Setiap keluarga tumbuh dalam konteks budaya yang berbeda. Nilai, tradisi, agama, serta pandangan mengenai peran orang tua dan anak turut membentuk bagaimana pengasuhan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tersebut juga terlihat antara masyarakat Asia dan Barat. Dalam masyarakat yang dikategorikan sebagai WEIRD (Western, Educated, Industrialised, Rich, Democratic), misalnya, nilai individualisme cenderung lebih ditekankan. Sementara itu, masyarakat Asia, seperti Tiongkok, lebih banyak menanamkan nilai-nilai kolektivisme dan kehidupan bersama dalam pengasuhan anak. Temuan He et al. (2021) menunjukkan bahwa perbedaan nilai budaya tersebut turut membentuk kognisi dan praktik pengasuhan orang tua.
SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Di balik dinding rumah yang tampak hangat, krisis kesehatan mental dapat menjadi beban tak kasatmata yang dirasakan bersama oleh anak, remaja, hingga orang tua. Laporan The State of the World’s Children 2021: On My Mind yang diterbitkan UNICEF pada 2021 menunjukkan bahwa satu dari tujuh remaja di dunia hidup dengan gangguan emosional. Pada usia tersebut, sebagian besar remaja masih tinggal bersama keluarga, yang idealnya menjadi tempat aman untuk pulang, bertumbuh, dan memperoleh dukungan. Karena itu, keluarga sebagai kelompok sosial pertama tempat individu bernaung memiliki peran penting dalam membentuk dan menjaga kesehatan mental setiap anggotanya.
Pentingnya pengasuhan yang baik tercermin dalam data UNICEF yang menunjukkan bahwa sekitar empat dari sepuluh anak usia 2–4 tahun di dunia belum mendapatkan interaksi responsif atau stimulasi yang cukup di rumah. Selain itu, lebih dari 80 juta anak usia 2–4 tahun, atau sekitar satu dari lima anak secara global, tidak bermain bersama pengasuhnya di rumah. Padahal, interaksi melalui bermain, berkomunikasi, dan memberikan respons terhadap kebutuhan anak merupakan bagian penting dalam mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Hal ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang menekankan pentingnya responsive caregiving, yaitu kemampuan orang tua atau pengasuh untuk memahami dan merespons kebutuhan anak secara tepat.
Cerebral palsy (CP) merupakan salah satu kondisi yang dapat memengaruhi perkembangan gerak, postur, komunikasi, hingga aktivitas sehari-hari anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan prevalensi cerebral palsy secara global berada pada kisaran 1,5 hingga lebih dari 4 kasus per 1.000 kelahiran hidup, dengan angka keseluruhan sekitar 2 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang pernah dilaporkan menunjukkan prevalensi cerebral palsy sebesar 0,09% pada anak usia 24–59 bulan. Meskipun demikian, data mengenai cerebral palsy di Indonesia masih terbatas sehingga dukungan yang melibatkan keluarga dan lingkungan sosial menjadi penting untuk membantu anak berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.
Sekolah memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mental peserta didik karena menjadi lingkungan tempat mereka belajar, berkembang, dan berinteraksi setiap hari. UNESCO melalui Global Status Report on School Health and Nutrition 2025 menekankan bahwa sekolah perlu menjadi lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung kesejahteraan peserta didik melalui kolaborasi seluruh warga sekolah, keluarga, dan komunitas. Oleh karena itu, penguatan kapasitas tenaga pendidik, termasuk guru Bimbingan dan Konseling (BK), menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun sistem dukungan kesehatan mental di sekolah.
Generasi Z kini menjadi kelompok usia yang mendominasi lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 27,94% penduduk Indonesia merupakan Generasi Z, yaitu mereka yang lahir pada periode 1997–2012. Sebagai generasi yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, mereka memiliki karakteristik, gaya belajar, serta pola komunikasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kondisi ini mendorong pendidik untuk terus mengembangkan strategi pembelajaran yang adaptif agar proses belajar tetap efektif sekaligus mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Remaja membutuhkan hubungan yang hangat dan komunikasi yang terbuka dengan orang dewasa di sekitarnya sebagai fondasi bagi kesehatan mental dan perkembangan sosial emosionalnya. UNICEF menekankan bahwa komunikasi yang penuh empati merupakan salah satu kunci dalam membangun kesejahteraan mental remaja. Sebaliknya, ketika remaja merasa tidak didengarkan atau perasaannya diabaikan, mereka cenderung enggan untuk kembali bercerita. Oleh karena itu, kemampuan orang tua maupun orang dewasa untuk mendengarkan dengan empatik menjadi bekal penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi remaja.
Gangguan bipolar merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati, energi, dan tingkat aktivitas secara ekstrem sehingga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Berdasarkan National Institute of Mental Health (NIMH), sekitar 2,8% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami gangguan bipolar setiap tahunnya, dan 82,9% di antaranya mengalami gangguan fungsi yang serius. Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati biasa, melainkan kondisi yang memerlukan penanganan profesional agar tidak mengganggu kualitas hidup penderitanya.
Hampir setiap orang yang mengalami situasi darurat atau krisis akan merasakan tekanan psikologis, meskipun sebagian besar dapat pulih seiring waktu apabila memperoleh dukungan yang tepat. Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan Psychological First Aid (PFA) sebagai bentuk dukungan awal yang bersifat manusiawi, suportif, dan praktis bagi individu yang sedang mengalami tekanan akibat peristiwa krisis. PFA tidak dimaksudkan sebagai terapi, melainkan pertolongan pertama psikologis yang membantu seseorang merasa lebih aman, tenang, serta terhubung dengan bantuan yang dibutuhkan.
Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas diri. UNICEF menekankan bahwa kesehatan mental yang baik membantu remaja belajar secara optimal, membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, serta mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Oleh karena itu, penguatan konsep diri dan ketahanan psikologis menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang remaja, terutama ketika memasuki lingkungan pendidikan yang baru dan menghadapi berbagai tantangan akademik maupun sosial.