• Tentang CPMH
  • Media
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Psikologi
Center for Public Mental Health
  • TENTANG KAMI
    • TENTANG CPMH
    • Visi dan Misi
    • LANGKAH GERAK
    • MITRA
    • Tim Kami
  • AKTIVITAS
    • Advokasi
    • Kuliah Online (Kulon)
    • Mindtenance
    • Mindspiration
    • LAIN-LAIN
  • SUMMER COURSE
    • 2026
    • 2025
    • 2024
    • 2023
    • 2017-2022
  • ARTIKEL PSIKOEDUKASI
  • E-LIBRARY
  • Beranda
  • Kuliah Online
  • Menjadi Tempat Aman bagi Remaja Berawal dari Cara Kita Mendengarkan

Menjadi Tempat Aman bagi Remaja Berawal dari Cara Kita Mendengarkan

  • Kuliah Online, Rilis
  • 27 July 2026, 12.57
  • Oleh: CPMH
  • 0

Remaja membutuhkan hubungan yang hangat dan komunikasi yang terbuka dengan orang dewasa di sekitarnya sebagai fondasi bagi kesehatan mental dan perkembangan sosial emosionalnya. UNICEF menekankan bahwa komunikasi yang penuh empati merupakan salah satu kunci dalam membangun kesejahteraan mental remaja. Sebaliknya, ketika remaja merasa tidak didengarkan atau perasaannya diabaikan, mereka cenderung enggan untuk kembali bercerita. Oleh karena itu, kemampuan orang tua maupun orang dewasa untuk mendengarkan dengan empatik menjadi bekal penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi remaja.

Sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dengan remaja, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Kuliah Online #77 bertajuk “Menjadi Tempat Aman bagi Remaja untuk Bercerita” pada Senin (27/7) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan yang terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya ini diikuti oleh 80 peserta dari berbagai latar belakang. Mengacu pada buku How to Talk So Teens Will Listen & Listen So Teens Will Talk, kuliah online menghadirkan Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog dan Wirdatul Anisa, M.Psi., Psikolog sebagai narasumber, dengan dimoderatori oleh Nurul Hidayati.

Pada sesi pertama, Nurul Kusuma Hidayati mengajak peserta memahami bagaimana menjadi sosok yang nyaman bagi remaja untuk berbagi cerita. Ia membahas berbagai strategi dalam menghadapi perasaan anak, delapan cara mengajak anak bekerja sama, disiplin yang berorientasi pada pendidikan alih-alih hukuman, hingga pendekatan working it out together untuk menyelesaikan permasalahan bersama. Menurut Nurul, komunikasi yang baik dimulai dengan kemampuan memahami emosi anak sebelum memberikan solusi. “Ucapkan dulu apa yang ingin didengar oleh anak,” ujar Nurul ketika menjelaskan pentingnya menunjukkan empati, terutama saat emosi anak sedang berada pada intensitas yang tinggi.

Selanjutnya, Wirdatul Anisa membahas pentingnya komunikasi empatik dalam membantu remaja mengenali dan mengelola emosinya. Melalui berbagai contoh kasus, peserta diajak mempelajari cara menyelesaikan masalah bersama-sama, mengenali perasaan melalui komunikasi empatik, menerapkan rumus komunikasi yang efektif, serta merefleksikan suara hati remaja agar orang dewasa dapat lebih memahami perspektif mereka. Selain itu, Wirdatul juga menekankan pentingnya mengungkapkan apresiasi dalam interaksi sehari-hari. “Sering kali kita melewatkan untuk memberi apresiasi. Bisa jadi karena kita tumbuh di lingkungan yang tidak terbiasa mengungkapkan apresiasi. Sedangkan anak tidak akan tahu apa yang dirasakan orang lain jika tidak disampaikan,” ujar Wirdatul.

Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung aktif sepanjang kegiatan. Berbagai pertanyaan diajukan oleh peserta yang berasal dari beragam latar belakang, mulai dari orang tua, mahasiswa, pendidik, hingga masyarakat umum. Hal ini menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap pentingnya membangun komunikasi yang sehat dengan remaja di tengah berbagai tantangan perkembangan yang mereka hadapi.

Melalui Kuliah Online #77 ini, CPMH berharap semakin banyak orang tua, pendidik, dan masyarakat memahami bahwa menjadi tempat aman bagi remaja tidak selalu berarti memiliki jawaban atas setiap persoalan mereka. Sebagaimana ditekankan UNICEF mengenai pentingnya komunikasi yang empatik bagi kesejahteraan mental remaja, kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi, memvalidasi perasaan, dan mendampingi mereka dalam mencari solusi merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar. Dengan membangun komunikasi yang hangat dan penuh empati, setiap orang dapat berkontribusi menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang serta kesehatan mental remaja.

Tags: Kesehatan Mental Remaja Komunikasi Remaja SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDGs

Berita Terbaru

  • CPMH Fakultas Psikologi UGM Bekali Volunter untuk Mendampingi Keluarga dengan Anak Cerebral Palsy
  • Perkuat Kapasitas Guru BK dalam Memberikan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis, CPMH Berkontribusi dalam Orientasi Nasional P3LP
  • Mahasiswa Generasi Z Berbeda, Bagaimana Dosen Perlu Beradaptasi?
  • Menjadi Tempat Aman bagi Remaja Berawal dari Cara Kita Mendengarkan
  • Mindspiration #2: Memahami Gangguan Bipolar dan Pentingnya Dukungan bagi Penyintas
Universitas Gadjah Mada

Center for Public Mental Health
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Gedung D Lantai 6 Ruang D-610
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Indonesia
cpmh.psikologi[at]ugm.ac.id
+62 (274) 550435 (hunting)
+62 (274) 550435 ext 100

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY