Hampir seluruh individu yang terdampak situasi darurat atau bencana akan mengalami tekanan psikologis, meskipun sebagian besar mampu pulih secara alami seiring waktu. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan psikososial pada fase awal kedaruratan, salah satunya melalui Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama Psikologis. WHO juga menekankan bahwa orientasi PFA bagi para petugas dan relawan merupakan bagian penting dalam memperkuat respons kesehatan mental pada situasi krisis.
Sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang kesehatan mental kebencanaan, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada berpartisipasi dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada sesi bertajuk Psychological First Aid, CPMH memberikan pembekalan kepada 50 anggota TAGANA DIY pada Rabu, 24 Juni 2026 di Sanggar Amor Budaya, Kampung Pramuka, Wukirsari, Imogiri, Kapanewon Bantul.
Materi disampaikan oleh Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog, yang mengawali sesi dengan pengenalan mengenai konsep Psychological First Aid (PFA) sebagai bentuk dukungan awal yang bersifat manusiawi, suportif, dan praktis bagi individu yang mengalami situasi krisis. Peserta diajak memahami berbagai situasi yang memerlukan PFA, mengenali karakteristik situasi krisis, serta memahami bahwa berbagai respons emosional, kognitif, maupun perilaku setelah peristiwa luar biasa merupakan reaksi yang normal terhadap situasi yang abnormal.

Selain itu, peserta mempelajari siapa saja yang memerlukan PFA, kapan dan di mana PFA dapat diberikan, serta bagaimana menerapkan tiga prinsip utama PFA, yaitu Look, Listen, dan Link. Ketiga prinsip tersebut membantu first aider mengidentifikasi kebutuhan penyintas, mendengarkan dengan empati tanpa menghakimi, serta menghubungkan individu dengan layanan atau dukungan yang sesuai apabila diperlukan.
Dalam sesi tersebut, Nurul juga menekankan bahwa kemampuan memberikan pertolongan kepada orang lain perlu diimbangi dengan kemampuan menjaga kesejahteraan diri sendiri. Menurutnya, seorang first aider berpotensi menghadapi berbagai tekanan emosional selama menjalankan tugas sehingga praktik self-care menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pemberian bantuan psikologis.
“Sebagai seorang first aider, penting untuk memperhatikan self-care”, ujar Nurul. Menjaga kesehatan mental diri sendiri merupakan bagian dari upaya agar kita tetap mampu memberikan dukungan yang optimal kepada orang lain.
Melalui kegiatan ini, CPMH Fakultas Psikologi UGM berharap anggota TAGANA DIY semakin siap memberikan dukungan psikologis awal kepada masyarakat yang terdampak bencana secara tepat, empatik, dan berbasis prinsip-prinsip Psychological First Aid. Penguatan kapasitas ini juga diharapkan dapat mendukung terwujudnya layanan kebencanaan yang tidak hanya berfokus pada keselamatan fisik, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial masyarakat maupun para relawan yang terlibat.