• Tentang CPMH
  • Media
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Psikologi
Center for Public Mental Health
  • TENTANG KAMI
    • TENTANG CPMH
    • Visi dan Misi
    • LANGKAH GERAK
    • MITRA
    • Tim Kami
  • AKTIVITAS
    • Advokasi
    • Kuliah Online (Kulon)
    • Mindtenance
    • Mindspiration
    • LAIN-LAIN
  • SUMMER COURSE
    • 2026
    • 2025
    • 2024
    • 2023
    • 2017-2022
  • ARTIKEL PSIKOEDUKASI
  • E-LIBRARY
  • Beranda
  • Kegiatan Lain
  • Keluarga sebagai Tempat Pulang untuk Menguatkan Ketahanan Mental Anak

Keluarga sebagai Tempat Pulang untuk Menguatkan Ketahanan Mental Anak

  • Kegiatan Lain, Pengabdian Kepada Masyarakat, Rilis
  • 16 September 2026, 12.17
  • Oleh: Nurul Hidayati
  • 0

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi di Indonesia tercatat sebesar 1,4%, dengan prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok usia muda 15–24 tahun, yaitu sebesar 2%. Data tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap lingkungan terdekat anak dan remaja, termasuk keluarga, dalam mendukung kesehatan mental serta kemampuan mereka menghadapi berbagai tekanan selama masa perkembangan.

Pentingnya peran keluarga tersebut menjadi pembahasan dalam sesi “Membangun Ketahanan Mental Anak Sekolah” yang disampaikan oleh Nurul Kusuma Hidayati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Rabu, 16 September 2026. Sesi ini merupakan bagian dari Program Kelas Parenting Online bertema “Rumah sebagai Ruang Aman: Peran Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak & Remaja” yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UGM. Kegiatan dilaksanakan melalui Zoom dan diikuti oleh ASN Kota Yogyakarta serta masyarakat umum.

Dalam sesi tersebut, Nurul menjelaskan bahwa ketahanan mental anak tidak terbentuk karena mereka selalu berada dalam situasi yang mudah. Anak belajar menjadi tangguh ketika menghadapi kesulitan dalam lingkungan yang aman, didampingi orang dewasa yang tepat, serta diberikan kesempatan untuk belajar menghadapi masalah. Karena itu, keluarga memiliki peran penting untuk memastikan anak tidak menghadapi kesulitan seorang diri.

“Syarat menjadi keluarga tangguh tidak harus orang tua utuh,” tutur Nurul. Pernyataan tersebut menekankan bahwa keluarga yang mendukung ketahanan mental anak tidak ditentukan semata-mata oleh bentuk atau kelengkapan struktur keluarga, tetapi oleh kualitas kehadiran orang dewasa dalam memberikan rasa aman dan dukungan kepada anak.

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah safe adult, yaitu figur dewasa yang dapat menjadi tempat aman bagi anak. Orang tua berperan sebagai secure base yang membuat anak berani mengeksplorasi lingkungan sekaligus menjadi safe haven, yaitu tempat anak dapat kembali ketika merasa takut, tertekan, atau membutuhkan ketenangan. Sikap responsif, hangat, konsisten, dan tidak menghakimi menjadi bagian penting dalam membangun peran tersebut.

Dalam membangun komunikasi, orang tua juga diajak untuk mengubah kebiasaan dari sekadar mendengarkan untuk memberikan jawaban menjadi mendengarkan untuk memahami. Komunikasi yang aman memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pengalaman dan emosinya. Namun, menjadi safe adult bukan berarti bersikap permisif. Orang tua tetap perlu menetapkan batas dan konsekuensi secara jelas, dengan cara yang hangat dan konsisten.


Nurul juga memperkenalkan sejumlah kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga, seperti menyediakan waktu untuk hadir penuh tanpa gawai, mengakui emosi anak, membantu anak memahami situasi dan pilihan yang tersedia, menetapkan batas tanpa mempermalukan, serta melakukan check-in secara rutin. Kebiasaan tersebut dapat membantu membangun hubungan yang lebih aman dan suportif antara orang tua dan anak.

Selain hubungan orang tua dan anak, ketahanan keluarga juga membutuhkan keterlibatan kedua orang tua sebagai tim. Materi menekankan bahwa kesehatan mental anak bukan hanya tanggung jawab ibu. Kerja sama pengasuhan atau coparenting turut berkaitan dengan regulasi emosi dan perilaku prososial anak, sementara konflik antarorang tua dapat menempatkan anak dalam posisi yang sulit.

Melalui kegiatan ini, CPMH Fakultas Psikologi UGM mendorong orang tua untuk membangun keluarga sebagai tempat yang aman bagi anak untuk bertumbuh, menghadapi kesulitan, dan memperbaiki kesalahan. Keluarga tidak harus mampu menghapus seluruh masalah yang dihadapi anak. Yang lebih penting adalah memastikan anak memiliki tempat untuk pulang, merasa aman, dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.

Tags: pengasuhan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

  • Kesehatan Jiwa di Gunungkidul Jadi Perhatian, CPMH Fakultas Psikologi UGM Dorong Penguatan TPKJM
  • Film Harmoni: Healing Together Diputar di Italia, Angkat Kolaborasi Kesehatan Mental dan Agama
  • Judi Online di Lingkungan Kerja: Dampak Psikologis dan Pentingnya Deteksi Dini
  • CPMH UGM dan Dinkes Sleman Perkuat Edukasi Kesehatan Mental melalui Program P3LP di Pesantren
  • Bukan Hanya Psikolog dan Psikiater: Mengenal Peran Perawat dalam Layanan Kesehatan Mental
Universitas Gadjah Mada

Center for Public Mental Health
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Gedung D Lantai 6 Ruang D-603
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
Email: cpmh@ugm.ac.id
Telepon: +62 274 550435 ext. 145
WhatsApp/sms: +62 8132 739 5698

Media Sosial:
Instagram: @cpmhugm

X: @cpmhugm
Facebook: CPMH Psikologi UGM
Threads: @cpmhugm
LinkedIn: Center for Public Mental Health UGM
YouTube: CPMH Psi UGM

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY