Keluarga merupakan salah satu lingkungan utama yang membentuk kesehatan dan perkembangan individu sejak usia dini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan keluarga dan pengasuh sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Melalui pendekatan nurturing care, WHO menekankan pentingnya lingkungan yang aman, responsif, serta dukungan terhadap kebutuhan kesehatan, gizi, perkembangan, dan kesejahteraan anak. Dukungan terhadap keluarga pun menjadi bagian penting agar pengasuh mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara optimal.
Pentingnya peran keluarga tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam International Short Course on Psychology (ISCP) 2026 yang diselenggarakan oleh Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Mengusung tema “Turning a House into a Home: Understanding and Responding to Toxic Parenting in Asian Contexts”, ISCP 2026 membahas berbagai perspektif mengenai keluarga, pengasuhan, serta kesehatan mental dalam konteks Asia. Pada Rabu (2/9), agenda ISCP dilaksanakan secara luring di Fakultas Psikologi UGM dengan menghadirkan Hanan Dover, psikolog klinis dan forensik asal Australia sekaligus pendiri PsychCentral. Seluruh sesi pada hari tersebut dimoderatori oleh Akmal Naseery, S.Psi., M.Sc., dan Wulan Nur Jatmika, S.Psi., M.Sc.
Melalui sesi tersebut, CPMH mengajak peserta melihat keluarga tidak hanya sebagai ruang privat tempat individu tumbuh, tetapi juga sebagai bagian dari sistem yang membutuhkan dukungan dari lingkungan yang lebih luas. Keluarga yang sehat tidak terbentuk secara mandiri, melainkan turut dipengaruhi oleh kebijakan, layanan, serta kondisi sosial yang memungkinkan setiap anggota keluarga memperoleh dukungan yang dibutuhkan.
Sesi pertama membahas peran negara dalam mempromosikan keluarga yang sehat pada tingkat struktural. Hanan menguraikan pentingnya pendekatan yang mencakup pencegahan, penanganan, hingga rehabilitasi terhadap berbagai persoalan yang dapat muncul dalam keluarga. Menurutnya, upaya membangun keluarga yang sehat membutuhkan kemampuan untuk menjangkau individu dan keluarga secara langsung agar pesan maupun intervensi yang diberikan dapat diterima.
“If we can’t connect to individuals, families, or others, our conversation cannot be accepted for them,” ujar Hanan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan dan program untuk keluarga perlu dibangun dengan mempertimbangkan hubungan langsung dengan individu yang menjadi penerima manfaat. Pendekatan pada tingkat struktural tidak cukup hanya berorientasi pada penyediaan program, tetapi juga perlu memastikan bahwa program tersebut dapat terhubung dengan kebutuhan dan pengalaman nyata keluarga.

Pembahasan kemudian berlanjut pada bagaimana pemerintah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung keluarga melalui kebijakan yang family-friendly. Hanan membagikan gambaran mengenai upaya di Australia dalam mempromosikan keluarga yang sehat, termasuk melalui kebijakan yang memberikan dukungan terhadap kehidupan keluarga. Dalam konteks pencegahan kekerasan, ia juga menekankan pentingnya melihat upaya tersebut sebagai tanggung jawab bersama, bukan sekadar pekerjaan yang harus diselesaikan.
“Promotion to stop violence is: you can’t just take it as a job, but take it with responsibility and accountability,” tegas Hanan.
Bagi CPMH, perspektif tersebut memperluas pemahaman bahwa upaya menjaga kesehatan keluarga tidak hanya menjadi tanggung jawab individu maupun keluarga. Negara, lembaga layanan, komunitas, dan berbagai pihak terkait memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung keluarga untuk menghadapi kerentanan serta mencegah munculnya berbagai bentuk kekerasan dan relasi yang tidak sehat.
Tidak berhenti pada pemaparan materi, peserta ISCP 2026 kemudian diajak menerjemahkan pembelajaran ke dalam langkah yang lebih konkret melalui penyusunan action plan. Peserta mengembangkan gagasan mengenai upaya membangun keluarga yang sehat secara psikologis dalam konteks Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menghubungkan perspektif yang diperoleh dari pengalaman internasional dengan kebutuhan dan tantangan yang ditemui dalam lingkungan keluarga dan masyarakat di Indonesia.
Di akhir sesi, Hanan menekankan bahwa membangun komunitas yang sehat tidak harus berangkat dari perspektif institusi agama tertentu. Menurutnya, hal yang lebih mendasar adalah bagaimana individu membangun hubungan yang kuat, kedekatan antarmanusia, serta komunikasi yang hangat.
Pesan tersebut kembali menguatkan pentingnya keluarga sebagai lingkungan awal bagi terbentuknya kesehatan dan ketahanan individu. Sebagaimana lingkungan keluarga menjadi tempat individu tumbuh dan belajar membangun relasi, kualitas hubungan yang terjalin di dalamnya turut menentukan rasa aman dan dukungan yang diterima setiap anggota. Bagi CPMH, membangun keluarga yang sehat berarti menciptakan ruang yang memungkinkan individu merasa terhubung, didukung, dan terlindungi, sehingga rumah tidak sekadar menjadi tempat tinggal, tetapi menjadi tempat bagi individu untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat.
Penulis: Putu Mahatma Satria Wibawa
Editor: Nurul Hidayati