Meningkatnya tuntutan akademik, sosial, dan ekspektasi terhadap diri sendiri menjadikan kesehatan mental remaja sebagai isu yang semakin penting untuk mendapat perhatian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun di dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Depresi dan gangguan kecemasan menjadi penyebab utama disabilitas pada kelompok usia tersebut. Sementara itu, Indonesia memiliki sekitar 46 juta penduduk usia remaja, dengan gangguan kecemasan menjadi salah satu penyebab utama hilangnya kualitas hidup pada kelompok ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang dialami remaja bukanlah persoalan yang dapat dianggap sepele, sehingga diperlukan berbagai upaya edukasi untuk meningkatkan literasi kesehatan mental.
Sebagai bentuk kontribusi dalam meningkatkan literasi kesehatan mental remaja, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi dalam talkshow yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta dengan tema “Break The Pressure: Seni Berdamai dengan Realita, Tumbuh Tanpa Luka” pada Kamis (16/7) di Ruang Pertemuan SMP Negeri 8 Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 50 siswa SMP Negeri 8 Yogyakarta dan menghadirkan Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog sebagai narasumber dari CPMH UGM.
Dalam sesi bertajuk “Break The Pressure: It’s Okay Not to Be Okay, Seni Berdamai dengan Ekspektasi”, narasumber mengajak peserta memahami bahwa setiap individu memiliki beban dan pergumulannya masing-masing yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Rasa takut, kecewa, sedih, kesepian, tekanan, hingga overthinking merupakan pengalaman emosional yang wajar dan dapat dialami siapa saja. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk menumbuhkan empati dan menciptakan lingkungan yang aman serta suportif bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.

Pada kesempatan tersebut, Nurul juga menyampaikan bahwa, “Di antara apa yang terjadi kepada kita dan bagaimana kita meresponsnya, ada sebuah jeda. Di dalam jeda itu, tersimpan kebebasan untuk memilih akan seperti apa respons kita.” Menurutnya, pesan tersebut mengingatkan bahwa seseorang mungkin tidak selalu dapat mengendalikan apa yang terjadi dalam hidup, tetapi selalu memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana meresponsnya. Dengan memberi jeda sebelum bereaksi, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih bijaksana dan sehat secara emosional.
Selain itu, peserta diajak mengenali berbagai sumber tekanan yang umum dialami remaja, mulai dari tuntutan akademik, ekspektasi sosial, hubungan dengan teman maupun keluarga, hingga tekanan yang berasal dari diri sendiri. Melalui pemahaman tersebut, diharapkan para peserta semakin menyadari bahwa setiap orang memiliki tantangan yang berbeda sehingga mampu mengurangi stigma terhadap isu kesehatan mental dan lebih berani memberikan dukungan kepada teman atau orang di sekitarnya yang sedang mengalami kesulitan. Pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah bahwa tidak apa-apa untuk tidak selalu merasa baik-baik saja, serta bahwa mencari bantuan merupakan langkah yang wajar dan penting dalam menjaga kesehatan mental.
Melalui kegiatan ini, CPMH Fakultas Psikologi UGM menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan edukasi kesehatan mental berbasis ilmu pengetahuan, khususnya bagi remaja. Upaya tersebut merupakan bagian dari kontribusi CPMH UGM dalam meningkatkan literasi kesehatan mental, membangun ketahanan psikologis remaja dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih peduli, suportif, dan bebas stigma terhadap isu kesehatan mental.
Penulis: Fanysa Naura Husnia
Editor: Nurul Hidayati