Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas diri. UNICEF menekankan bahwa kesehatan mental yang baik membantu remaja belajar secara optimal, membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, serta mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Oleh karena itu, penguatan konsep diri dan ketahanan psikologis menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang remaja, terutama ketika memasuki lingkungan pendidikan yang baru dan menghadapi berbagai tantangan akademik maupun sosial.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kesehatan mental remaja, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada berpartisipasi dalam Seminar Who Am I yang diselenggarakan oleh SMA Budi Mulia Dua Yogyakarta pada Jumat (17/7). Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Welcoming Days bagi peserta didik baru kelas X ini diikuti oleh 61 siswa dan menghadirkan narasumber dari CPMH, Tri Aji Wicaksono, S.Psi., Psikolog.
Mengawali pemaparannya, Tri Aji mengajak peserta memahami konsep diri sebagai cara seseorang memandang dan menilai dirinya sendiri. Ia menjelaskan bahwa setiap individu memiliki konsep diri yang dapat berkembang secara positif maupun negatif, bergantung pada pengalaman hidup, lingkungan, dan cara seseorang memaknai dirinya.
Tri Aji kemudian mengaitkan konsep diri dengan kriteria kesehatan mental menurut World Health Organization (WHO), yang salah satunya adalah kemampuan individu untuk mengenali potensi yang dimilikinya. Menurutnya, kesadaran terhadap kekuatan dan keterbatasan diri menjadi bekal penting bagi remaja untuk menghadapi berbagai perubahan serta tantangan selama menjalani kehidupan di bangku SMA. “Konsep diri seseorang dapat berkaitan dengan beberapa hal seperti kompetensi, rupa fisik, penerimaan lingkungan, pertemanan dekat, hubungan romantik, dan perilaku atau moral,” ujar Tri Aji.
Untuk membantu peserta memahami dirinya secara lebih mendalam, Tri Aji memperkenalkan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats). Melalui pendekatan ini, siswa diajak mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, sekaligus melihat peluang yang dapat dimanfaatkan serta tantangan yang mungkin dihadapi selama menempuh pendidikan di lingkungan yang baru.
Selain itu, peserta juga dikenalkan pada konsep faktor protektif dan faktor risiko dalam kesehatan mental. Tri Aji menjelaskan bahwa setiap individu memiliki faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko mengalami masalah kesehatan mental maupun faktor yang dapat melindungi dirinya dari berbagai tekanan. Pemahaman mengenai kedua hal tersebut menjadi penting, khususnya bagi siswa baru yang sedang beradaptasi dengan lingkungan, teman, dan tuntutan akademik yang berbeda dari sebelumnya. Dengan mengenali kondisi diri, siswa diharapkan dapat memperkuat faktor-faktor protektif, seperti membangun relasi yang sehat, mencari dukungan ketika menghadapi kesulitan, serta mengembangkan kemampuan mengelola emosi.
Melalui kegiatan ini, CPMH berharap para siswa tidak hanya lebih siap menjalani masa transisi ke jenjang SMA, tetapi juga memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri. Sejalan dengan penekanan UNICEF mengenai pentingnya kesehatan mental bagi perkembangan dan kemampuan adaptasi remaja, penguatan konsep diri melalui pengenalan potensi, faktor risiko, serta faktor protektif diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk menjalani masa sekolah dengan lebih percaya diri, tangguh, dan sehat secara mental.