Cara orang tua mengasuh anak tidak terbentuk dalam ruang hampa. Nilai, norma, kondisi sosial, dan budaya turut memengaruhi bagaimana orang tua memberikan perhatian, menetapkan batasan, mendisiplinkan, serta mendukung perkembangan anak. World Health Organization (WHO) menempatkan pengasuhan responsif sebagai salah satu unsur penting dalam nurturing care, yaitu pengasuhan yang memungkinkan anak merasa aman, memperoleh kesempatan belajar, serta berkembang secara optimal. WHO juga menegaskan bahwa keluarga menjadi pihak utama yang menyediakan pengasuhan tersebut pada masa awal kehidupan anak.
Pada hari keempat pelaksanaan International Short Course on Psychology (ISCP) 2026 yang dilaksanakan Kamis, 27 Agustus 2026 Center for Public Mental Health (CPMH) yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting dengan mengusung tema “Turning a House Into a Home: Understanding and Responding to Toxic Parenting in Asian Contexts”. Kesempatan kali ini membahas tentang modul ketiga yaitu Parenting Accross Asia and Indonesia. Kegiatan kali ini merupakan salah satu upaya upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bagaimana pengaruh sebuah budaya dapat mempengaruhi pola asuh yang diberikan oleh orang tua kepada anak.
Kegiatan ini mengundang salah satu dosen dari Chiang Mai University Thailand yakni Dr. Saengduean Yotanayamaneewong yang membahas bagaimana pola asuh orang tua di negara Thailand, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., Psikolog dari LPDK Kemuning Kembar Indonesia yang membahas bagaimana masyarakat Jawa dalam mengasuh anak, dan Tesi Hermaleni, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Universitas Negeri Padang Indonesia yang membahas bagaimana pola asuh matriarki berpengaruh kepada anak.

Pada pemaparan pertama, Dr. Saengduean Yotanayamaneewong mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan orang tua dapat memengaruhi cara mereka dalam menghadapi dan mendampingi anak. Orang tua dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki lebih banyak pengetahuan dan strategi dalam merespons berbagai tantangan pengasuhan, termasuk ketika menghadapi perilaku remaja. “Semakin baik pengetahuan dan pemahaman orang tua, semakin besar pula kemampuan mereka dalam mendampingi anak menghadapi berbagai tantangan pada masa remaja,” ungkap Dr. Saengduean. Kemampuan tersebut dapat membantu orang tua membangun komunikasi dan hubungan yang lebih harmonis dengan anak. Lingkungan keluarga yang harmonis kemudian dapat menjadi salah satu faktor yang melindungi remaja dari munculnya perilaku kenakalan atau delinquency..
Selanjutnya, beralih kepada narasumber kedua, yakni Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., Psikolog, yang menjelaskan bahwa parenting atau pengasuhan merupakan proses yang berlangsung secara terus-menerus, di mana orang tua atau pengasuh berperan dalam merawat, melindungi, membimbing, serta membantu anak belajar berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. “Pengasuhan bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dasar anak, tetapi juga bagaimana orang tua mendampingi proses tumbuh kembang anak secara menyeluruh,” jelas Dr. Indria. Pengasuhan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga mencakup kebutuhan perkembangan anak secara fisik, emosional, sosial, dan kognitif.

Narasumber terakhir pada kesempatan ISCP 2026, Tesi Hermaleni, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa parenting atau pengasuhan merupakan proses yang berlangsung secara berkelanjutan dalam kehidupan anak. Dalam proses tersebut, orang tua maupun pengasuh memiliki peran untuk merawat, melindungi, membimbing, dan membantu anak mengembangkan kemampuan bersosialisasi, sekaligus memenuhi kebutuhan perkembangannya. “Parenting is an ongoing process through which parents or other caregivers nurture, protect, guide, and socialise children, meet their developmental needs, and prepare them to manage the tasks of life within their familial, social, and cultural contexts,” jelas Tesi Hermaleni. Melalui pengasuhan yang berlangsung secara konsisten, anak dipersiapkan untuk menghadapi berbagai tugas dan tantangan kehidupan dengan tetap mempertimbangkan konteks keluarga, sosial, dan budaya tempat mereka tumbuh dan berkembang.
ISCP 2026 hari keempat ini, CPMH berharap dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya memahami pengasuhan dalam konteks lintas budaya. Kegiatan ini memberikan wawasan bahwa pola asuh dapat dipengaruhi oleh nilai, norma, pendidikan, serta budaya yang berkembang dalam keluarga dan masyarakat. Melalui pemahaman tersebut, peserta diharapkan dapat melihat keberagaman praktik pengasuhan secara lebih terbuka dan kontekstual, sekaligus menerapkan pola asuh yang mampu mendukung perkembangan anak secara optimal dengan tetap menghargai nilai-nilai budaya yang dimiliki.
Penulis: Fanysa Naura Husnia
Editor: Nurul Hidayati