Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam upaya promotif dan preventif kesehatan mental melalui kegiatan Seminar Edukasi Anti-Bullying di SMP dan SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Sleman. Mengusung tema “No Drama, No Bullying, Just Respect”, kegiatan ini diikuti oleh 375 santri SMP dan 347 santri SMA.
Seminar diselenggarakan secara terpisah untuk jenjang SMP dan SMA dengan menghadirkan narasumber dari CPMH Psikologi UGM. Sesi untuk santri SMP disampaikan oleh Tri Aji Wicaksono, S.Psi., Psikolog, sementara sesi untuk santri SMA dibawakan oleh Anggit Nursasmito, S.Psi.
Kegiatan diawali dengan aktivitas interaktif yang mengajak peserta untuk merefleksikan makna respek atau sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari. Melalui berbagai contoh dan diskusi yang dekat dengan pengalaman remaja, peserta diajak memahami bahwa lingkungan yang aman dan nyaman dapat tercipta ketika setiap individu mampu menghormati perbedaan dan memperlakukan orang lain dengan baik.
Dalam pemaparan materi, narasumber menjelaskan berbagai bentuk perilaku bullying, karakteristik para pihak yang terlibat, serta dampak yang dapat ditimbulkan bagi korban maupun lingkungan sekitar. Peserta juga diajak mengenali berbagai peran dalam situasi bullying, mulai dari pelaku, korban, hingga saksi atau bystander.

Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam seminar ini adalah pentingnya mengubah posisi dari bystander menjadi upstander. Tidak hanya menjadi penonton ketika terjadi perundungan, peserta didorong untuk berani mengambil langkah positif dengan memberikan dukungan kepada korban, melaporkan kejadian kepada pihak yang dapat membantu, atau menghentikan perilaku yang merugikan orang lain dengan cara yang aman.
Selain itu, narasumber menekankan bahwa sikap menghargai orang lain merupakan fondasi utama dalam mencegah bullying. Peserta diajak untuk memahami bahwa setiap individu memiliki latar belakang, karakter, dan pengalaman yang berbeda sehingga layak diperlakukan dengan hormat. “Apabila seseorang belum mampu menghargai orang lain, setidaknya jangan memilih untuk menyakiti mereka”, ujar Anggit. Demikian pula, ketika tidak mampu membela korban bullying secara langsung, jangan sampai memberikan dukungan atau pembenaran kepada pelaku bullying.
Melalui kegiatan ini, CPMH Psikologi UGM berharap para santri dapat menjadi agen perubahan yang berperan aktif dalam menciptakan budaya sekolah yang lebih aman, sehat, dan penuh rasa hormat. Edukasi mengenai bullying tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun keberanian untuk bertindak serta menumbuhkan empati terhadap sesama.
Seminar ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan psikologis remaja, sehingga setiap siswa dapat belajar dan bertumbuh secara optimal tanpa rasa takut terhadap perundungan.
Penulis: Nurul Hidayati