Kehadiran ayah dalam keluarga menjadi tema yang diangkat Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026. Melalui Center for Public Mental Health (CPMH), Fakultas Psikologi UGM bekerja sama dengan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan seminar bertajuk A Shoulder to Cry On: Bertahan Bersama, Bertumbuh Bersama, Menghadirkan Ayah dalam Keluarga pada Jumat (3/7) di Selasar D-100 Fakultas Psikologi UGM dan secara daring melalui Zoom dan kanal YouTube.
Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 700 peserta, baik secara luring maupun daring, dari berbagai daerah di Indonesia. Seminar tersebut merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan CPMH untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya peran ayah dalam tumbuh kembang anak serta dalam membangun dinamika keluarga yang sehat.
Selain dihadiri masyarakat umum, kegiatan ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Peserta yang hadir secara luring antara lain jajaran pimpinan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dari seluruh kabupaten/kota di DIY, unsur pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, lembaga layanan keluarga, serta berbagai mitra pembangunan keluarga. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan keluarga dan mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
Acara dibuka dengan sambutan dari Dekan Fakultas Psikologi UGM selaku tuan rumah, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. Dalam sambutannya, Rahmat menyampaikan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun keluarga yang sehat serta mendukung keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta, Rohina, M.Si., yang menegaskan komitmen Kemendukbangga/BKKBN dalam memperkuat peran keluarga melalui berbagai program pembangunan keluarga, termasuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan sebagai salah satu pilar penting bagi tumbuh kembang anak.
Seminar menghadirkan G.K.B.R.A.A. Paku Alam selaku Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai keynote speaker. Selain itu, hadir tiga narasumber yang memiliki kepakaran di bidang keluarga dan pengasuhan, yaitu Prof. Avin Fadilla Helmi, M.Si., dosen Fakultas Psikologi UGM; Cahyadi Takariawan, S.Si., Apt., pendiri Wonderful Family Institute; serta Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, yang juga merupakan Kepala CPMH Fakultas Psikologi UGM. Acara dimoderatori oleh Nurdiyanto, mahasiswa Fakultas Psikologi UGM.

Dalam sambutannya, G.K.B.R.A.A. Paku Alam menegaskan bahwa peran ayah tidak hanya diukur dari kuantitas kehadiran, tetapi juga kualitas interaksi yang dibangun bersama anak. Menurutnya, ayah memiliki dua peran penting, yaitu sebagai pemomong dan pemangku. Sebagai pemomong, ayah berperan membimbing anak dengan penuh kasih sayang melalui perhatian, dukungan emosional, dan pendampingan sehingga anak merasa aman serta mampu berkembang secara optimal. Sementara itu, sebagai pemangku, ayah berperan mendidik anak dengan memberikan teladan, menanamkan nilai, norma, dan disiplin, serta mengarahkan anak agar tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan mampu mengambil keputusan secara bijaksana.
G.K.B.R.A.A. Paku Alam juga menekankan bahwa keterlibatan ayah merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun keluarga yang tangguh. Kehadiran ayah yang berkualitas tidak hanya berdampak pada perkembangan anak, tetapi juga memperkuat relasi dalam keluarga dan mendukung terwujudnya kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.
Prof. Avin Fadilla Helmi menyoroti bahwa figur ayah tidak selalu hadir karena ikatan biologis. “Tidak semua ayah hadir karena ikatan darah. Ada yang menjadi ayah karena memilih untuk hadir, menjaga, dan mengasihi dengan sepenuh hati,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa seorang anak membutuhkan peran ayah pada setiap tahap perkembangannya. Kehadiran ayah berperan penting dalam memberikan rasa aman, menjadi teladan (role model), memberikan dukungan emosional, membantu pembentukan identitas diri, serta menjaga kontinuitas pengasuhan sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Lebih lanjut, Avin menjelaskan bahwa keterlibatan ayah dalam kehidupan anak juga berkaitan dengan perkembangan kemampuan sosial, kepercayaan diri, dan kesehatan mental anak. Oleh karena itu, ayah perlu hadir tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional melalui interaksi yang hangat, responsif, dan konsisten.
Sementara itu, Cahyadi Takariawan menekankan pentingnya kesamaan visi dalam keluarga. Menurutnya, ikatan terkuat dalam keluarga bukan semata-mata kasih sayang, melainkan kesamaan visi dan misi dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Dengan tujuan, nilai, dan arah yang sama, setiap anggota keluarga akan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan, saling mendukung, serta menjaga keharmonisan dan keberlangsungan keluarga dalam jangka panjang.
Ia juga menjelaskan bahwa relasi suami istri yang sehat ditandai oleh hubungan yang saling melengkapi, memiliki kelekatan emosional yang kuat, menerapkan kepemimpinan yang bertanggung jawab, menciptakan kebersamaan yang menyenangkan, serta saling menghargai ruang dan kebebasan masing-masing dalam batas yang disepakati bersama. Menurutnya, hubungan yang sehat antara orang tua menjadi landasan penting bagi terciptanya lingkungan pengasuhan yang positif bagi anak.
Pada kesempatan yang sama, Diana Setiyawati menekankan bahwa keluarga tidak dapat berfungsi secara optimal tanpa dukungan dari lingkungan yang lebih luas. “Keluarga dapat berfungsi maksimal jika didukung oleh negara melalui penyediaan fasilitas yang memadai serta dukungan dari lingkungan sekitar,” ujarnya.
Sebagai contoh, Diana menjelaskan bahwa Australia telah mengembangkan berbagai program untuk mengoptimalkan keterlibatan ayah dalam keluarga, antara lain Paid Parental Leave (cuti orang tua berbayar), Support for Fathers Program, pelibatan ayah dalam layanan kesehatan ibu dan anak, The Fathering Project, Father-inclusive Family Services, serta kampanye kesehatan mental bagi ayah. Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa penguatan peran ayah memerlukan dukungan kebijakan, layanan, dan ekosistem yang memungkinkan ayah terlibat secara aktif dalam pengasuhan.
Melalui seminar ini, CPMH berharap dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya peran ayah dalam keluarga, khususnya dalam mendukung tumbuh kembang anak, membangun relasi keluarga yang sehat, serta mendorong keterlibatan ayah yang berkualitas melalui pengasuhan yang penuh kasih, dukungan emosional, dan kolaborasi antara keluarga, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan. Seminar ini juga diharapkan dapat memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat, dan berbagai pihak terkait dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak dan ketahanan keluarga Indonesia.
Penulis: Fanysa Naura Husnia
Editor: Nurul Hidayati
Simak rekaman acara seminar keluarga melalui: