Indonesia memiliki sekitar 46 juta remaja atau sekitar 17% dari total populasi. Dalam laporan WHO tahun 2024, gangguan kecemasan termasuk salah satu penyebab utama disability-adjusted life years (DALYs) pada remaja di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan yang dapat membantu remaja menghadapi berbagai tekanan selama masa perkembangannya, termasuk dukungan yang hadir dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam sesi “Menjadi Teman Aman bagi Remaja” yang disampaikan oleh Wirdatul Anisa, M.Psi., Psikolog, dari Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Rabu, 9 September 2026. Sesi ini merupakan bagian dari Program Kelas Parenting Online bertema “Rumah sebagai Ruang Aman: Peran Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak & Remaja” yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UGM. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh ASN Kota Yogyakarta serta masyarakat umum.
Dalam sesi tersebut, Wirdatul mengajak orang tua untuk melihat kembali posisi rumah dalam kehidupan remaja. Orang tua memang tidak dapat menghilangkan seluruh masalah yang dihadapi anak, mengendalikan pengaruh lingkungan maupun media sosial, atau memastikan anak selalu mengambil keputusan yang tepat. Namun, orang tua dapat menciptakan rumah sebagai tempat yang aman bagi anak untuk bercerita.
Menurut Wirdatul, remaja lebih membutuhkan orang tua yang bersedia mendengarkan sebelum mengarahkan. Respons berupa bantahan, penghakiman, mengecilkan masalah, atau terlalu cepat memberikan solusi dapat membuat anak merasa tidak dipahami dan akhirnya enggan bercerita. Sebaliknya, mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui perilaku anak, melainkan menunjukkan bahwa orang tua memahami alasan di balik perasaan yang sedang dialami anak.
“Koneksi sebelum koreksi, bangun koneksi sebelum mengoreksi anak-anak kita. Remaja masih memerlukan waktu untuk berkembang dibandingkan kita. Mereka sedang belajar, berkembang, kita perlu hadir, mengarahkan, membimbing, menuntun,” tutur Wirdatul.

Dalam membangun komunikasi yang empatik, orang tua dapat mulai dengan respons sederhana, seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, mengungkapkan kembali pikiran atau perasaan yang mungkin sedang dialami anak, serta menerima perasaannya sembari tetap memberikan arahan. Dengan pendekatan tersebut, anak dapat merasa didengar tanpa berarti seluruh keinginannya harus dipenuhi.
Wirdatul juga menekankan bahwa empati tetap dapat berjalan bersama dengan batasan dan nilai keluarga. Anak perlu mengetahui bahwa perasaannya diterima, sementara perilakunya tetap dapat diarahkan. Nasihat pun tetap penting, tetapi akan lebih mudah diterima ketika anak terlebih dahulu merasa didengarkan dan dipahami.
CPMH melihat bahwa hubungan yang aman antara orang tua dan anak dibangun melalui percakapan-percakapan kecil sehari-hari. Ketika anak merasa bahwa orang tuanya merupakan tempat yang aman untuk berbicara, mereka akan lebih mungkin kembali kepada orang tua ketika menghadapi tekanan, kebingungan, melakukan kesalahan, atau membutuhkan dukungan.
Melalui kegiatan ini, CPMH Fakultas Psikologi UGM mendorong orang tua untuk terus mengembangkan keterampilan komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Menjadi teman aman bagi remaja bukan berarti menjadi orang tua yang selalu memiliki jawaban, melainkan hadir sebagai sosok yang mau mendengarkan sebelum menghakimi, memahami sebelum menasihati, dan tetap membimbing anak dalam proses tumbuh kembangnya.