• Tentang CPMH
  • Media
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Psikologi
Center for Public Mental Health
  • TENTANG KAMI
    • TENTANG CPMH
    • Visi dan Misi
    • LANGKAH GERAK
    • MITRA
    • Tim Kami
  • AKTIVITAS
    • Advokasi
    • Kuliah Online (Kulon)
    • Mindtenance
    • Mindspiration
    • LAIN-LAIN
  • SUMMER COURSE
    • 2026
    • 2025
    • 2024
    • 2023
    • 2017-2022
  • ARTIKEL PSIKOEDUKASI
  • E-LIBRARY
  • Beranda
  • Kuliah Online
  • Kuliah Online CPMH UGM: “Capek Fisik, Capek Mental” Bahas Burnout Kerja yang Kian Dekat dengan Pekerja

Kuliah Online CPMH UGM: “Capek Fisik, Capek Mental” Bahas Burnout Kerja yang Kian Dekat dengan Pekerja

  • Kuliah Online, Rilis
  • 8 May 2026, 12.55
  • Oleh: admin
  • 0

Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM bekerja sama dengan Health Promoting University (HPU) UGM kembali mengadakan Kuliah Online #72 bertajuk “Capek Fisik, Capek Mental: Ngobrolin Lelah Kerja & Cara Mengatasinya” pada Jumat, 8 Mei 2026 melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB dan diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari freelancer, ASN dari berbagai instansi, hingga karyawan swasta.

Tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu kelelahan kerja dan burnout semakin dekat dengan pengalaman masyarakat sehari-hari. Sejak awal hingga akhir sesi, peserta tampak aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait tekanan kerja, kesehatan mental, hingga cara menjaga keseimbangan hidup di tengah tuntutan pekerjaan.

Kuliah Online ini menghadirkan Edwin Maulana dan Galuh Setia Winahyu, M.Psi., Psikolog sebagai narasumber. Keduanya membahas burnout dari sisi yang berbeda, yaitu pengalaman personal sebagai pekerja dan perspektif psikologis.

Pada sesi pertama, Edwin Maulana mengulas berbagai situasi yang dapat memicu kelelahan fisik dan mental, serta dampaknya terhadap kehidupan kerja maupun personal. Ia menekankan pentingnya memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami kondisi fisik dan emosional yang sedang dialami.

Menurut Edwin, menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana seperti memanfaatkan waktu luang untuk refreshing dan menjalani hobi, membuat batasan yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta mengoptimalkan support system yang tersedia di lingkungan kerja. Ia juga menyampaikan pentingnya mencari bantuan profesional ketika diperlukan, seperti berkonsultasi dengan psikolog atau melakukan terapi medis untuk keluhan fisik tertentu.

Selain itu, Edwin membagikan berbagai cara sederhana yang membantunya menghadapi tekanan, mulai dari berbagi cerita dengan teman, mendekatkan diri kepada Tuhan, hingga mencari ketenangan melalui alam. “Tidak semua hal bisa kita kendalikan. Fokus ke yang bisa kita kendalikan, sisanya serahkan ke Yang Maha Kuasa,” ujar Edwin.

Sementara itu, pada sesi kedua, Galuh Setia Winahyu, M.Psi., Psikolog membahas burnout kerja dari perspektif psikologi. Ia menjelaskan bahwa burnout merupakan proses psikologis jangka panjang akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan (job demands) dan sumber daya psikologis individu (job resources).

Galuh menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan yang terlalu tinggi dapat berupa beban kerja berlebih, tekanan waktu, konflik peran, tuntutan emosional, hingga ekspektasi performa yang terus meningkat. Di sisi lain, rendahnya job resources seperti kurangnya dukungan sosial, rendahnya kontrol terhadap pekerjaan, ketidakjelasan karier, dan hubungan kerja yang tidak sehat dapat memperbesar risiko burnout.

Ia juga menjelaskan bahwa seseorang dapat dikatakan mengalami burnout apabila muncul tiga dimensi utama secara bersamaan, yaitu kelelahan emosional (emotional exhaustion), sikap sinis atau menjauh dari pekerjaan (depersonalization/cynicism), serta menurunnya rasa pencapaian diri (reduced personal accomplishment).

“Tiga hal ini harus muncul untuk seseorang bisa dikatakan mengalami burnout,” jelas Galuh. Ia menambahkan bahwa stres kerja sebenarnya masih dapat dikelola apabila individu memiliki job resources yang cukup. “Stres ini kalau kita bisa mengelola ini dan mempertahankan job resources, maka akan aman. Jika tidak, maka bisa menyebabkan burnout,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, CPMH UGM berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan kerja, mengenali tanda-tanda burnout sejak dini, serta membangun budaya kerja yang lebih sehat, suportif, dan humanis.

https://youtube.com/live/dcn2hIHNBoQ

Penulis: Nurul Hidayati

Tags: SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDGs

Berita Terbaru

  • Cara Membangun Ketahanan Mental Anak melalui Dukungan Orang Tua dan Sekolah
  • Media Sosial dan Bunuh Diri: Memahami Risiko Copycat Suicide dan Cara Mencegahnya
  • Membangun Keluarga Tangguh melalui Relasi yang Aman dan Saling Mendukung
  • Tim CPMH UGM Bahas Kolaborasi Profesional Kesehatan Mental dan Penyembuh Berbasis Keagamaan di Sapienza University of Rome
  • Melampaui Prestasi Akademik, CPMH Dorong Pengasuhan yang Mendukung Ketangguhan Anak
Universitas Gadjah Mada

Center for Public Mental Health
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Gedung D Lantai 6 Ruang D-603
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
Email: cpmh@ugm.ac.id
Telepon: +62 274 550435 ext. 145
WhatsApp/sms: +62 8132 739 5698

Media Sosial:
Instagram: @cpmhugm

X: @cpmhugm
Facebook: CPMH Psikologi UGM
Threads: @cpmhugm
LinkedIn: Center for Public Mental Health UGM
YouTube: CPMH Psi UGM

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY