• Tentang CPMH
  • Media
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Psikologi
Center for Public Mental Health
  • TENTANG KAMI
    • TENTANG CPMH
    • Visi dan Misi
    • LANGKAH GERAK
    • MITRA
    • Tim Kami
  • AKTIVITAS
    • Advokasi
    • Kuliah Online (Kulon)
    • Mindtenance
    • Mindspiration
    • LAIN-LAIN
  • SUMMER COURSE
    • 2026
    • 2025
    • 2024
    • 2023
    • 2017-2022
  • ARTIKEL PSIKOEDUKASI
  • E-LIBRARY
  • Beranda
  • Rilis
  • Memahami Kekerasan dalam Keluarga dari Berbagai Perspektif Budaya dalam ISCP CPMH 2026

Memahami Kekerasan dalam Keluarga dari Berbagai Perspektif Budaya dalam ISCP CPMH 2026

  • Rilis
  • 27 August 2026, 15.17
  • Oleh: CPMH
  • 0

Keluarga bagi sebagian orang merupakan tempat yang aman untuk pulang dan ruang untuk diterima apa adanya. Namun, bagi sebagian lainnya, rumah justru dapat menjadi tempat munculnya rasa takut dan kekerasan. Data Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan, termasuk yang terjadi dalam ranah personal atau rumah tangga, masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana kekerasan dalam keluarga dipahami ketika setiap keluarga hidup dalam latar sosial dan budaya yang berbeda?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu isu yang diangkat dalam International Summer Course on Psychology (ISCP) 2026 yang diselenggarakan oleh Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM dengan tema “Turning a House into a Home: Understanding and Responding to Toxic Parenting in Asian Contexts.” Pada Rabu (26/8), ISCP memasuki modul kedua, Family Violence and Adverse Childhood Experiences, dengan menghadirkan empat pakar dari beragam latar budaya dan keilmuan, yaitu Assoc. Prof. Bridget Harris dari Monash University, Azha Ashika Nazeer, Prof. Khalid Atsubaiti dari Islamic University of Madinah, dan Dr. Meng-Run Zhang dari Shanghai Normal University.

Sesi pertama dibawakan oleh Assoc. Prof. Bridget Harris dengan mengulas kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga, termasuk berbagai bentuk kekerasan, coercive control, serta cycles of violence. Coercive control merujuk pada pola perilaku yang digunakan untuk mendominasi dan mengendalikan pasangan atau anggota keluarga. Sementara itu, konsep cycles of violence membantu menjelaskan pola kekerasan yang dapat berulang dalam suatu hubungan.

Bridget menjelaskan bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam pola yang seragam. Pelaku dapat menyesuaikan bentuk kontrol dengan kondisi dan kerentanan individu yang menjadi sasaran. Oleh sebab itu, identifikasi coercive control tidak cukup dilakukan dengan mencocokkan pengalaman korban dengan daftar perilaku tertentu. Pengalaman dan perasaan korban-penyintas perlu menjadi bagian penting dalam mengenali pola tersebut.

“Jadi, mereka benar-benar bisa menargetkan dan menyesuaikan kekerasan mereka pada individu tertentu. Jadi, ini bisa muncul dengan sangat, sangat berbeda. Karena alasan itu, jika kita mencoba mengidentifikasi coercive control, yang kita lakukan bukanlah sekadar mencari daftar centang (checklist) perilaku atau sekadar mencari bentuk-bentuk kekerasan berbeda yang saya tunjukkan sebelumnya. Sebaliknya, kita bertanya kepada korban-penyintas: perilaku apa yang membuat Anda merasa gelisah, tidak nyaman, atau takut? Hal lain yang perlu disadari adalah bahwa ini bukan peristiwa tunggal. Ini adalah pola kekerasan yang terjadi sepanjang suatu hubungan,” jelasnya.

Perspektif yang berbeda muncul ketika psikolog Azha Ashika Nazeer membahas dinamika pengasuhan dan keluarga di India. Sejumlah isu yang disoroti meliputi pola pengasuhan yang terdokumentasi, kolektivitas dan individualitas dalam masyarakat India, good child syndrome, hingga toxic joint family system.

Azha menggarisbawahi pentingnya memahami latar belakang individu dan komunitas sebelum memberikan pendampingan psikologis. Nilai yang dipegang sebuah keluarga dapat berakar pada agama, kebudayaan, maupun kebiasaan yang diwariskan antargenerasi. Bagi praktisi, pemahaman tersebut menjadi pijakan untuk menentukan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga. “Sebagai psikolog, ketika Anda sedang membantu sebuah komunitas, kita harus memahami background mereka. Dari mana konsep yang mereka percayai berasal? Apakah agama atau kultur, atau bahkan kebiasaan keluarga?” tuturnya.

Salah satu sistem yang mendapat perhatian khusus adalah joint family system, ketika beberapa generasi hidup dalam satu lingkungan keluarga. Azha menjelaskan bahwa perubahan terhadap pola relasi yang telah mengakar tidak dapat dilakukan secara instan. Upaya tersebut perlu berlangsung secara bertahap agar proses pemulihan tidak menimbulkan konflik baru di antara anggota keluarga.

Pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu alternatif yang ia tawarkan. Melalui One Masjid Project, ruang keagamaan dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul, memperoleh layanan, dan mendapatkan psikoedukasi. Menurut Azha, lingkungan komunitas dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan bahasa kesehatan mental, memperluas kesadaran, serta membantu masyarakat mengenali persoalan yang dialami oleh anggota keluarganya.

Dari India, perhatian peserta beralih pada dinamika keluarga Arab melalui paparan Prof. Khalid Atsubaiti, profesor hadis dari Islamic University of Madinah. Ia membahas bagaimana pola pengasuhan dalam keluarga Arab perlu dilihat berdasarkan lingkungan sosial tempat praktik tersebut berkembang. Ia juga membedakan antara otoritas orang tua sebagai bagian dari struktur keluarga dan perilaku yang berpotensi memberikan dampak negatif bagi anak.

Dalam sesi tersebut, Khalid mengangkat pertanyaan mengenai hubungan antara kedekatan dengan keluarga dan kemandirian anak. Ia merujuk pada penelitian Hassan yang menunjukkan bahwa kehangatan orang tua yang lebih tinggi berkaitan dengan kedekatan relasi antara orang tua dan anak. Hubungan yang hangat tersebut dapat membantu anak membangun rasa aman sekaligus tetap berkembang dalam proses menuju kemandirian.

“Apa yang bertahan dan apa yang berubah dalam hubungan antargenerasi? Meskipun terjadi berbagai transformasi sosial, keluarga tetap menjadi titik temu yang penting antargenerasi di Arab Saudi,” paparnya.

Sementara itu, sesi penutup menghadirkan Dr. Meng-Run Zhang dari Shanghai Normal University. Ia membawa peserta melihat dinamika pengasuhan dalam keluarga China yang terus berubah seiring perkembangan masyarakat. Selain menguraikan nilai-nilai budaya yang memengaruhi pola asuh, ia juga membahas bagaimana membedakan praktik pengasuhan yang berakar pada tradisi dengan perilaku yang dapat berkembang menjadi toxic parenting.

Perubahan sosial-ekonomi menjadi salah satu faktor yang membentuk dinamika tersebut. Reformasi ekonomi, urbanisasi, perluasan pendidikan tinggi, meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja, serta perkembangan teknologi digital telah mengubah kehidupan keluarga di China. Perluasan akses pendidikan, misalnya, membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda, tetapi sekaligus menghadirkan persaingan yang semakin ketat.

“Mereka (para orang tua di China) menghadapi perubahan cepat dalam hal sosioekonomi, reformasi ekonomi, urbanisasi, perluasan perguruan tinggi, pekerjaan bagi perempuan, dan teknologi digital. Contohnya, perluasan perguruan tinggi memberikan kesempatan bagi anak muda, tetapi di sisi lain meningkatkan kompetisi. Ini membuat parenting di China sangatlah dinamis,” jelasnya.

Empat perspektif yang hadir dalam modul Family Violence and Adverse Childhood Experiences memperlihatkan bahwa persoalan kekerasan dan pengasuhan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan tempat sebuah keluarga tumbuh. Australia, India, Arab Saudi, dan China menghadirkan dinamika yang berbeda, tetapi seluruhnya menunjukkan satu hal penting: memahami keluarga membutuhkan perhatian terhadap nilai, relasi, serta perubahan sosial yang membentuk kehidupan anggotanya.

Bagi CPMH, keberagaman perspektif tersebut menjadi penting dalam upaya memahami bagaimana sebuah rumah dapat menjadi ruang yang aman bagi seluruh anggotanya. Rumah semestinya bukan tempat yang menghadirkan ketakutan, melainkan lingkungan yang memungkinkan individu merasa terlindungi, dihargai, dan memiliki ruang untuk berkembang. Melalui ISCP 2026, CPMH berupaya memperluas cara pandang mengenai keluarga dan kesehatan mental agar upaya mengubah house menjadi home tidak berhenti pada bentuk fisik sebuah rumah, tetapi juga terwujud dalam relasi yang aman dan suportif di dalamnya.

Penulis: Putu Mahatma Satria Wibawa

Editor: Nurul Hidayati

Tags: Asian Family SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 5: Kesetaraan Gender SDGs summer course

Berita Terbaru

  • Memahami Kekerasan dalam Keluarga dari Berbagai Perspektif Budaya dalam ISCP CPMH 2026
  • Apa yang Membentuk Keluarga di Asia? CPMH UGM Hadirkan Pakar Psikologi Keluarga dari The Chinese University of Hong Kong dalam ISCP 2026
  • Dari Rumah Menjadi Rumah yang Aman: CPMH Bahas Peran Keluarga dalam Kesehatan Mental melalui ISCP 2026
  • Bukan Sekadar Anak Hebat: Pentingnya Orang Tua sebagai Ruang Tumbuh Anak
  • CPMH Fakultas Psikologi UGM Bekali Volunter untuk Mendampingi Keluarga dengan Anak Cerebral Palsy
Universitas Gadjah Mada

Center for Public Mental Health
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Gedung D Lantai 6 Ruang D-610
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
cpmh.psikologi[at]ugm.ac.id
+62 (274) 550435 (hunting)
+62 (274) 550435 ext 100

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY