tempat yang aman untuk pulang dan ruang untuk diterima apa adanya. Namun, bagi sebagian lainnya, rumah justru dapat menjadi tempat munculnya rasa takut dan kekerasan. Data Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan, termasuk yang terjadi dalam ranah personal atau rumah tangga, masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana kekerasan dalam keluarga dipahami ketika setiap keluarga hidup dalam latar sosial dan budaya yang berbeda?
Remaja membutuhkan hubungan yang hangat dan komunikasi yang terbuka dengan orang dewasa di sekitarnya sebagai fondasi bagi kesehatan mental dan perkembangan sosial emosionalnya. UNICEF menekankan bahwa komunikasi yang penuh empati merupakan salah satu kunci dalam membangun kesejahteraan mental remaja. Sebaliknya, ketika remaja merasa tidak didengarkan atau perasaannya diabaikan, mereka cenderung enggan untuk kembali bercerita. Oleh karena itu, kemampuan orang tua maupun orang dewasa untuk mendengarkan dengan empatik menjadi bekal penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi remaja.
Budaya senioritas yang tidak sehat masih menjadi salah satu tantangan di lingkungan pendidikan berasrama. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berulang kali mengingatkan pentingnya mencegah segala bentuk kekerasan dan perundungan yang kerap berakar pada relasi senior-junior yang tidak setara. Oleh karena itu, penguatan keterampilan mengelola konflik dan berkomunikasi secara sehat menjadi salah satu upaya penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan peserta didik.