Sebagai bagian dari upaya pencegahan meningkatnya kasus bunuh diri, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan pakar pencegahan bunuh diri Dr. Erminia Colucci (Middlesex University, London, Inggris) melakukan penelitian menggunakan metode delphi untuk mengumpulkan pendapat dan rekomendasi para ahli kesehatan jiwa di Indonesia terkait dengan tanda-tanda bunuh diri serta pendekatan yang dapat dilakukan oleh penolong pertama ketika mendapati adanya percobaan bunuh diri. Hasil penelitian tersebut memiliki beberapa luaran, salah satunya adalah Pedoman Pertolongan Pertama Psikologis pada Upaya Bunuh Diri yang terdiri dari versi Bahasa Indonesia dan versi Bahasa Inggris.
Kesehatan mental anak perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya ketika anak sudah menunjukkan masalah. Data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining pada periode 2025–2026, hampir 10 persen menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa. Sebanyak 4,4 persen anak menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi.
Disclaimer: Istirahat sejenak jika muncul rasa tidak nyaman saat membaca artikel ini. Hubungi psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan terdekat jika Anda atau orang sekitar Anda memiliki pikiran mengakhiri hidup.
Keluarga idealnya menjadi ruang yang memberikan rasa aman bagi setiap anggotanya untuk bertumbuh, beristirahat, dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi tekanan. Namun, keluarga juga dapat menjadi ruang terjadinya kekerasan apabila relasi di dalamnya tidak dibangun dengan aman. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat 1.152 korban kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani jejaring layanan sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, 43% merupakan kasus kekerasan dalam rumah tangga, dengan kekerasan terhadap istri menjadi jenis kekerasan yang paling banyak tercatat, yaitu 421 korban.
Kesehatan mental merupakan isu global yang membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada layanan klinis, tetapi juga mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan pengalaman hidup individu. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa pada 2023 hampir 1,2 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental, sementara sebagian besar belum memperoleh akses terhadap layanan yang efektif. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan sistem dukungan kesehatan mental yang dapat menjangkau kebutuhan individu dalam konteks kehidupan dan komunitasnya.
Tekanan untuk berhasil dapat menjadi bagian dari pengalaman tumbuh anak dan remaja. Survei UNICEF terhadap anak muda di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai anak-anak saat ini menghadapi tekanan untuk berhasil yang lebih besar dibandingkan generasi orang tua mereka ketika tumbuh dewasa. Survei yang sama juga menemukan bahwa 29 persen anak muda Indonesia mengatakan mereka sering merasa tertekan atau kehilangan minat untuk melakukan berbagai hal. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya lingkungan pengasuhan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk berkembang, mengenali potensinya, dan membangun ketangguhan.
Kelompok usia 15–24 tahun menjadi kelompok dengan prevalensi depresi tertinggi di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, yaitu sebesar 2 persen. Pada kelompok yang berstatus sebagai mahasiswa, proporsi depresi tercatat sebesar 2,1 persen. Data tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental pada masa transisi menuju dan selama menjalani pendidikan tinggi.
Kemampuan menulis merupakan salah satu keterampilan yang penting bagi mahasiswa, terutama dalam mendukung kegiatan akademik. Selama menjalani perkuliahan, menulis menjadi bagian dari keseharian mahasiswa, baik dalam mengerjakan tugas akademik maupun menyampaikan gagasan secara tertulis.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut intervensi psikologis berbasis bukti sebagai bagian penting dari layanan kesehatan, sosial, perlindungan, dan pendidikan. WHO juga mencatat bahwa banyak intervensi psikologis telah memiliki bukti efektivitas pada berbagai konteks dan populasi. Sementara itu, American Psychological Association (APA) menempatkan evidence-based practice in psychology sebagai integrasi antara bukti penelitian terbaik yang tersedia, keahlian klinis, serta karakteristik, budaya, dan preferensi individu yang menerima layanan.
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membawa perubahan pada cara anak belajar, berinteraksi, dan memperoleh informasi. UNICEF menyoroti bahwa perkembangan AI menghadirkan peluang sekaligus risiko baru bagi anak, termasuk dalam proses belajar dan kehidupan sosial mereka. Karena itu, pemanfaatan AI dalam pendidikan perlu disertai pendampingan agar teknologi tetap mendukung perkembangan anak secara utuh.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi di Indonesia tercatat sebesar 1,4%, dengan prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok usia muda 15–24 tahun, yaitu sebesar 2%. Data tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap lingkungan terdekat anak dan remaja, termasuk keluarga, dalam mendukung kesehatan mental serta kemampuan mereka menghadapi berbagai tekanan selama masa perkembangan.