Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut intervensi psikologis berbasis bukti sebagai bagian penting dari layanan kesehatan, sosial, perlindungan, dan pendidikan. WHO juga mencatat bahwa banyak intervensi psikologis telah memiliki bukti efektivitas pada berbagai konteks dan populasi. Sementara itu, American Psychological Association (APA) menempatkan evidence-based practice in psychology sebagai integrasi antara bukti penelitian terbaik yang tersedia, keahlian klinis, serta karakteristik, budaya, dan preferensi individu yang menerima layanan.
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membawa perubahan pada cara anak belajar, berinteraksi, dan memperoleh informasi. UNICEF menyoroti bahwa perkembangan AI menghadirkan peluang sekaligus risiko baru bagi anak, termasuk dalam proses belajar dan kehidupan sosial mereka. Karena itu, pemanfaatan AI dalam pendidikan perlu disertai pendampingan agar teknologi tetap mendukung perkembangan anak secara utuh.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi di Indonesia tercatat sebesar 1,4%, dengan prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok usia muda 15–24 tahun, yaitu sebesar 2%. Data tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap lingkungan terdekat anak dan remaja, termasuk keluarga, dalam mendukung kesehatan mental serta kemampuan mereka menghadapi berbagai tekanan selama masa perkembangan.
Setiap kematian akibat bunuh diri tidak hanya berdampak pada individu yang meninggal, tetapi juga meninggalkan dampak jangka panjang bagi keluarga, teman, dan komunitas yang ditinggalkan. World Health Organization (WHO) mencatat lebih dari 720.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun di dunia. WHO juga menekankan bahwa dampak bunuh diri meluas kepada orang-orang yang kehilangan orang terdekat, sehingga dukungan bagi mereka yang berduka menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan penanganan bunuh diri.
Indonesia memiliki sekitar 46 juta remaja atau sekitar 17% dari total populasi. Dalam laporan WHO tahun 2024, gangguan kecemasan termasuk salah satu penyebab utama disability-adjusted life years (DALYs) pada remaja di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan yang dapat membantu remaja menghadapi berbagai tekanan selama masa perkembangannya, termasuk dukungan yang hadir dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.
Sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian, dengan angka yang lebih tinggi pada kelompok anak muda, yaitu sekitar satu dari lima orang. World Health Organization (WHO) menekankan bahwa keterhubungan sosial memiliki peran penting bagi kesehatan dan kesejahteraan, sementara kesepian dan keterasingan sosial dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk depresi dan kecemasan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya keberadaan lingkungan dan jejaring dukungan yang mampu membuat seseorang merasa didengar, terhubung, dan tidak menghadapi masalah seorang diri.
Perkembangan teknologi digital telah menjadi bagian yang semakin tidak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Di Indonesia, hampir seluruh anak telah terhubung dengan internet. Data UNICEF menunjukkan bahwa 99,4 persen anak di Indonesia menggunakan internet, dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai 5,4 jam per hari. Di sisi lain, pemanfaatan ruang digital juga menghadirkan sejumlah tantangan. Kajian UNICEF terhadap anak dan orang tua di Indonesia menemukan bahwa 42 persen anak pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman daring, sementara hanya 37,5 persen anak yang pernah memperoleh informasi mengenai cara menjaga keamanan saat menggunakan internet.
Sekolah memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mental peserta didik karena menjadi lingkungan tempat mereka belajar, berkembang, dan berinteraksi setiap hari. UNESCO melalui Global Status Report on School Health and Nutrition 2025 menekankan bahwa sekolah perlu menjadi lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung kesejahteraan peserta didik melalui kolaborasi seluruh warga sekolah, keluarga, dan komunitas. Oleh karena itu, penguatan kapasitas tenaga pendidik, termasuk guru Bimbingan dan Konseling (BK), menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun sistem dukungan kesehatan mental di sekolah.
Generasi Z kini menjadi kelompok usia yang mendominasi lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 27,94% penduduk Indonesia merupakan Generasi Z, yaitu mereka yang lahir pada periode 1997–2012. Sebagai generasi yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, mereka memiliki karakteristik, gaya belajar, serta pola komunikasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kondisi ini mendorong pendidik untuk terus mengembangkan strategi pembelajaran yang adaptif agar proses belajar tetap efektif sekaligus mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Hampir setiap orang yang mengalami situasi darurat atau krisis akan merasakan tekanan psikologis, meskipun sebagian besar dapat pulih seiring waktu apabila memperoleh dukungan yang tepat. Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan Psychological First Aid (PFA) sebagai bentuk dukungan awal yang bersifat manusiawi, suportif, dan praktis bagi individu yang sedang mengalami tekanan akibat peristiwa krisis. PFA tidak dimaksudkan sebagai terapi, melainkan pertolongan pertama psikologis yang membantu seseorang merasa lebih aman, tenang, serta terhubung dengan bantuan yang dibutuhkan.