Setiap keluarga tumbuh dalam konteks budaya yang berbeda. Nilai, tradisi, agama, serta pandangan mengenai peran orang tua dan anak turut membentuk bagaimana pengasuhan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tersebut juga terlihat antara masyarakat Asia dan Barat. Dalam masyarakat yang dikategorikan sebagai WEIRD (Western, Educated, Industrialised, Rich, Democratic), misalnya, nilai individualisme cenderung lebih ditekankan. Sementara itu, masyarakat Asia, seperti Tiongkok, lebih banyak menanamkan nilai-nilai kolektivisme dan kehidupan bersama dalam pengasuhan anak. Temuan He et al. (2021) menunjukkan bahwa perbedaan nilai budaya tersebut turut membentuk kognisi dan praktik pengasuhan orang tua.
Lantas, apa yang sebenarnya membentuk sebuah keluarga di Asia? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam International Summer Course on Psychology (ISCP) 2026 yang diselenggarakan oleh Center for Public Mental Health (CPMH). Pada Senin (25/8), CPMH menghadirkan Prof. Florrie Fei Yin Ng, pakar psikologi keluarga dari The Chinese University of Hong Kong, sebagai salah satu narasumber dalam rangkaian summer course yang mengangkat tema “Turning a House into a Home: Understanding and Responding to Toxic Parenting in Asian Contexts”. Sesi ini dimoderatori oleh Dr. Acintya Ratna Priwati, S.Psi., M.A., dosen Fakultas Psikologi UGM.
Dalam sesi tersebut, Prof. Florrie menjelaskan bahwa pembentukan gaya pengasuhan orang tua di Asia tidak terlepas dari pengaruh agama dan sistem gender. Kedua aspek tersebut, menurutnya, turut membentuk bagaimana orang tua memandang peran mereka dalam keluarga, termasuk dalam mendidik dan mengarahkan perilaku anak.

Prof. Florrie, yang merupakan alumni University of Birmingham, juga menekankan pentingnya tanggung jawab orang tua terhadap perkembangan perilaku anak di masa depan. Dalam konteks masyarakat Asia, pengajaran nilai-nilai agama dan sistem tradisional menjadi bagian yang turut mewarnai praktik pengasuhan dari generasi ke generasi.
Pembahasan tersebut kemudian berkembang menjadi diskusi yang intens dan melibatkan peserta secara aktif. Bagi CPMH, keterlibatan peserta menunjukkan bahwa pembahasan mengenai keluarga dan pengasuhan tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya tempat keluarga tersebut tumbuh. Memahami keluarga Asia dengan segala nilai dan dinamika yang menyertainya menjadi penting agar pembahasan mengenai pengasuhan tidak semata-mata menggunakan satu perspektif budaya.
Di akhir sesi, Prof. Florrie mengingatkan bahwa proses tumbuh kembang anak tidak berlangsung hanya dalam relasi antara orang tua dan anak, tetapi juga melibatkan lingkungan sosial yang lebih luas. “It takes a village to raise a child; it takes the whole family and community to make them grow,” pungkasnya.
Melalui sesi ini, CPMH mengajak peserta ISCP 2026 untuk melihat keluarga bukan sebagai entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari lingkungan sosial dan budaya yang terus membentuk anggotanya. Dengan memahami nilai-nilai yang membentuk keluarga di Asia, upaya mengubah house menjadi home dapat dilakukan dengan lebih kontekstual—menjadikan keluarga bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang bagi anak dan seluruh anggotanya untuk tumbuh, berkembang, dan membangun kesehatan mental yang lebih baik.
Penulis: Putu Mahatma Satria Wibawa
Editor: Nurul Hidayati
Referensi
He, H., Usami, S., Rikimaru, Y., & Jiang, L. (2021). Cultural Roots of Parenting: Mothers’ Parental Social Cognitions and Practices From Western US and Shanghai/China. Frontiers in Psychology, 12, 565040. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.565040