Kehadiran dan keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang serta kesejahteraan psikologis anak. Data Profil Anak Indonesia 2025 menunjukkan bahwa pada 2024, interaksi orang tua dan anak masih banyak berlangsung melalui aktivitas bersama, seperti makan bersama (86,18%) dan mengobrol (78,44%). Data tersebut menggambarkan bahwa interaksi sehari-hari menjadi salah satu ruang penting bagi keluarga untuk membangun kedekatan. Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dasar, keluarga juga memiliki peran dalam memberikan kasih sayang, rasa aman, perlindungan, dan dukungan emosional yang dibutuhkan anak untuk berkembang secara optimal.
Pentingnya peran keluarga tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam International Short Course on Psychology (ISCP) 2026 yang diselenggarakan oleh Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Pada Jumat (28/8), memasuki hari keenam pelaksanaan, ISCP mengangkat modul keempat, Toward Healthy Family: Individual, Family, and System, secara tatap muka di Fakultas Psikologi UGM. Sesi ini menghadirkan Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc.Psy., Ph.D., Psikolog, dari UGM, serta Dr. Hanan Dover dari PsychCentral Australia sebagai narasumber.
Melalui modul tersebut, CPMH mengajak peserta melihat kesehatan keluarga dari tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu kondisi individu, relasi antaranggota keluarga, serta dukungan dari sistem dan lingkungan sosial. Diana membahas jaringan dukungan dan layanan yang dapat bekerja sama dalam membantu keluarga menghadapi berbagai persoalan. Sementara itu, Hanan mengangkat dua tema, yakni What the Individual Can Do: Surviving Vulnerabilities, yang membahas cara individu menghadapi kerentanan dan membangun ketahanan diri, serta What Families Can Do: Building Strength Together, yang menyoroti kekuatan keluarga dalam menghadapi tantangan secara bersama-sama.
Sesi pertama yang disampaikan Diana menyoroti ketahanan keluarga sebagai hasil dari kontribusi seluruh anggotanya. Ketahanan tidak semestinya ditempatkan sebagai beban salah satu pihak, melainkan dibangun melalui kerja sama yang memungkinkan setiap anggota keluarga berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif.
“Ketahanan keluarga bukanlah tanggung jawab satu pihak, melainkan sinergi tanpa bias gender demi melahirkan generasi masa depan yang tangguh dan terlindungi,” ujar Diana.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keluarga yang sehat membutuhkan pembagian peran dan dukungan yang tidak dibatasi oleh stereotip gender. Ketika setiap anggota memiliki ruang untuk berkontribusi dan saling mendukung, keluarga memiliki sumber daya yang lebih kuat untuk menghadapi tekanan sekaligus melindungi kesejahteraan anggotanya.

Dari ketahanan keluarga, pembahasan berlanjut pada pengalaman individu dalam menghadapi kerentanan. Hanan menyoroti psikologi disosiasi dan pentingnya memperhatikan kekerasan emosional yang kerap tidak terlihat secara langsung. Berbeda dengan kekerasan fisik yang umumnya lebih mudah dikenali, emotional abuse dapat hadir melalui perilaku yang meninggalkan luka psikologis tanpa menimbulkan tanda fisik yang kasatmata. “The biggest serious problem for dissociation psychology is neglect of emotional abuse,” tegas Hanan.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengabaian terhadap kekerasan emosional dapat membuat pengalaman yang dialami individu luput dari perhatian. Karena itu, mengenali bentuk-bentuk emotional abuse menjadi langkah penting dalam memahami persoalan psikologis, termasuk pengalaman yang berkaitan dengan disosiasi.
Hanan juga membahas psychological maltreatment, yaitu perlakuan buruk yang berdampak pada kondisi psikologis seseorang, seperti penghinaan, ancaman, penolakan, atau pengabaian emosional. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan mental sekaligus cara individu membangun hubungan dengan orang lain. “Psychological maltreatment predicted depression, anxiety, social anxiety, and attachment problems,” tutur Hanan.

Paparan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman buruk dalam relasi keluarga tidak berhenti pada situasi yang terjadi saat itu, tetapi dapat berkaitan dengan berbagai persoalan psikologis dalam kehidupan individu. Oleh karena itu, membangun keluarga yang sehat juga berarti menciptakan relasi yang mampu memberikan rasa aman, menghargai pengalaman emosional setiap anggota, serta mencegah berbagai bentuk perlakuan yang dapat melukai secara psikologis.
Rangkaian sesi Toward Healthy Family: Individual, Family, and System memperluas pemahaman peserta bahwa ketahanan keluarga tidak berdiri sendiri. Kondisi individu, kualitas hubungan di dalam keluarga, serta keberadaan sistem pendukung di lingkungan sosial saling memengaruhi. Ketika salah satu unsur menghadapi persoalan, dukungan dari unsur lainnya dapat menjadi sumber kekuatan untuk membantu keluarga melewati situasi sulit.
Bagi CPMH, perspektif tersebut menjadi penting dalam upaya membangun pemahaman bahwa kesehatan keluarga bukan hanya tentang tidak adanya konflik atau masalah, melainkan kemampuan setiap anggotanya untuk saling memberikan dukungan dan menciptakan lingkungan yang aman. Data mengenai tingginya interaksi orang tua dan anak menunjukkan bahwa keluarga memiliki ruang yang besar untuk membangun kedekatan melalui aktivitas sehari-hari. Melalui ISCP 2026, CPMH mendorong agar ruang interaksi tersebut tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun relasi yang hangat, responsif, dan mampu melindungi kesehatan mental setiap anggota keluarga.
Penulis: Fanysa Naura Husnia
Editor: Nurul Hidayati