Generasi emas Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas pendidikan dan pembangunan, tetapi juga oleh kualitas keluarga sebagai lingkungan pertama tempat anak tumbuh dan berkembang. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), isu keluarga menjadi perhatian penting. Data yang disampaikan dalam forum advokasi menunjukkan bahwa pada 2025 tercatat 1.152 korban kekerasan di DIY, termasuk 432 anak dan 500 kasus yang terjadi dalam rumah tangga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan keluarga perlu menjadi bagian penting dari upaya membangun generasi yang sehat, aman, dan tangguh.
Persoalan tersebut menjadi salah satu konteks dalam International Short Course on Psychology (ISCP) 2026 yang diselenggarakan oleh Center for Public Mental Health (CPMH), Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan tema “Turning a House into a Home: Understanding and Responding to Toxic Parenting in Asian Contexts”. Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua pekan, terdiri atas satu pekan secara daring dan satu pekan secara luring.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta ISCP 2026 mengunjungi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kantor DPRD DIY pada Jumat (4/9). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran yang menghubungkan isu keluarga dengan konteks budaya dan kebijakan.

Kunjungan ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Peserta dan panitia didampingi para abdi dalem untuk mengenal sejumlah bagian kompleks Keraton beserta fungsi dan sejarahnya. Peserta juga mengunjungi Pameran Daur Hidup serta menyaksikan penampilan tembang macapat di Bangsal Sri Manganti.
Selain memperkenalkan sejarah dan budaya Yogyakarta, kunjungan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk memahami bagaimana nilai dan tradisi turut membentuk kehidupan keluarga dan masyarakat. Pemahaman terhadap konteks budaya menjadi penting dalam melihat persoalan keluarga, termasuk pola pengasuhan dan relasi di dalamnya.
Setelah kunjungan ke Keraton, rombongan melanjutkan agenda ke Kantor DPRD DIY untuk mengikuti sesi advokasi bertema Penguatan Keluarga sebagai Fondasi Generasi Emas Indonesia. Sesi tersebut dihadiri Ketua Komisi D DPRD DIY Dr. RB Dwi Wahyu B., S.Pd., M.Si., Kepala Perwakilan BKKBN DIY Rohina, M.Si., Kepala DP3AP2 DIY Erlina Hidayati Sumardi, S.IP., M.M., perwakilan Dinas Sosial DIY, serta Kepala CPMH Fakultas Psikologi UGM Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog. Forum tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan hasil pembelajaran dan diskusi selama ISCP 2026 sekaligus berdialog dengan para pemangku kepentingan mengenai penguatan keluarga.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi bersama di Selasar Fakultas Psikologi UGM. Peserta merefleksikan kembali berbagai pembelajaran selama ISCP 2026, termasuk pentingnya memahami keluarga dalam konteks sosial dan budaya serta perlunya kolaborasi dalam merespons persoalan keluarga.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, ISCP 2026 tidak hanya menjadi ruang pembelajaran mengenai toxic parenting, tetapi juga mengajak peserta melihat keluarga sebagai lingkungan penting dalam membentuk kesehatan mental dan perkembangan anak. Penguatan keluarga menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan tumbuh yang sehat dan mendukung. Dari keluarga yang kuat, upaya membangun generasi emas Indonesia dapat dimulai.
Penulis: Putu Mahatma Satria Wibawa
Editor: Nurul Hidayati