Tekanan untuk berhasil dapat menjadi bagian dari pengalaman tumbuh anak dan remaja. Survei UNICEF terhadap anak muda di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai anak-anak saat ini menghadapi tekanan untuk berhasil yang lebih besar dibandingkan generasi orang tua mereka ketika tumbuh dewasa. Survei yang sama juga menemukan bahwa 29 persen anak muda Indonesia mengatakan mereka sering merasa tertekan atau kehilangan minat untuk melakukan berbagai hal. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya lingkungan pengasuhan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk berkembang, mengenali potensinya, dan membangun ketangguhan.
Kuliah Online
Setiap kematian akibat bunuh diri tidak hanya berdampak pada individu yang meninggal, tetapi juga meninggalkan dampak jangka panjang bagi keluarga, teman, dan komunitas yang ditinggalkan. World Health Organization (WHO) mencatat lebih dari 720.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun di dunia. WHO juga menekankan bahwa dampak bunuh diri meluas kepada orang-orang yang kehilangan orang terdekat, sehingga dukungan bagi mereka yang berduka menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan penanganan bunuh diri.
Pentingnya pengasuhan yang baik tercermin dalam data UNICEF yang menunjukkan bahwa sekitar empat dari sepuluh anak usia 2–4 tahun di dunia belum mendapatkan interaksi responsif atau stimulasi yang cukup di rumah. Selain itu, lebih dari 80 juta anak usia 2–4 tahun, atau sekitar satu dari lima anak secara global, tidak bermain bersama pengasuhnya di rumah. Padahal, interaksi melalui bermain, berkomunikasi, dan memberikan respons terhadap kebutuhan anak merupakan bagian penting dalam mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Hal ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang menekankan pentingnya responsive caregiving, yaitu kemampuan orang tua atau pengasuh untuk memahami dan merespons kebutuhan anak secara tepat.
Remaja membutuhkan hubungan yang hangat dan komunikasi yang terbuka dengan orang dewasa di sekitarnya sebagai fondasi bagi kesehatan mental dan perkembangan sosial emosionalnya. UNICEF menekankan bahwa komunikasi yang penuh empati merupakan salah satu kunci dalam membangun kesejahteraan mental remaja. Sebaliknya, ketika remaja merasa tidak didengarkan atau perasaannya diabaikan, mereka cenderung enggan untuk kembali bercerita. Oleh karena itu, kemampuan orang tua maupun orang dewasa untuk mendengarkan dengan empatik menjadi bekal penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi remaja.
Kemampuan mengenali dan mengelola emosi merupakan fondasi penting bagi kesehatan mental dan perkembangan anak. Namun, tantangan pada aspek ini masih menjadi perhatian global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh anak dan remaja mengalami gangguan kesehatan mental, sementara Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam mendukung perkembangan emosi anak sejak dini.
Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan rangkaian Kuliah Online (Kulon) melalui kegiatan Kuliah Online #75: “From Risk to Resilience: Healing not Hiding” pada Jumat (26/6) yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting.
Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM menyelenggarakan Kuliah Online (Kulon) pada Jumat, 12 Juni 2026. Acara ini terbuka untuk umum secara gratis melalui Zoom Meeting dengan mengangkat tema “Tetap Bermakna di Usia Senja: Memahami dan Mendukung Kesejahteraan Lansia”. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan CPMH untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesejahteraan lansia, termasuk berbagai faktor yang memengaruhi kualitas hidup, kesehatan mental, serta kebermaknaan hidup di usia senja.
Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi menyelenggarakan Kuliah Online CPMH #73 secara gratis pada Jumat, 22 Mei 2026 melalui Zoom Meeting dengan tema Di Balik Label ‘Generasi Rapuh’: Memahami Tekanan dan Kesehatan Mental Remaja Masa Kini. Kegiatan yang diikuti oleh 70 peserta ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan CPMH untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental remaja serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih suportif bagi perkembangan remaja masa kini.
Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM bekerja sama dengan Health Promoting University (HPU) UGM kembali mengadakan Kuliah Online #72 bertajuk “Capek Fisik, Capek Mental: Ngobrolin Lelah Kerja & Cara Mengatasinya” pada Jumat, 8 Mei 2026 melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB dan diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari freelancer, ASN dari berbagai instansi, hingga karyawan swasta.
Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM kembali menggelar agenda rutinnya, Kuliah Online (Kulon), yang kini memasuki edisi ke-71. Mengusung tema “Pelan-Pelan Tenang: Cara Sehat Mengelola Cemas”, kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Jumat pagi (24/4), pukul 09.00–10.30 WIB dan dimoderatori oleh Marsha Prifirani, S.Psi.