Akses terhadap layanan dukungan kesehatan mental masih menjadi tantangan bagi remaja di Indonesia. Hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa hanya 2,6% remaja berusia 10–17 tahun yang mengalami masalah kesehatan mental mengakses layanan dukungan atau konseling untuk masalah emosional dan perilaku dalam 12 bulan terakhir. Temuan ini menunjukkan pentingnya meningkatkan literasi kesehatan mental serta kemampuan masyarakat untuk mengenali tekanan psikologis dan memberikan dukungan awal kepada orang yang membutuhkan.
Upaya memperkuat pemahaman tersebut turut dilakukan melalui kegiatan Cek Kesehatan Gratis dan Promosi Kesehatan Jiwa Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) di Pondok Pesantren Minggir Gus Muwafiq, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, pada Senin, 5 Oktober 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman ini diikuti oleh 100 peserta dan menghadirkan Nurul Kusuma Hidayati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai narasumber.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengembangan program P3LP di lingkungan pesantren yang tengah dikerjakan CPMH UGM bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Sebelumnya, CPMH dan Kemenkes RI telah berkolaborasi mengembangkan buku saku P3LP serta menyelenggarakan pelatihan bagi berbagai jenjang pendidikan formal, mulai dari TK/PAUD, SD/MI, SMP/SMA, hingga perguruan tinggi.

Buku saku tersebut disusun sebagai panduan praktis untuk membantu first aider atau penolong pertama mengenali dan memberikan pertolongan awal ketika seseorang mengalami luka psikologis. Materinya disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan karakteristik sasaran, sehingga dapat digunakan untuk mendukung upaya pertolongan awal di lingkungan pendidikan. Buku saku P3LP untuk berbagai jenjang tersebut dapat diakses melalui laman resmi Ayo Sehat Kemenkes RI.
Pengembangan program di lingkungan pesantren menjadi langkah lanjutan untuk memperluas edukasi dan penerapan P3LP di luar sekolah umum. Dengan karakteristik kehidupan pesantren yang melibatkan interaksi sehari-hari antara santri, pengasuh, pendidik, dan komunitas sekitarnya, pemahaman mengenai kesehatan mental serta keterampilan memberikan dukungan awal menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang suportif.
Dalam pemaparannya, Nurul menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi yang dinamis dan dapat berubah seiring dengan pengalaman serta situasi yang dihadapi individu. Ia menekankan pentingnya memahami perbedaan antara stres, tekanan psikologis (psychological distress), masalah kesehatan mental, dan gangguan mental.
Stres merupakan respons individu terhadap tuntutan atau perubahan yang dihadapi dan dapat membantu proses adaptasi. Namun, tekanan psikologis yang berkepanjangan atau semakin berat dapat memengaruhi kondisi emosional dan keberfungsian individu dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk mengenali kondisi yang dialami tanpa terburu-buru memberikan label atau diagnosis.
Nurul juga menjelaskan bahwa setiap individu memiliki tingkat kerentanan yang berbeda dalam menghadapi tekanan. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor risiko, faktor protektif, serta resiliensi atau daya lenting dalam menghadapi kesulitan. Faktor risiko dapat meningkatkan kerentanan seseorang, sedangkan faktor protektif dapat membantu menjaga kesejahteraan psikologis dan mendukung proses pemulihan.
Berbagai pengalaman dapat memengaruhi kesehatan mental, antara lain konflik keluarga, kehilangan orang terdekat, kekerasan, perundungan (bullying), hingga tekanan untuk mencapai kesempurnaan. Kondisi tersebut menegaskan bahwa kesehatan mental perlu dipahami secara menyeluruh dan tidak semata-mata dinilai berdasarkan ada atau tidaknya diagnosis gangguan mental.
“Sehat jiwa bukan sekadar tentang ada atau tidak adanya gangguan jiwa. Seorang yang tidak memiliki gangguan jiwa belum tentu sehat jiwa,” jelas Nurul.
Pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak menyederhanakan kesehatan mental sebagai kondisi yang hanya berkaitan dengan gangguan jiwa. Kesejahteraan psikologis juga mencakup kemampuan mengelola emosi, menghadapi tekanan, menjalankan aktivitas sehari-hari, dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Dalam menghadapi permasalahan psikologis, masyarakat juga perlu menghindari diagnosis mandiri (self-diagnosis) berdasarkan informasi yang belum tentu akurat. Dukungan dari orang-orang terdekat dapat menjadi langkah awal yang berarti. Namun, apabila masalah yang dialami mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau membutuhkan penanganan lebih lanjut, bantuan tenaga profesional perlu dipertimbangkan.
Melalui pengembangan P3LP di lingkungan pesantren, CPMH UGM bersama Kemenkes RI berupaya memperluas jangkauan edukasi pertolongan awal pada luka psikologis. Kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dalam kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai kesehatan mental, mendorong kepedulian terhadap kondisi psikologis diri sendiri dan orang lain, serta memperkuat kesadaran untuk mencari bantuan yang tepat ketika dibutuhkan.
Penulis: Fanysa Naura Husnia
Editor: Nurul Hidayati