Kesehatan mental pada kelompok lanjut usia menjadi salah satu isu yang semakin penting seiring dengan meningkatnya jumlah populasi lansia di dunia. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa sekitar 15% orang berusia 70 tahun ke atas hidup dengan gangguan mental, dengan depresi dan gangguan kecemasan sebagai kondisi yang umum ditemukan. Selain itu, sekitar seperenam kematian akibat bunuh diri secara global terjadi pada kelompok usia 70 tahun ke atas. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya promotif dan preventif untuk menjaga kesehatan mental lansia melalui dukungan keluarga, lingkungan sosial, serta akses terhadap edukasi dan layanan kesehatan mental yang memadai.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai isu kesehatan mental, Center for Public Mental Health (CPMH), Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), menghadirkan program Mindspiration. Program ini merupakan podcast edukatif yang menghadirkan bintang tamu dengan latar belakang dan pengalaman yang relevan dengan tema yang dibahas. Pada Mindspiration #3, CPMH mengangkat tema “Suicide dalam Riset: Fenomena Bunuh Diri dan Nilai Hidup” yang dapat diakses secara gratis melalui laman YouTube CPMH Psi UGM. Program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat CPMH dalam meningkatkan literasi kesehatan mental, khususnya mengenai fenomena bunuh diri.
Mindspiration #3 menghadirkan Nurdiyanto, yang akrab dipanggil Noer, mahasiswa doktoral Fakultas Psikologi UGM yang aktif melakukan riset mengenai bunuh diri. Diskusi dipandu oleh Nurul Hidayati sebagai host. Dalam podcast tersebut, Noer menceritakan perjalanan keterlibatannya dalam penelitian mengenai bunuh diri yang bermula dari pengalaman selama mengerjakan tesis pada masa pandemi COVID-19. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu titik awal yang mendorong ketertarikannya untuk mendalami fenomena bunuh diri melalui penelitian.
Dalam pembahasannya, Noer menjelaskan bahwa bunuh diri tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan individu atau kesehatan mental semata. Fenomena tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan budaya dan konteks sosial tempat seseorang hidup. Nilai-nilai budaya, norma masyarakat, cara memandang penderitaan, hingga pola hubungan antarindividu dapat memengaruhi bagaimana seseorang menghadapi tekanan hidup serta bagaimana lingkungan merespons individu yang sedang mengalami kesulitan.
Menurut Noer, memahami bunuh diri juga berarti memahami sisi kemanusiaan seseorang secara lebih utuh. Pengalaman hidup, relasi sosial, serta latar belakang budaya turut membentuk cara individu memaknai kehidupan dan menentukan bagaimana ia mencari pertolongan ketika menghadapi situasi sulit. Perspektif tersebut penting agar pembahasan mengenai bunuh diri tidak berhenti pada faktor individual, tetapi juga mempertimbangkan konteks yang lebih luas.
Dalam pemaparannya, Noer mengungkapkan, “Budaya tidak hanya melulu tentang kesenian atau tradisi, melainkan juga menjadi cara pandang umum atau komunal yang itu diyakini sebagai sistem bersama, jadi bunuh diri dapat dimaknai dalam aspek tertentu.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa budaya dapat membentuk cara masyarakat memahami dan menafsirkan berbagai peristiwa kehidupan, termasuk bagaimana bunuh diri dipandang, dibicarakan, dan direspons dalam suatu komunitas.
Pembahasan mengenai budaya tersebut juga berkaitan dengan nilai hidup yang menjadi bagian dari tema Mindspiration #3. Nilai yang dimiliki seseorang dapat memengaruhi cara individu memaknai kehidupan, menghadapi penderitaan, serta membangun hubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, upaya memahami fenomena bunuh diri perlu dilakukan dengan mempertimbangkan pengalaman dan konteks kehidupan individu secara menyeluruh.
Melalui program Mindspiration, CPMH Fakultas Psikologi UGM berkomitmen untuk terus menghadirkan edukasi berbasis ilmu pengetahuan mengenai berbagai isu kesehatan mental yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pembahasan mengenai bunuh diri melalui perspektif psikologis, sosial, dan budaya diharapkan dapat membantu masyarakat memahami fenomena tersebut secara lebih komprehensif, sekaligus mendorong terciptanya percakapan yang lebih terbuka dan tidak menghakimi.
Sejalan dengan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, termasuk pada kelompok lansia yang memiliki kerentanan tertentu, pemahaman mengenai bunuh diri perlu dibangun secara utuh dan kontekstual. Melalui edukasi dan literasi kesehatan mental, CPMH terus mendorong masyarakat untuk melihat setiap individu bukan hanya dari persoalan yang dihadapinya, tetapi juga dari pengalaman, relasi, budaya, dan nilai hidup yang membentuk perjalanan kehidupannya.
Penulis: Fanysa Naura Husnia
Editor: Nurul Hidayati