• Tentang CPMH
  • Media
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Psikologi
Center for Public Mental Health
  • TENTANG KAMI
    • TENTANG CPMH
    • Visi dan Misi
    • LANGKAH GERAK
    • MITRA
    • Tim Kami
  • AKTIVITAS
    • Advokasi
    • Kuliah Online (Kulon)
    • Mindtenance
    • Mindspiration
    • LAIN-LAIN
  • SUMMER COURSE
    • 2026
    • 2025
    • 2024
    • 2023
    • 2017-2022
  • ARTIKEL PSIKOEDUKASI
  • E-LIBRARY
  • Beranda
  • Kegiatan Lain
  • CPMH UGM Dorong Penguatan Dukungan Sistemik bagi Kesehatan Mental Orang Tua Anak Atipikal

CPMH UGM Dorong Penguatan Dukungan Sistemik bagi Kesehatan Mental Orang Tua Anak Atipikal

  • Kegiatan Lain, Pengabdian Kepada Masyarakat, Rilis
  • 22 April 2026, 13.41
  • Oleh: admin
  • 0

Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM menyelenggarakan talk show bertajuk “Kesehatan Mental Orang Tua dan Caregiver Anak Atipikal: Kesehatan Mental Bukan Hanya Milik Anak, tetapi Juga Keluarga” secara hybrid di Auditorium Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM, Senin (20/4).

Kegiatan ini dihadiri oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari orang tua anak atipikal, guru, perwakilan LSM, tenaga kependidikan, hingga instansi pemerintah seperti Disdikpora DIY dan pemerintah kabupaten/kota di DIY serta UPT Unit Layanan Disabilitas (ULD) Kota Yogyakarta.

Direktur CPMH, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, dalam sambutannya menegaskan bahwa ketangguhan keluarga, termasuk keluarga dengan anak atipikal, tidak dapat dibebankan pada individu semata. Dukungan dari masyarakat dan kebijakan pemerintah sangat diperlukan agar keluarga dapat bertahan dan berkembang.

Dalam sesi talk show, Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, menjelaskan bahwa anak atipikal adalah anak yang mengalami perbedaan dalam tahapan perkembangan, baik secara medis maupun psikologis. Ia menyoroti bahwa dalam budaya Indonesia, beban pengasuhan masih banyak bertumpu pada ibu, yang berdampak pada kesehatan mental mereka.

Sementara itu, Rizki Amelia atau Qiqi Amelia, seorang influencer, mompreneur sekaligus orang tua anak atipikal, membagikan pengalaman personalnya. “Stresnya bukan karena memiliki anak atipikal, tapi karena tidak ada yang mendukung. Orang-orang di sekitar justru menyalahkan,” ungkapnya.

Edilburga menambahkan bahwa kesehatan mental orang tua kerap terabaikan karena perhatian lebih banyak tertuju pada anak. “Seolah-olah orang tua tidak boleh mengeluh atau merasa lelah, padahal itu wajar,” jelasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya dukungan sistemik dari pemerintah dan masyarakat, serta mendorong orang tua dan guru untuk tidak ragu mencari bantuan profesional jika mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi sehari-hari.

Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta, baik peserta luring maupun daring. Sejumlah peserta berbagi pengalaman sebagai orang tua maupun guru anak disabilitas, sekaligus menyampaikan harapan akan lingkungan yang lebih suportif. Salah satu peserta mengusulkan gerakan Ayah Peduli Keluarga untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Perwakilan komunitas Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) juga menyoroti perlunya kebijakan BPJS yang tidak membatasi layanan terapi anak dengan cerebral palsy hingga usia tertentu. Sementara itu, UPT ULD Kota Yogyakarta memperkenalkan layanan yang dapat diakses oleh keluarga dengan anak disabilitas.

Peserta juga berharap forum serupa dapat lebih sering diselenggarakan sebagai ruang berbagi pengalaman dan menyuarakan kebutuhan mereka.

Menutup diskusi, Edilburga menegaskan bahwa “Kesehatan mental orang tua anak atipikal bukan nomor dua.” Ia menekankan perlunya kebijakan pemerintah yang berpihak dan berkelanjutan, termasuk dalam penyediaan layanan kesehatan mental, akses terapi, dan sistem perlindungan sosial yang inklusif.

Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kesadaran publik bahwa dukungan terhadap anak atipikal harus berjalan seiring dengan perhatian terhadap kesehatan mental orang tua dan caregiver sebagai bagian dari sistem keluarga yang utuh.

Penulis: Nurul Hidayati

Tags: CPMH Disabilitas psikologi ugm SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDGs

Berita Terbaru

  • Bersama Kemenkes dan UNICEF, CPMH Psikologi UGM Perkuat Peran Guru BK di NTT dalam Menangani Kesehatan Jiwa Remaja
  • CPMH UGM Gelar Workshop CBT untuk Berbagai Konteks, dari Keluarga hingga Dunia Kerja
  • Kesehatan Jiwa Anak Dimulai dari Keluarga, CPMH UGM Dorong Penguatan Kebijakan
  • Peran Mental Health Agent dalam Pencegahan Bunuh Diri dan Dukungan Kesehatan Mental Mahasiswa
  • Kesehatan Jiwa di Gunungkidul Jadi Perhatian, CPMH Fakultas Psikologi UGM Dorong Penguatan TPKJM
Universitas Gadjah Mada

Center for Public Mental Health
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Gedung D Lantai 6 Ruang D-603
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
Email: cpmh@ugm.ac.id
Telepon: +62 274 550435 ext. 145
WhatsApp/sms: +62 8132 739 5698

Media Sosial:
Instagram: @cpmhugm

X: @cpmhugm
Facebook: CPMH Psikologi UGM
Threads: @cpmhugm
LinkedIn: Center for Public Mental Health UGM
YouTube: CPMH Psi UGM

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY