Tekanan untuk berhasil dapat menjadi bagian dari pengalaman tumbuh anak dan remaja. Survei UNICEF terhadap anak muda di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai anak-anak saat ini menghadapi tekanan untuk berhasil yang lebih besar dibandingkan generasi orang tua mereka ketika tumbuh dewasa. Survei yang sama juga menemukan bahwa 29 persen anak muda Indonesia mengatakan mereka sering merasa tertekan atau kehilangan minat untuk melakukan berbagai hal. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya lingkungan pengasuhan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk berkembang, mengenali potensinya, dan membangun ketangguhan.
Berangkat dari isu tersebut, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Kuliah Online #80 bertajuk “Beyond Academic Achievement: Membentuk Anak yang Tangguh di Tengah Tekanan dan Perbandingan” pada Jumat, 25 September 2026 melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Putri Sari, M.Psi., Psikolog, alumnus Fakultas Psikologi UGM yang merupakan pendiri @Jejaklangit.id (Komunitas Keluarga Belajar), sebagai narasumber.
Dalam sesi tersebut, Putri mengajak orang tua untuk melihat perkembangan anak secara lebih menyeluruh dan tidak menjadikan pencapaian akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Menurutnya, membantu anak mengenali dan mengembangkan potensinya merupakan bagian penting dalam membangun ketangguhan, termasuk dalam menghadapi tuntutan akademik. “Ketika kita benar-benar membantu anak untuk menemukan potensinya, kita juga membantu ketangguhan akademik anak,” jelas Putri.
Salah satu pembahasan dalam kuliah online ini adalah mengenai positive profile, yaitu membandingkan secara positif dengan melihat usaha yang dilakukan orang lain dalam mencapai prestasinya. Dalam pendekatan ini, pencapaian orang lain tidak digunakan sebagai ukuran untuk menilai diri anak, tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai usaha, proses, atau strategi yang dapat dikembangkan.
Sebaliknya, perbandingan yang dilakukan secara negatif dapat memengaruhi cara anak menilai dirinya sendiri. “Ketika kita terbiasa membandingkan anak dengan cara yang negatif, itu juga berdampak pada bagaimana anak akan menilai dirinya,” ungkap Putri.

Putri juga menekankan pentingnya mempersiapkan anak menghadapi masa depan melalui pengalaman yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Ketika anak memasuki usia tujuh tahun ke atas, orang tua dapat mulai memberikan pendidikan yang ramah terhadap masa depan dengan membantu anak mengembangkan keterampilan yang akan dibutuhkan, termasuk belajar bertanggung jawab.
Dalam proses tersebut, orang tua perlu mempertimbangkan kapan harus membantu dan kapan memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba sendiri. Bantuan yang diberikan secara terus-menerus dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar menghadapi kesulitan dan membangun kemandirian. “Ketika anak kita bantu terus kadang itu tidak baik untuk masa depannya,” tutur Putri.
Pembahasan kemudian berlanjut pada prinsip growth mindset dalam pengasuhan melalui gagasan “Becoming is better than being”. Anak tidak hanya dilihat berdasarkan kemampuan atau pencapaiannya saat ini, tetapi sebagai individu yang terus berkembang melalui pengalaman dan proses belajar.
Dalam penerapannya, pengasuhan dapat diarahkan untuk berfokus pada proses, memberikan umpan balik positif, mengurangi perbandingan, serta menciptakan ruang aman bagi anak untuk berkembang. Dengan berfokus pada proses, orang tua dapat membantu anak melihat usaha, strategi, dan perkembangan yang telah mereka lalui, bukan hanya menilai apakah hasil akhirnya berhasil atau tidak.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan kesejahteraan anak. Dalam materi yang disampaikan, growth mindset dikaitkan dengan upaya mengurangi stres, meningkatkan kesehatan mental, mendorong rasa percaya diri, serta meningkatkan ketahanan anak. Ruang aman yang diberikan orang tua juga memungkinkan anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, menerima umpan balik, dan belajar dari pengalaman tanpa merasa nilai dirinya ditentukan oleh satu pencapaian.
Dengan demikian, orientasi pada proses bukan berarti mengabaikan prestasi akademik. Anak tetap dapat didukung untuk mencapai prestasi dengan cara yang tidak mengorbankan kesehatan mental dan perkembangan dirinya. Sebagaimana disampaikan Putri, “Ketika anak berbahagia, sehat mentalnya akan lebih punya semangat untuk mencapai prestasi.”
Melalui Kuliah Online #80, CPMH mendorong perspektif pengasuhan yang menempatkan proses tumbuh, potensi, kesehatan mental, dan ketangguhan sebagai bagian penting dari keberhasilan anak. Anak tidak hanya perlu dipersiapkan untuk mencapai sesuatu, tetapi juga dibekali kemampuan untuk terus belajar, bertanggung jawab, menghadapi tantangan, dan berkembang di tengah berbagai tuntutan kehidupan.