Urgensi advokasi kesehatan mental di Indonesia tercermin dari berbagai data kesehatan nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 2,0% penduduk berusia 15 tahun ke atas terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa dalam satu bulan terakhir, sementara prevalensi depresi mencapai 1,4%. Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, keluarga, hingga masyarakat. Upaya tersebut diperlukan untuk memperkuat literasi kesehatan mental, mengurangi stigma, memperluas akses layanan, serta mendorong kebijakan yang mendukung kesehatan mental masyarakat.
summer course
Keluarga bagi sebagian orang merupakan tempat yang aman untuk pulang dan ruang untuk diterima apa adanya. Namun, bagi sebagian lainnya, rumah justru dapat menjadi tempat munculnya rasa takut dan kekerasan. Data Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan, termasuk yang terjadi dalam ranah personal atau rumah tangga, masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana kekerasan dalam keluarga dipahami ketika setiap keluarga hidup dalam latar sosial dan budaya yang berbeda?
Di balik dinding rumah yang tampak hangat, krisis kesehatan mental dapat menjadi beban tak kasatmata yang dirasakan bersama oleh anak, remaja, hingga orang tua. Laporan The State of the World’s Children 2021: On My Mind yang diterbitkan UNICEF pada 2021 menunjukkan bahwa satu dari tujuh remaja di dunia hidup dengan gangguan emosional. Pada usia tersebut, sebagian besar remaja masih tinggal bersama keluarga, yang idealnya menjadi tempat aman untuk pulang, bertumbuh, dan memperoleh dukungan. Karena itu, keluarga sebagai kelompok sosial pertama tempat individu bernaung memiliki peran penting dalam membentuk dan menjaga kesehatan mental setiap anggotanya.
Seri ketiga merupakan seri penutup di acara “
Prof. Dr. Theo K. Bouman yang merupakan narasumber pertama pada tanggal 27 Juli 2020 di seri kedua ini mengambil tema COVID-19 and Health Anxiety. Bouman merupakan profesor di University of Groningen, Netherland dan juga psikolog klinis yang ahli dalam bidang terapi perilaku kognitif dimana telah berkontribusi pada banyak penelitian tentang CBT dan kecemasan gangguan somatoform yang saat ini juga bekerja sama dengan CPMH untuk mengembangkan protokol CBT berbasis budaya untuk intervensi di Indonesia. Peserta dalam sesi kali ini berjumlah 497 peserta yang berpartisipasi melalui Zoom.
Pada tanggal 28 Juli 2020, sesi ini mengusung tema “Common Mental Disorders & Pandemics” dibawakan oleh narasumber Prof. Grant Blashki, seorang seniman yang juga berprofesi sebagai dokter dan dosen di University of Melbourne. Blashki menjadi penasihat klinis di beyondblue.com.au dimana website tersebut adalah salah satu situs web kesehatan mental terpopuler di Australia. Peserta di hari kedua berjumlah sekitar 494.
Hari ketiga Prof. Stanley Kutcher, seorang emeritus di University Dalhouise dan Senator Kanada menjadi pemateri. Kutcher merupakan ahli kesehatan mental yang mengembangkan sistem kesehatan mental remaja secara nasional dan internasional. Materi yang dibawakan bertema “
The Role Schools and Universities in Helping People Cope With Pandemics”
Sebagai moderator acara yaitu Direktur CPMH Ibu Dr. Diana Setiyawati, sukses memandu acara dari awal hingga akhir sesi pertama diikuti kurang lebih 400 peserta secara daring melalui WEBEX. Peserta The Online Summer Lecture Series memiliki latar belakang yang beragam seperti mahasiswa, dosen, psikolog, karyawan, hingga ibu rumah tangga. Acara ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga siapapun bisa mengikuti kegiatan ini.
Sesi pertama dari The Online Summer Lecture Series tanggal 20 Juli 2020, diisi oleh Ruth Wraith. Wraith adalah Dosen di University Of Melbourne, Australia dan juga seorang ahli dalam bidang anak-anak, keluarga, dan trauma anak-anak dalam pemulihan bencana. Selain itu, ia juga salah satu pelapor dan pelatih internasional mengenai masalah pemulihan pasca bencana. Pada saat bencana Tsunami Aceh tahun 2004 Wraith pernah menjadi penasihat kesehatan mental. Materi yang disampaikan adalah
Understanding COVID-19 as a disaster: reframing pandemics to gain strength