Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM bekerja sama dengan Health Promoting University (HPU) UGM kembali mengadakan Kuliah Online #72 bertajuk “Capek Fisik, Capek Mental: Ngobrolin Lelah Kerja & Cara Mengatasinya” pada Jumat, 8 Mei 2026 melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB dan diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari freelancer, ASN dari berbagai instansi, hingga karyawan swasta.
Tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu kelelahan kerja dan burnout semakin dekat dengan pengalaman masyarakat sehari-hari. Sejak awal hingga akhir sesi, peserta tampak aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait tekanan kerja, kesehatan mental, hingga cara menjaga keseimbangan hidup di tengah tuntutan pekerjaan.
Kuliah Online ini menghadirkan Edwin Maulana dan Galuh Setia Winahyu, M.Psi., Psikolog sebagai narasumber. Keduanya membahas burnout dari sisi yang berbeda, yaitu pengalaman personal sebagai pekerja dan perspektif psikologis.
Pada sesi pertama, Edwin Maulana mengulas berbagai situasi yang dapat memicu kelelahan fisik dan mental, serta dampaknya terhadap kehidupan kerja maupun personal. Ia menekankan pentingnya memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami kondisi fisik dan emosional yang sedang dialami.
Menurut Edwin, menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana seperti memanfaatkan waktu luang untuk refreshing dan menjalani hobi, membuat batasan yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta mengoptimalkan support system yang tersedia di lingkungan kerja. Ia juga menyampaikan pentingnya mencari bantuan profesional ketika diperlukan, seperti berkonsultasi dengan psikolog atau melakukan terapi medis untuk keluhan fisik tertentu.
Selain itu, Edwin membagikan berbagai cara sederhana yang membantunya menghadapi tekanan, mulai dari berbagi cerita dengan teman, mendekatkan diri kepada Tuhan, hingga mencari ketenangan melalui alam. “Tidak semua hal bisa kita kendalikan. Fokus ke yang bisa kita kendalikan, sisanya serahkan ke Yang Maha Kuasa,” ujar Edwin.
Sementara itu, pada sesi kedua, Galuh Setia Winahyu, M.Psi., Psikolog membahas burnout kerja dari perspektif psikologi. Ia menjelaskan bahwa burnout merupakan proses psikologis jangka panjang akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan (job demands) dan sumber daya psikologis individu (job resources).
Galuh menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan yang terlalu tinggi dapat berupa beban kerja berlebih, tekanan waktu, konflik peran, tuntutan emosional, hingga ekspektasi performa yang terus meningkat. Di sisi lain, rendahnya job resources seperti kurangnya dukungan sosial, rendahnya kontrol terhadap pekerjaan, ketidakjelasan karier, dan hubungan kerja yang tidak sehat dapat memperbesar risiko burnout.
Ia juga menjelaskan bahwa seseorang dapat dikatakan mengalami burnout apabila muncul tiga dimensi utama secara bersamaan, yaitu kelelahan emosional (emotional exhaustion), sikap sinis atau menjauh dari pekerjaan (depersonalization/cynicism), serta menurunnya rasa pencapaian diri (reduced personal accomplishment).
“Tiga hal ini harus muncul untuk seseorang bisa dikatakan mengalami burnout,” jelas Galuh. Ia menambahkan bahwa stres kerja sebenarnya masih dapat dikelola apabila individu memiliki job resources yang cukup. “Stres ini kalau kita bisa mengelola ini dan mempertahankan job resources, maka akan aman. Jika tidak, maka bisa menyebabkan burnout,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, CPMH UGM berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan kerja, mengenali tanda-tanda burnout sejak dini, serta membangun budaya kerja yang lebih sehat, suportif, dan humanis.
Penulis: Nurul Hidayati