Gangguan bipolar merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati, energi, dan tingkat aktivitas secara ekstrem sehingga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Berdasarkan National Institute of Mental Health (NIMH), sekitar 2,8% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami gangguan bipolar setiap tahunnya, dan 82,9% di antaranya mengalami gangguan fungsi yang serius. Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati biasa, melainkan kondisi yang memerlukan penanganan profesional agar tidak mengganggu kualitas hidup penderitanya.
Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi menyelenggarakan sebuah program baru bernama Mindspiration yang merupakan podcast bersama bintang tamu yang relevan pada tema yang akan dibahas. Melanjutkan pada kesempatan Mindspiration #1, pada kesempatan Mindspiration #2 kali ini juga mengangkat tema BIPOLAR DAN AKU: Menjalani Hidup di Antara Dua Kutub yang dapat diakses secara gratis melalui laman YouTube CPMH Psi UGM. Podcast ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan CPMH untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental khususnya tentang gangguan bipolar.
Podcast kali ini menghadirkan bintang tamu yakni Hanisa Arina Zahra yang akrab dipanggil Ica, mahasiswi lulusan Fakultas Psikologi UGM tahun 2022 yang saat ini aktif terlibat dalam asisten kegiatan di CPMH UGM, Sekretaris KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia) Simpul Yogyakarta, dan Bipolar Community Yogyakarta, yang dipandu oleh Nurul Hidayati sebagai host. Dalam poscast tersebut, narasumber menceritakan bagaimana awal mula terdiagnosa bipolar dan bagaimana menjalani kegiatan sehari-harinya sebagai penyintas bipolar.
Dalam kesempatan podcast kali ini, Ica mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh penyintas gangguan bipolar adalah stigma. Menurutnya, stigma tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar yang masih memiliki pemahaman keliru mengenai gangguan mental, tetapi juga dapat muncul dari dalam diri penyintas sendiri. “Stigma itu tidak hanya datang dari orang lain, tetapi juga bisa berasal dari diri sendiri,” ujarnya. Stigma internal tersebut dapat membuat seseorang merasa malu, menyalahkan diri sendiri, enggan mencari pertolongan, hingga merasa tidak layak untuk pulih.
Selain membahas stigma, Ica juga menekankan bahwa dukungan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam proses pemulihan penyintas bipolar. Ia mengaku bersyukur karena dikelilingi oleh keluarga yang memiliki pemahaman yang baik mengenai kesehatan mental, sehingga mampu memberikan dukungan emosional tanpa menghakimi. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kehadiran keluarga yang memberikan empati, validasi, dan dukungan secara konsisten dapat menjadi salah satu faktor penting dalam membantu penyintas membangun harapan serta mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan mental di masyarakat, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM terus menghadirkan program Mindspiration sebagai ruang edukasi yang membahas berbagai isu kesehatan mental. Melalui pengalaman yang dibagikan oleh bintang tamu kali ini, CPMH berharap masyarakat dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai gangguan bipolar, mengurangi stigma terhadap penyintas, serta menyadari pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sosial dalam proses pemulihan.
Penulis: Fanysa Naura Husnia
Editor: Nurul Hidayati