Cara orang tua mengasuh anak turut menentukan bagaimana anak tumbuh, belajar, dan membangun relasi dengan lingkungan sekitarnya. World Health Organization (WHO) menempatkan pengasuhan responsif sebagai salah satu bagian penting dari nurturing care, yang mencakup pemenuhan kebutuhan kesehatan dan gizi, rasa aman, kesempatan belajar, serta interaksi yang mendukung perkembangan anak. WHO juga menegaskan bahwa cara orang tua dan pengasuh mendampingi anak pada masa awal kehidupan menjadi salah satu faktor penting bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Namun, bentuk pengasuhan tidak selalu sama di setiap keluarga. Nilai budaya, keyakinan agama, tradisi, serta lingkungan sosial dapat memengaruhi cara orang tua menunjukkan kasih sayang, menetapkan batasan, mengajarkan tanggung jawab, hingga membentuk kemandirian anak. Keragaman tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam International Short Course on Psychology (ISCP) 2026 yang diselenggarakan oleh Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM. Pada Jumat (28/8), memasuki hari kelima pelaksanaan, ISCP mengangkat modul Parenting Across Indonesia: Eastern Indonesia and Bali dengan menghadirkan Fini Tetus Noban Timo, S.Psi., M.A.; Dr. Saengduean Yotanayamaneewong dari Chiang Mai University, Thailand; I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada; serta Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc.Psy., Ph.D., Psikolog, dari Universitas Gadjah Mada.
Melalui modul tersebut, CPMH menghadirkan perspektif yang beragam mengenai bagaimana budaya dan agama berkelindan dengan praktik pengasuhan. Pembahasan mencakup pengalaman masyarakat di Indonesia bagian timur, Bali, serta keluarga Thailand yang menjalankan ajaran Buddha dan keluarga Muslim. Keragaman sudut pandang ini menjadi ruang bagi peserta untuk melihat bahwa praktik pengasuhan perlu dipahami berdasarkan konteks tempat sebuah keluarga tumbuh dan berkembang.
Sesi pertama membahas perbedaan praktik pengasuhan antara Indonesia bagian timur dan Bali. Fini Tetus Noban Timo menyoroti bagaimana nilai penghormatan terhadap orang lain dapat hadir dalam relasi keluarga dan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa rasa hormat dalam konteks tertentu tidak selalu lahir dari penghargaan semata, tetapi dapat bercampur dengan rasa takut terhadap penilaian, penolakan, atau konsekuensi sosial.
“If you respect others, it means you are also afraid of others,” ungkap Fini.

Dalam konteks pengasuhan di Indonesia bagian timur, nilai tersebut dapat berkaitan dengan upaya orang tua mengajarkan anak untuk mengikuti norma dan menghormati orang lain demi menjaga keharmonisan serta keberterimaan dalam keluarga dan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah nilai yang tampak sederhana, seperti rasa hormat, dapat memiliki makna yang berbeda ketika ditempatkan dalam konteks sosial dan budaya tertentu.
Perspektif mengenai pengasuhan di Bali kemudian disampaikan oleh I Made Andi Arsana. Ia membahas adanya perbedaan perlakuan terhadap anak laki-laki dan perempuan dalam sejumlah konteks pengasuhan di Bali. Perbedaan tersebut berkaitan dengan ekspektasi terhadap peran dan karakter yang ingin dibentuk pada anak.
“Untuk nilai-nilai yang diajarkan, biasanya pengasuhan terhadap laki-laki lebih keras dibandingkan perempuan,” ujarnya.

Menurut I Made, pola disiplin yang lebih keras terhadap anak laki-laki dapat diterapkan dengan harapan mereka tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan mampu menjalankan nilai-nilai yang dianggap benar dalam lingkungan keluarga. Dalam beberapa konteks, pola tersebut bahkan dapat terus berlangsung ketika anak telah memasuki usia dewasa.
Pembahasan selanjutnya beralih pada hubungan antara agama dan pengasuhan. Diana Setiyawati mengangkat kasih sayang sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun relasi antara orang tua dan anak. Dalam perspektif psikologi, hubungan yang hangat dapat menciptakan kedekatan dan rasa aman yang dibutuhkan anak dalam proses perkembangannya.
“The pillar of the parenting pattern is having a relationship, which in psychology we discuss with the concept of love, and in Islam there is a similar concept, which is rahmah, or giving warmth,” jelas Diana.
Konsep rahmah tersebut menunjukkan bahwa nilai keagamaan dapat menjadi salah satu sumber dalam membangun relasi yang penuh kehangatan di dalam keluarga. Dengan demikian, pengasuhan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana orang tua mengatur perilaku anak, tetapi juga bagaimana hubungan emosional dibangun dan dipelihara sepanjang proses tumbuh kembang.
Sementara itu, Saengduean Yotanayamaneewong membahas pengasuhan dalam keluarga Thailand yang beragama Buddha. Ia menjelaskan bahwa ajaran agama dapat memengaruhi nilai yang ditanamkan kepada anak, termasuk mengenai hubungan dan tanggung jawab mereka terhadap orang tua.
“Children’s responsibility to parents in Buddhism reflects a very important thing in the upbringing of Thai parents,” paparnya.
Nilai tanggung jawab tersebut menjadi salah satu bagian dari pembentukan relasi antara anak dan orang tua. Anak diperkenalkan pada pentingnya menghormati dan bertanggung jawab kepada orang tua sebagai bagian dari nilai kehidupan yang ditanamkan sejak dini. Dalam konteks ini, agama menjadi salah satu unsur yang turut memberikan kerangka bagi keluarga dalam memaknai hubungan antargenerasi.
Berbagai perspektif yang dibahas pada hari kelima ISCP 2026 memperlihatkan bahwa pengasuhan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan tempat keluarga berada. Nilai penghormatan, pembentukan karakter, pembagian peran, kasih sayang, hingga tanggung jawab dapat memperoleh makna yang berbeda ketika dipengaruhi oleh budaya dan keyakinan tertentu. Karena itu, memahami parenting lintas budaya tidak berarti menentukan pola mana yang paling benar, melainkan memahami alasan dan konteks di balik praktik pengasuhan yang berkembang di masyarakat.
Bagi CPMH, pemahaman tersebut menjadi penting agar pengasuhan dapat dilihat secara lebih terbuka tanpa mengabaikan kebutuhan dasar anak untuk merasa aman, mendapatkan dukungan, dan berkembang secara optimal. Sejalan dengan kerangka nurturing care WHO, pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak membutuhkan lingkungan yang aman serta interaksi yang responsif dan suportif. Melalui ISCP 2026, CPMH mengajak peserta untuk melihat keberagaman budaya dan agama bukan sebagai batas dalam memahami pengasuhan, melainkan sebagai konteks yang perlu dipertimbangkan agar setiap keluarga dapat membangun relasi yang sehat sekaligus mendukung kesejahteraan dan perkembangan anak.
Penulis: Fanysa Naura Husnia
Editor: Nurul Hidayati