Penggunaan gadget dan media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari remaja di seluruh dunia. Namun, laporan terbaru World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah pada remaja meningkat dari 7% pada tahun 2018 menjadi 11% pada tahun 2022. Laporan yang melibatkan hampir 280.000 remaja di 44 negara tersebut juga menemukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan menurunnya kesejahteraan mental dan sosial, serta meningkatnya risiko kecemasan, depresi, hingga penurunan prestasi akademik. Kondisi ini menunjukkan pentingnya meningkatkan literasi digital agar remaja mampu memanfaatkan teknologi secara sehat, kritis, dan bertanggung jawab.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan mental dan kesadaran akan penggunaan teknologi secara bijak, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMA Masa Depan Yogyakarta melalui sesi bertajuk “Meet the Maestro: How Gadget Affect Our Life” pada Jumat (17/7/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 50 siswa SMA Masa Depan Yogyakarta dengan menghadirkan Nurul Hidayati dari CPMH UGM sebagai narasumber.
Nurul mengawali sesi dengan menyampaikan, “The successful people are not always the smartest. Often, they are the people who can stay focused the longest.” Kutipan tersebut menekankan bahwa kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh tingkat kecerdasan seseorang, tetapi juga oleh kemampuannya mempertahankan fokus dalam jangka waktu yang panjang. Di tengah pesatnya arus informasi dan berbagai distraksi digital, kemampuan untuk tetap berkonsentrasi menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi muda.
Dalam sesi tersebut, narasumber mengajak peserta untuk memandang teknologi dari sudut pandang yang lebih kritis. Teknologi dijelaskan sebagai salah satu inovasi terbesar dalam dunia pendidikan karena mampu memberikan akses terhadap berbagai sumber belajar hanya melalui satu perangkat digital. Namun demikian, muncul pertanyaan penting yang perlu direnungkan, yaitu apakah manusia mampu mengendalikan teknologi atau justru teknologi yang mengendalikan manusia. Peserta diajak memahami bahwa gawai dapat menjadi sarana yang mempercepat proses belajar bagi mereka yang memiliki kemauan untuk berkembang. Sebaliknya, penggunaan yang tidak bijaksana dapat memperkuat kebiasaan menunda pekerjaan serta mengurangi kemampuan berpikir secara mendalam.

Selain membahas manfaat teknologi, narasumber juga menjelaskan mekanisme psikologis yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari penggunaan gadget. Media sosial, misalnya, dirancang menggunakan sistem variable reward, yaitu pemberian imbalan yang tidak dapat diprediksi sehingga memicu rasa penasaran dan mendorong pengguna untuk terus membuka aplikasi. Pola ini dapat berdampak pada menurunnya kemampuan fokus, meningkatnya kebiasaan mencari stimulasi instan, hingga munculnya kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Sebagai langkah pencegahan, peserta didorong untuk membangun digital intelligence dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat yang mendukung proses berpikir, memilih konten yang lebih berkualitas, serta memperbanyak aktivitas produktif dibandingkan sekadar mengonsumsi konten digital.
Melalui kegiatan ini, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM berkomitmen untuk terus menghadirkan edukasi yang relevan dengan tantangan kesehatan mental di era digital. Upaya tersebut merupakan bagian dari kontribusi CPMH UGM dalam meningkatkan literasi kesehatan mental sekaligus memperkuat literasi digital di kalangan remaja. Dengan kemampuan menggunakan teknologi secara sehat, kritis, dan bertanggung jawab, diharapkan generasi muda dapat memperoleh manfaat optimal dari perkembangan teknologi tanpa mengabaikan kesehatan mental, kesejahteraan sosial, maupun prestasi akademik.
Penulis: Fanysa Naura Husnia
Editor: Nurul Hidayati